RESPON INDONESIA TERHADAP ACFTA : PRO KONTRA WACANA RENEGOSIASI
Elisabeth Kartikasari, Ririn Tri Nurhayati,
2011 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan InternasionalPenelitian ini ditujukan untuk menganalisa respon Indonesia perihal pelaksanaan ACFTA disikapi secara berbeda. Respon ini merujuk pada wacana renegosiasi kesepakatan ACFTA yang kemudian memunculkan perdebatan antar aktor dari kalangan pemerintah, asosiasi industri lembaga perwakilan rakyat serta lingkungan peneliti baik yang mendukung maupun yang menolak. Penelitian ini bertumpu pada dua pertanyaan utama yaitu untuk mengetahui aspek-aspek yang menjadi perdebatan argumen dari aktor yang pro dan kontra wacana renegosiasi ACFTA. Dengan mengetahui aspek-aspek yang diperdebatkan maka muncul pertanyaan lanjutan yang akan mengarah pada latar belakang perdebatan pro kontra wacana renegosiasi ACFTA di Indonesia diantara aktor yang berkepentingan. Prinsip-prinsip Neoliberalisme dan Keynesianisme akan menjadi pendekatan yang digunakan sebagai alat untuk menganalisa perdebatan wacana renegosiasi Asean China Free Trade Agreement dalam lingkup domestik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan data yang diperoleh dari buku teks, jurnal, artikel koran dan online. Data sekunder berupa wawancara dari aktor-aktor terkait diolah dari artikel di media massa. Selanjutnya, penelitian ini menemukan bahwa perbedaan argumen dari masing-masing kelompok aktor yang dikelompokkan menjadi tiga aspek yaitu ekonomi, politik, dan bidang sosial. Aktor yang pro renegosiasi didasari pada prinsip-prinsip Keynesianisme yang beranggapan bahwa dalam kondisi yang cenderung merugi, negara harus lebih berperan dalam melindungi pelaku industri dalam negeri sedang aktor yang kontra renegosiasi berpendapat ACFTA sebagai upaya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penguatan kawasan ASEAN. Perbedaan pandangan dalam melihat ACFTA ini terletak pada peran negara dalam menyikapi ACFTA, perbedaan kepentingan ekonomi dan perbedaan orientasi politik dari aktor-aktor yang terlibat dalam kesepakatan ACFTA.
This research is aimed to analyze Indonesia’s response to ACFTA implementation that is perceived differently. This response refers to the consideration to renegotiate ACFTA agreement which then caused some debates among actors from the government, industry associations, the Legislative Assembly, and also researchers, both supportive and unsupportive to ACFTA renegotiation. Moreover, this study is based on two main questions, which are to find the aspects that become the debating arguments of ACFTA renegotiation pros and cons’ actors. By acknowledging the debating aspects, then appears advanced question that will lead to the background of ACFTA renegotiation pros and cons in Indonesia among the parties involved. Neo liberalism and Keynesianism principles will be used and the approach as a tool to analyze the debates on ASEAN China Free Trade Agreement renegotiation domestically. This research used qualitative method by using the data gathered from text books, journals, and newspaper and online articles. The secondary data are in the form of actors interviews processed from the media’s articles. Furthermore, this research found out that the different arguments from each actor group are divided into three aspects which include economic, political, and social. Pro renegotiation actors are based on the Keynesianism principles that argued that in loss condition, the state should have bigger role in protecting the local industry’s actors. On the contrary, actors who refuse renegotiation argued that ACFTA is the attempt to accelerate the economic growth and strengthen ASEAN area. Then, the different in seeing ACFTA’s point of views are stated at state’s role in perceiving ACFTA, the difference of economic interest and also the difference politic orientation from the actors’ involved in ACFTA agreement.
Kata Kunci : Asean China Free Trade Agreement, Wacana Renegosiasi, Neoliberalisme, Keynesianisme