PEMANFAATAN CITRA PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN DAERAH RAWAN DEMAM BERDARAH DENGUE (Studi Kasus di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat)
ANDRI RULIANSYAH, Prof Dr Totok Gunawan, MS
2011 | Tesis | S2 Penginderaan JauhDemam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis, disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat merupakan daerah yang peningkatan kasusnya cukup tajam. Mulai dari tidak ada kasus dalam rentang waktu 1998-2002 meningkat 1 kasus di tahun 2003, 4 kasus pada tahun 2004, 22 kasus di tahun 2005, 35 kasus di tahun 2006, 10 kasus di tahun 2007, 12 kasus di tahun 2008, 14 kasus di tahun 2009 dan 13 kasus di tahun 2010. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan citra penginderaan jauh dan SIG dalam penentuan faktor – faktor lingkungan fisik untuk pemetaan daerah rawan DBD, sebaran DBD berdasarkan peta sebaran kasus, tempat, dan waktu mulai tahun 2005 sampai dengan 2010 serta menentukan tingkat kerawanan DBD berdasarkan variabel lingkungan dan kejadian DBD. Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan analisa pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil digitasi Citra Quickbird cukup baik digunakan untuk menentukan faktor – faktor lingkungan fisik untuk penentuan daerah rawan DBD. Integrasi citra penginderaan jauh dan SIG dapat menganalisis faktor – faktor risiko lingkungan fisik yang terkait dengan penyebaran DBD diantaranya : penggunaan lahan, ketinggian, curah hujan, area terbang nyamuk dan area kepadatan jentik.. Pola sebaran DBD di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat selama 6 tahun terakhir terkonsentrasi pada wilayah bagian selatan Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat, yaitu Desa Pangandaran, Desa Babakan dan Desa Pananjung. Pola fluktuasi kasus DBD perbulan sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 terjadi sangat fluktuatif. kejadian DBD terjadi setiap setelah terjadinya penurunan curah hujan dari bulan sebelumnya dan menurun pada saat curah hujan kembali terjadi peningkatan. Zonasi tingkat kerawanan DBD terkonsentrasi pada daerah selatan Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat , yaitu Desa Pangandaran, Desa Babakan, Desa Pananjung, Desa Wonoharjo dan Sebagian Desa Sukahurip. Luas zona daerah kerawanan tinggi DBD di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat adalah 22,76 km2(30,07 %), luas zona daerah kerawanan sedang 46,16 km2(60,99 %) dan luas zona daerah kerawanan tinggi 6,75 km2(8,94 %).
Dengue hemorrhagic fever (DHF) are acute febrile diseases, found in tropical and subtropical regions, caused by dengue virus of the genus Flavivirus, family Flaviviridae. Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat is an area that is quite a sharp increase in his case. Ranging from no cases in the period 1998-2002 increased 1 case in 2003, 4 cases in 2004, 22 cases in 2005, 35 cases in 2006, 10 cases in 2007, 12 cases in 2008, 14 cases in 2009 and 13 cases in 2010. The purpose of this study was to determine the ability of remote sensing imagery and GIS in the determination of factors - physical environmental factors for the mapping of areas prone to dengue fever, dengue fever spreads are based on the distribution of cases, places, and times from 2005 through to 2010 and determine the level of vulnerability to dengue based on environmental variables and incidence of DHF. This study is an observational research with cross sectional analysis approach. The results showed that the results are very good Quickbird image digitization is used to determine the factors - physical environmental factors for the determination of dengue-prone areas, such as land use by means of visual interpretation and digitization on-screen to create a detailed scale map. Integration of remote sensing imagery and GIS to analyze the factors - physical environmental risk factors associated with the spread of dengue include: land use, altitude, rainfall, area mosquito and fly larvae density area. The pattern of distribution of dengue in the district during the last 6 years Pangandaran is concentrated in the southern district of Pangandaran area, namely the village of Pangandaran, Babakan and Pananjung. Distribution of cases based on patient characteristics dominated the group of children’s and adolescents, whereas the sexes, women are more exposed cases than the male - female. The pattern of monthly fluctuations in dengue fever cases since 2005 up to 2010 there is very volatile. incidence of DHF occur each after a decline in rainfall from the previous month and decreased again when the rainfall was increasing. Zoning vulnerability of DHF were in the Subdistrict south of Pangandaran, namely the village of Pangandaran, Babakan Village, Village Pananjung, Wonoharjo Village and Village Most Sukahurip. Broad zone of high vulnerability areas of DHF in the District of Pangandaran is 22.76 km2 (30.07%), wide area zone of vulnerability is 46.16 km2 (60.99%) and broad zones of high vulnerability area 6.75 km2(8.94%). Key word : Remote Sensing Image, GIS, Dengue risk factor, Pangandaran's district
Kata Kunci : Citra Penginderaan Jauh, SIG, Faktor risiko DBD, Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat