Laporkan Masalah

Kegagalan Transformasi Nelayan ke Petani Studi Pada Masyarakat Kampung Tanah Merah dan Exploitasi British Petrolium (BP Migas) Di Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat

Yotam Senis, Prof. Dr. Susetiawan

2012 | Tesis | S2 Sosiologi minat Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial

Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan dengan jelas kondisi sosial ekonomi masyarakat adat Kampung Tanah Merah dalam konteks Kegagalan Transformasi. Kegagalan Transformasi yang dimaksud adalah lebih mengarah pada perubahan pola atau sistem sosial lebih khusus pada perubahan sistem mata pencaharian. Pada penjelasan-penjelasan lebih jauh dalam penelitian ini merupakan penjelasan detil mengenai beberapa kasus yang terjadi dalam proses resettlement area village. Proses resettlement area village ini terkait dengan pembangunan kilang gas alam cair oleh BP LNG Tangguh pada wilayah konsensus masyarakat adat Suku Sumuri Tanah Merah. Dengan alasan itaulah masyarakat dipindahkan dari kampung yang lama ke kampung yang baru. Dampak yang timbul sebagai akibat perubahan lingkungan sosial menimbulkan gejala masalah sosial ekonomi dan menempatkan masyarakat dalam kondisi yang tidak pasti dalam menatap hari-hari hidup mereka kedepan (ketidakpastian secara fisik dan mental). Penggambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat Tanah Merah yang jelas sangat berbeda pada dua kondisi; Pertama, terletak pada Kampung Tanah Merah Lama, yang mana dalam tatanan sosial ekonomi mereka masih tergolong mampu untuk mensuplay semua kebutuhan keluarga. Mereka masih mempertahankan dan menjaga semua aspek budaya dan pola interaksi yang sudah dianut dan dijalankan dalam budaya kerja tradisional, termasuk tempat-tempat keramat yang dijaga dan dihormati. Mereka juga dapat dengan mudah mengakses sumber-sumber alam yang tersedia bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sedangkan pada kondisi kedua nilai-nilai sosial budaya dan ekonomi yang dianut dan dijalankan di kampung lama sudah tidak berlaku lagi dikampung yang baru. Dikampung baru masyarakat ditempatkan pada tempat yang terpisah-pisah antara satu keluarga dengan keluarga lain yang dulunya tinggal bertetangga di kampung lama. Secara ekonomi mereka sudah tidak mampu lagi untuk mensuplay kebutuhan rumah tangga. Akses masyarakat terhadap sumber-sumber produksi mejadi sangat terbatas dan lokasi hunian serta hutan sebagai tempat perburuan hewan lair menjadi tertutup. Sedangkan untuk mengakses pekerjaan pada BP Tangguh juga tidak menjamin sebab mereka masih belum dapat memenuhi standar dan kualifikasi yang ditentukan BP Tangguh. Kondisi ini akan dijelaskan lebih mendalam lagi dalam sebuah penelitian yang penulis lakukan guna menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi. Sebab kegagalan transformasi yang terjadi pada masyarakat adat Suku Sumuri Tanah Merah masih mengisahkan adanya peran kapitalis dalam menguasai sumber-sumber produksi. Inilah yang barangkali dapat dijadikan patokan awal dalam pengembangan penelitian ini.

This study was conducted to illustrate clearly the socio-economic conditions of indigenous peoples in the context of Kampong Tanah Merah Failure Transformation. Failure of transformation in question is more directed at changing patterns of social system or more specifically on changes in livelihood systems. In further explanations in this study is a detailed explanation of several cases that occurred in the process of resettlement village area. The process of resettlement village area is related to the construction of a liquefied natural gas by BP's Tangguh LNG on the consensus of indigenous tribe Sumuri Tanah Merah. With the reasons why people moved from the old village into a new village. Impacts arising as a result of changes in the social environment cause symptoms of socio-economic problems and put the community under conditions of uncertainty in the days staring at their next life (physical and mental uncertainty). The depiction of socio-economic conditions Tanah Merah community are obviously very different in the two conditions; The first, located at Kampung Tanah Merah Lama, which in their socio-economic order is still quite capable of supplying all the needs of families. They still retain and maintain all aspects of culture and interaction patterns that have been adopted and executed in a traditional work culture, including sacred places are preserved and respected. They can also easily access the natural resources available to meet their needs. While the second condition of social values and economic culture that embraced and executed in the old village is no longer valid new kampong. New kampong people are placed in a separate place among a family with other families who once lived next door in the old village. In their economic capabilities are no longer able to supply the household needs. People's access to production resources become very limited and residential locations as well as a hunting forest lair to be closed. As for accessing the work on BP's Tangguh is also no guarantee because they still can not meet the specified standards and qualifications of the project. This condition will be explained more in depth again in a study by the author to explain the conditions that actually happened. Because the failure of the transformation that occurred in indigenous tribe Sumuri Tanah Merah still recounts the role of capitalists in control of production resources. This problem perhaps can be used as a benchmark early in the development of this research.

Kata Kunci : Perubahan, Nelayan, Petani


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.