Laporkan Masalah

AN INSTITUTIONAL ANALYSIS OF INTEGRATED RIVER BASIN MANAGEMENT: THE CASE OF KEDUANG AND KETONGGO RIVERS IN THE BENGAWAN SOLO SUB BASIN, INDONESIA

NURUL HASANA SOFYANTHI AWUY, Ir. Leksono Probo Subanu, MURP.,Ph.D.

2012 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Pengelolaan daerah aliran sungai terpadu tidak dapat dihindari sebagai salah satu cara untuk mencegah adanya permasalahan dan konflik untuk memnuhi kebutuhan hidup manusia. Daerah aliran sungai merupakan satu sistem perairan yang kompleks dimana dibatasi oleh garis hodrologi bukan oleh garis batas politik administrasi. Oleh karena itu, pengelolaan daerah aliran sungai dapat dijelaskan juga sebagai satu proses yang menggabungkan teknik konservasi alam, pengelolaan dan pembangunan tanah dan sumber daya air yang dapat melewati garis batas administrasi dalam satu daerah aliran sungai. Hal ini dilakukan juga dalam rangka meningkatkan sosial ekonomi masyarakat selaras dengan perlindungan ekosistem perairan. Keterpaduan dalam pengelolaan daerah air sungai dapat dijelaskan sebagai satu bentuk jejaring sosial yang efektif antar stakeholder terkait. Teori jejaring sosial sangat dibutuhkan dalam memahami pengelolaan daerah aliran sungai terpadu khususnya dalam kaitannya dengan hubungan antar aktor yang berkecimpung di dalam sistem tersebut. Bentuk kemitraan menawarkan satu forum kelembagaan dimana multi-kebijakan dari bermacam stakeholder dapat membahas bentuk perencanaan yang strategis untuk sumber daya air yang dimaksud. Pengelolaan daerah aliran sungai terpadu terbukti efektif dalam meningkatkan komunikasi, koordinasi dan pertukaran informasi antar stakeholder, membangun sebuah forum untuk mengakomodasi bermacam kepentingan dan pandangan. Di lain pihak, pengelolaan daerah aliran sungai secara tradisional menunjukkan kurangnya komunikasi, koordinasi dan pertukaran informasi antar stakeholder. Di sistem ini, forum yang digunakan untuk pertukaran informasi, komunikasi dan resolusi konflik itu sendiri juga tidak terbentuk. Pada saat kita membandingan hasil penelitian antar kedua sistem pengelolaan tersebut maka akan terlihat perbedaan yang cukup signifikan pada perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai sebagai hasil dari kebijakan pengelolaan sumberdaya alam. Pengelolaan daerah aliran sungai terpadu mampu melindungi jumlah hutan yang ada. Sistem pengelolaan ini juga mampu meningkatkan kewaspadaan dan kemauan masyarakat tentang pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan. Dengan kata lain, penanganan secara tradisional kurang efektif karena hanya bertujuan pada jumlah hasil produksi tanpa mempertimbangkan kaidah lingkungan. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya jumlah hutan yang signifikan. Secara garis besar, tingkat kewaspadaan dan kemauan masyarakat di program pengelolaan daerah aliran sungai terpadu untuk ikut mengkonservasi daerah aliran sungai lebih tinggi daripada yang melakukan sistem tradisional.

Integrated river basin approaches are indispensable in order to prevent problems and conflicts and to meet social and natural demands. River basin is a complex system which is bordered by hydrological and not political boundaries. Therefore, integrated river basin management can be defined as a process of coordinating conservation, management, and development of water, land, and related resources across political sectors within a given river basin, in order to maximize the economic and social benefit derived from water resources in an equitable manner while preserving and, where necessary, restoring fresh water ecosystems. The integration of river basin management can be also explained as an effective social network among its stakeholders. Social network theory is important to understand integrated river basin management, especially on the relationship among stakeholders. These partnerships offer an institutional forum in which multiple policy stakeholders in discussing and negotiating river basin management plans. The integrated river basin management is successful to increase the communication and coordination and exchange of information among stakeholders, build a forum to accommodate various interests and views. On the other hand, the traditional river basin management showed less communication and coordination and exchange information among stakeholders. There, the forum of information sharing and communication and conflict resolution among stakeholders did not exist. When we compare the institutional performance results between those two river basins management, there is a significant difference about the use of land of river basin area. The integrated river basin management succeeds to conserve the forest area. The increase of people’s awareness and willingness about environment consideration contributed to the stable of forest area. However, the traditional river basin management indicated an ineffective performance based on ecology purpose because the forest area decreased lost. The people’s awareness and willingness to conserve the river basin area is lower than the integrated river basin management area.

Kata Kunci : Institutional Analysis, Social Network, River Basin, Ketonggo River, Keduang River


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.