KAJIAN PENGENDALIAN SEDIMENTASI DI WADUK PB. SOEDIRMAN DENGAN BANGUNAN PENGENDALI SEDIMEN DAN PENGATURAN TATA GUNA LAHAN
Chandra Setyawan, Prof. Ir. Djoko Legono, Ph.D.
2012 | Tesis | S2 Teknik SipilWaduk Panglima Besar Soedirman (PB. Soedirman) terletak di wilayah Kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah Indonesia. Waduk tersebut merupakan aset strategis yang berperan dalam penyediaan air untuk berbagai kebutuhan. Saat ini waduk mengalami masalah sedimentasi akibat penggunaan lahan untuk pertanian secara berlebihan di daerah tangkapan (cathment area). Upaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan Bangunan Pengendali Sedimen (BPS) belum bisa mengatasi sedimentasi secara signifikan karena produksi sedimen (sediment yield) semakin besar. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui signifikansi pengendalian sedimentasi dengan pembangunan BPS dan pengaturan tata guna lahan. VIEW GIS mengg Signifikansi pengendalian sedimentasi dengan BPS dan pengaturan tata guna lahan disimulasi melalui beberapa skenario dengan memperhitungkan faktor waktu dan kemampuan merealisasikannya. Beberapa skenario tersebut adalah pembangunan BPS sebanyak 20 unit dan pengaturan tata guna lahan dengan mengubah penutupan vegetasi permanen pada kondisi eksisting sebesar 11% menjadi 30% untuk 15 tahun kedepan yaitu tahun 2011 sampai dengan tahun 2025. Perhitungan sedimentasi menggunakan persamaan regresi dan formula Meyer-Peter and Müller, sedangkan erosi dihitung menggunakan persamaan USLE dengan perangkat lunak (soft ware) ARC unakan data-data pada tahun 2001-2010. Hasil menunjukan bahwa pengendalian sedimentasi dengan pengaturan tata guna lahan memberikan hasil yang lebih signifikan dari pada pengendalian menggunakan BPS. Pembangunan BPS sejumlah 1-2 unit pertahun, mampu menurunkan sedimentasi sekitar 51 ribu m3/tahun, sedangkan peningkatan penutupan vegetasi permanen sebesar 1,26 % per tahun mampu menurunkan sedimentasi sebesar 216 ribu m3 per tahun. Pengendalian sedimentasi dengan pengaturan tata guna lahan saja memerlukan penutupan vegetasi permanen sebesar 46 % dari total luas daerah tangkapan dan dengan menggunakan BPS saja memerlukan 27 BPS per tahun.
Panglima Besar Soedirman (PB. Soedirman) Reservoir located in District Banjarnegara Central Java Indonesia. The reservoir is a strategic asset that play a role in the provision of water for various needs. Currently the reservoir conditions experiencing problems sedimentation due to the use of land for farming to excess in the cathment area. Efforts to resolve the issue with Sediment Control Building (BPS) has not been able to overcome significant sedimentation because sediment yield increases. The study was conducted to determine the significance of controlling sedimentation by BPS and land use arrangement. Significance of sedimentation control with BPS and land use arrangement simulated through several scenarios taking into account the time factor and the ability realize. Several scenarios are construction of 20 units BPS and land-use arrangement by changing the permanent vegetation cover from the existing condition 11% to 30% for 15 years in 2011 until 2025. Calculation of sedimentation using regression equations and formulas Meyer-Peter and Müller, while erosion is calculated using the USLE equation with the software ARC VIEW GIS and data in the year 2001-2010. require 46% The results showed that the control of sedimentation by land use arrangement gives more significant results than the control using the BPS. Construction of BPS 1-2 units per year, able to reduce sedimentation around 51 thousand m3/year, whereas an increase of permanent vegetation cover about 1.26% per year can reduce the sedimentation 216 thousand m3 per year. Sedimentation control by land use arrangement only permanent vegetation cover of the total catchment area and by using the BPS only requires 27 unit per year.
Kata Kunci : sedimentasi, bangunan pengendali sedimen, erosi, tata guna lahan