Laporkan Masalah

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK PEMUKIMAN MENGGUNAKAN METODE SPATIAL MULTI CRITERIA EVALUATION UNTUK KAWASAN IBUKOTA KABUPATEN KUPANG, PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Frederik Kiuk, ST, Dr.Catur Aries Rochmana,ST,MT,

2012 | Tesis | S2 Teknik Geomatika

Penataan kawasan Oelamasi yang berfungsi sebagai kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Kupang saat ini merupakan hal penting dalam upaya menyelaraskan fungsi dan kapasitas kawasan guna mendukung kegiatan pemerintah maupun masyarakat. Langkah strategis dalam upaya penataan dan pengembangan kawasan baru tersebut dapat dilakukan melalui analisis kesesuaian lahan yang merupakan cara tepat mengetahui kesesuaian lahan untuk berbagai penggunaan termasuk untuk pengembangan pemukiman. Analisis ini ditujukan untuk mengidentifikasi lokasi yang sesuai untuk dikembangkan sebagai tempat pemukiman dan bangunan gedung serta mengevaluasi kesesuaian rencana alokasi lahan untuk pemukiman yang tertuang dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Ibukota Kabupaten Kupang. Kajian ini menggunakan metode Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) yakni metode yang mengintegrasikan prosedur pengolahan data spasial berbasis raster dalam Sistem Informasi Geografis dan metode evaluasi kriteria jamak (Multi Criteria Evaluation) yang telah diimplementasikan dalam modul SMCE ILWIS 3.3 Academic. Prosedur utama dalam metode ini adalah menentukan kriteria dan parameter yang digunakan untuk menganalisis kesesuaian lahan, membentuk struktur analisis, pembobotan kriteria analisis, standarisasi nilai peta parameter dan menghitung tingkat kesesuaian lahan dalam bentuk indek komposit kesesuaian lahan. Penelitian ini hanya mempertimbangkan aspek fisik lahan yang dikelompokkan dalam lima kriteria utama yakni : (1) Keamanan lokasi, (2) Perlindungan lahan pertanian dan hutan (3) Aksesibilitas lokasi dan fasilitas pendukung pemukiman (4) Ketersediaan air tanah (5) Kemudahan proses pengembangan, serta tiga belas sub-kriteria dan mempertimbangkan lima faktor pembatas pengembangan karena hambatan alamiah maupun ketentuan perundang-undangan (constraints factor). Semakin tinggi nilai komposit indeks suatu lokasi menunjukkan bahwa semakin potensial lokasi tersebut untuk pengembangan pemukiman. Peta sebaran lokasi potensial yang dihasilkan selanjutnya diperbandingkan terhadap rencana alokasi lahan pemukiman dalam RUTR untuk mengetahui ketepatan alokasi lahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa 75.280.300m 2 atau 33,34% dari total area Kawasan Oelamasi dapat digunakan untuk pemukiman dan bangunan gedung. Sedangkan prosentase jumlah piksel yang tidak memenuhi syarat tiap BWK dalam area rencana alokasi lahan untuk pemukiman yakni BWK I: 54%, BWK II: 46%, BWK III:27%, BWK IV:32%, BWK V:76%. Ketidaktepatan pengalokasian lahan ini disebabkan karena pengalokasian lahan untuk pemukiman dalam RUTR Ibu kota Kabupaten Kupang, belum mempertimbangkan obyek yang termasuk dalam constraint factor seperti sempadan sungai, aspek kelerengan, rawa, areal pertanian dan hutan.

Structuring Oelamasi region that serves as central government of Kupang regency is now more in the effort to harmonize the functions and capabilities in the region to support the activities of government and society. Strategic step in an effort to structuring and developing new areas can be done by analyzing land suitability, which is an excellent way to determine the suitability of land for different uses, including residential development. This analysis aims to identify sites to be developed which are suitable for settlement as well as to assess the suitability of land for the settlement allocation plan set forth in the General Plan of the Capital Territory (RUTR) of Kupang Regency. This study uses a Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE) methods that integrate spatial data processing procedure in a raster based on geographic information systems and multiple criteria of evaluation methods (Multi Criteria Evaluation) which was implemented in SMCE module, ILWIS 3.3 Academic. The main procedures in this method is to determine the criteria and parameters to be used in analyzing the adequacy of land, forming a structure analysis, weighting of criteria for analysis, normalizing of the value of the map data and calculating the level of suitability of land in the form of composite index of land suitability. This study considers only the physical aspects of the land , grouped into five main criteria: (1) The safety of location (2) The protection of farmland and forests (3) The accessibility and location of facilities Residential (4) The availability of groundwater (5) Ease of development process, as well as thirteen sub-criteria, and consider five factors limiting the development because of natural obstacles, and statutory provisions (constraint factor). The higher value of a composite index shows the more potential for residential development. The generated potential sites distribution map subsequently was compared with the planned allocation of residential land in RUTR to determine the accuracy of the allocation of land. The results of the analysis showed that 75.280.300m 2 or 33.34% of the total area can be used as residential and buildings. While the percentage of pixels that do not meet in the area of land allocation plans for settlements are BWK I is 54%, BWK II is 46%, BWK III is 27%, BWK IV is 32% , BWK V is 76%. The inaccuracy is due to the allocation of land for residential development in the capital of Kupang Regency (RUTR) have not considered the object which is included in the constraint factors such as the border of the river, slope aspect, swamps, agricultural and forests areas.

Kata Kunci : Kesesuaian lahan, Spatial Multi Criteria Evaluation (SMCE), Pemukiman.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.