EVALUASI BRANDING JOGJA NEVER ENDING ASIA SEBAGAI STRATEGI MEMASARKAN DAERAH DI ERA OTONOMI
Ekklesia Hendra Pratama, SIP, Dr. M. Baiquni MA
2011 | Tesis | S2 Magister Adm. PublikPersaingan keras di era globalisasi saat ini mendesak setiap negara harus mengembangkan inovasi dan kreativitas agar tidak tertinggal dengan negara lain. Yogyakarta misalnya, tidak lagi bersaing hanya dengan Bali, Bandung, atau Jakarta, tetapi juga sekaligus bersaing dengan Kuala Lumpur, Phuket, atau Singapura. Menyadari hal itu, Yogyakarta pun bangkit dengan membangun pemasaran wilayah (marketing place). Melalui brand image “Jogja Never Ending Asia†inilah upaya Yogyakarta ikut berpartisipasi dalam persaingan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendasari lahirnya branding “Jogja Never Ending Asia, alasan dipilihnya kalimat “Jogja Never Ending Asia†sebagai brand Propinsi DIY, mengapa brand tersebut tidak terimplementasi dengan baik, serta untuk mengetahui persepsi responden tentang brand tersebut. Secara teoritis, penelitian ini mendeskripsikan bahwa sudah selayaknya setiap wilayah mempunyai konsep yang kuat. Konsep ini menjadi “ruh†atau blueprint yang memperkokoh pembangunan atau pemasaran daerah. Konsep yang dimaksud dimulai dengan mengarahkannya pada pembentukan branding daerah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data kuesioner (angket), wawancara, observasi dan dokumentasi. Penentuan informan penelitian menggunakan metode purposive sampling, yaitu seseorang yang terlibat dalam proses lahirnya branding Jogja Never Ending Asia, seperti mantan pengurus IMA Chapter DIY, dan mantan Sekda Propinsi DIY, kemudian dilanjutkan dengan snowball sampling ke beberapa pihak yang dianggap memiliki informasi dan pengetahuan yang relevan tentang branding Jogja Never Ending Asia. Sedangkan responden dalam penelitian adalah sebanyak 100 orang responden yang terdiri dari unsur pelaku usaha, masyarakat, mahasiswa, wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara, dan dipilih sebagai sampel dengan metode simple random sampling (pengambilan sampel acak sederhana). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa krisis ekonomi Indonesia, otonomi daerah, dan globalisasi adalah faktor yang mendasari lahirnya brand. Alasan kalimat Jogja Never Ending Asia dipilih sebagai branding Propinsi DIY, adalah alasan kultural, komunitas pasar global, dan persaingan global. Branding ini tidak terimplementasi dengan baik karena sosialisasi yang tidak efektif, serta tidak adanya partisipasi dan koordinasi dalam proses lahirnya dan implementasi branding. Responden masih banyak yang belum mengetahui brand dan maknanya. Banyak pihak hanya menggunakan logonya saja tanpa disertai dengan pencantuman Never Ending Asia. Secara esensi, brand Jogja Never Ending Asia masih dianggap relevan karena dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah ditetapkan Visi Pembangunan Daerah yang akan dicapai pada Tahun 2025, yaitu menjadi terkemuka di Asia Tenggara dibidang Pendidikan, Budaya dan Tujuan Wisata.
A very hard and complicated competition in the era of globalization today urged every country should develop innovation and creativity that is not left with any other country. Yogyakarta, for example, are no longer competing only with Bali, Bandung or Jakarta, but also at the same time compete with the Kuala Lumpur, Phuket, or Singapore. Realizing this, Yogyakarta had risen by marketing place. Through the brand image of \"Jogja Never Ending Asia\" is an attempt Yogyakarta participate in global competition. This study aims to determine the factors underlying the birth of branding \"Jogja Never Ending Asia, the reason for choosing the phrase\" Jogja Never Ending Asia \"as a brand DIY, why brand is not implemented properly, and to determine the respondent's perception about the brand. Theoretically, this study describes is only fitting that each region has a strong concept. This concept is a \"spirit\" or blueprint that fosters the development or marketing areas. The concept is starting to lead the formation of regional branding. This type of research is a descriptive study using survey methods, with techniques of data collection questionnaire, interview, observation and documentation. Determination of research informants using purposive sampling method, a person involved in the process of branding the birth of Jogja Never Ending Asia, such as former board IMA Chapter DIY, and DIY and former Secretary of State, then followed by snowball sampling to a few parties that are considered to have the information and knowledge relevant about branding Jogja Never Ending Asia. While respondents in the study were as many as 100 respondents consisting of elements of the business, community, students, tourists, foreign tourists, and was chosen as a sample by simple random sampling methods. From the research results can be seen that the economic crisis Indonesia, decentralization, and globalization is a factor underlying the birth of the brand. The reason the phrase Jogja Never Ending Asia was chosen as a branding DIY, is a cultural reasons, the community of global markets and global competition. Branding is not implemented properly because of ineffective socialization, and the lack of participation and coordination in the birth process and implementation of branding. Respondents are still many who do not know the brand and its meaning. Many people only use the logo without the inclusion is accompanied by Never Ending Asia. In essence, brand Jogja Never Ending Asia are still considered relevant because of the Long-Term Regional Development Plan (RPJPD) Special Region of Yogyakarta Province has established Regional Development Vision to be achieved in the year 2025, which became prominent in Southeast Asia in the field of Education, Culture and Tourism Destination .
Kata Kunci : Pemasaran Daerah, Branding, Partisipasi dan Koordinasi