Laporkan Masalah

ASSESSMENT OF EMPOWERMENT THROUGH PARTICIPATION A Case Study of the Neighbourhood Development Program in Pasuruan Regency, East Java

ANDRY NUGROHO, Drs. Maria Zwanenburg

2012 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Partisipasi dan pemberdayaan, sejak dua dekade terakhir dianggap sebagai obat yang paling mujarab untuk mengatasi kemiskinan dalam konsep pembangunan di seluruh dunia. Telah banyak metode yang dikembangkan menjadi sebuah proyek, kebanyakan di negara-negara berkembang. Penelitian ini berangkat dari konsep dasar program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) di Indonesia, atau yang dulu lebih dikenal sebagai P2KP (Program Pengentasan Kemiskinan Perkotaan). Adapun program ini mempunyai tujuan utama untuk memberdayakan masyarakat melalui proses partisipasi. Saat ini, PNPM dikenal sebagai program partisipasi masyarakat yang terbesar di dunia dalam hal pemberdayaan masyarakat, dan dianggap cukup sukses. Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan menarik dari peneliti yaitu apakah partisipasi selalu menuju pada pemberdayaan masyarakat? Menggunakan program lanjut dari PNPM, yaitu program PLP-BK (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) / ND (Neighbourhood Development) sebagai sebuah studi kasus, penelitian ini mencoba untuk mengungkap sejauh mana partisipasi memperoleh tujuannya dalam hal memberdayakan masyarakat. Partisipasi dan pemberdayaan adalah dua konsep besar. Untuk membatasi dua konsep besar tersebut maka dalam penelitian ini dibuat pembatasan teori yang digunakan seperti halnya juga dengan batasan waktu dalam penelitian. Dalam pelaksanaannya, diukur pula tingkat partisipasi dalam program PLP-BK tersebut. Dalam mengukur tingkat partisipasi itu digunakan model kombinasi untuk dapat memberikan gambaran lebih detilnya. Selanjutnya dalam penelitian ini akan diukur pula sejauh mana pemberdayaan yang diharapkan dalam kebijakan mencapai tujuannya dalam pelaksanaan program. Untuk mengukur pemberdayaan dalam masyarakat, digunakan kerangka feminis mengenai pembagian kekuasaan. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Puspo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur sebagai pilot proyek yang pertama dari program PLP-BK sejak tahun 2008. Program ini bertujuan agar masyarakat Desa Puspo dapat menghasilkan rencana pembangunan desanya sendiri. Adapun program ini menggunakan strategi pembangunan berbasis masyarakat sebagai pendekatan untuk mencapai partisipasi. Penelitian ini mengambil sampel 80 orang dari jumlah total populasi Desa Puspo. Adapun analisa datanya dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dan statistik deskriptif dibantu melalui program SPSS. Dalam penelitian ini diperoleh beberapa hasil yang menarik. Melalui model kombinasi, terdapat perbedaan hasil tingkat partisipasi antara gender dengan perspektif sosial ekonomi. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa komunitas masyarakat itu bersifat kompleks dan heterogen. Terkait dengan pemberdayaan, hasil yang didapat menunjukkan bahwa partisipasi bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh pemberdayaan. Bentuk-bentuk kekuasaan di dalam masyarakat itu sendiri bersifat dinamis dan terkait satu dengan yang lain. Sebagai kesimpulan dari penelitian ini, masyarakat Desa Puspo telah sejalan dengan kerangka kerja PLP-BK, meskipun wanita dan kaum miskin masih tergolong dalam kelompok yang paling rentan. Partisipasi bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh pemberdayaan, diperlukan suatu lingkungan yang mendukung agar masyarakat mampu mengeluarkan aspirasi dan kemampuannya sehingga pemberdayaan itu mampu muncul.

Participation and empowerment, since at least two decades, becoming a „panacea‟ to alleviate poverty in world‟s development design. Many instruments have been developed as a project, mostly in developing countries. This research went forward from the basic concept of the PNPM program, or in the past well known as Urban Poverty Program (UPP), in Indonesia. This program set a main goal to empower people through participatory process. Recently, the PNPM program is well known as the largest participation program in the world to gain empowerment and based on Indonesia government statement, it is quite success. An interesting question than arise from the author that is participation always lead to empowerment? Using the an advanced program from PNPM called Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLP-BK) or known as Neighbourhood Development Program (NDP) as a case study, this research trying to seek up in how far the participation has been achieving its goal of empowering community. As we knew that participation and empowerment are two broad concepts with many different schools of thought, in this research we made a limitation in terms of theories that we use as well as time limitation to do the research. To implement this research, first we have to measure level of participation in Puspo village regarding NDP. Using combination model to explain level of participation, instead of the ladder model that is commonly used, is expected to give more detail result in level of participation. Secondly, we try to measure in how far empowerment as expected in the policy been achieved in the implementation of the program. To measure empowerment within community, we utilize the feminist framework of power. The research studies a pilot project of NDP in Puspo village, East Java province in Indonesia who has start the program back in 2008. The program targeted for all villagers in Puspo village to set up a masterplan for their own village. In line with PNPM policy, it is still highlighting gender issue and the poor. This type of program is using community-driven development (CDD) strategy as an approach to gain participation. From around 5300 total population in Puspo village, 80 respondents were chosen based on purposive sampling. Data analysis was done through a quantitative method and employed descriptive statistic using the SPSS computer program. There are several interesting findings found in this research. Associated with level of participation, the combination model proved there is a difference result between gender and socio-economic perspective. Again, it proves the difficulty using the ladder model by Arnstein, since the nature of community is complex and heterogeneous. Regarding empowerment, some facts shows that participation is not the only way to obtain empowerment. Forms of power within people are also dynamic and interrelated between one and others. At the end, we concluded that people in Puspo village is already in line with the framework of the NDP, although women and the poor is still the vulnerable groups that might exclude. A lesson learned from this case study revealed that participation does not always lead to an empowerment. It takes a supporting environment that can encourage people's aspirations and capabilities so that empowerment can occur.

Kata Kunci : Empowerment, Neighbourhood Develpment Program


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.