Laporkan Masalah

DAMPAK EKONOMI BANJIR LAHAR DINGIN ERUPSI GUNUNGAPI MERAPI TAHUN 2010 (Studi Kasus: Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan Kab. Sleman)

Samino, Prof. Dr. Catur Sugiyanto, M.A.

2011 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak banjir lahar dingin erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010 terhadap pendapatan dan pengeluaran konsumsi rumah tangga korban atau terdampak, baik yang tetap tinggal di rumah maupun yang tinggal di huntara. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi dan sumber yang relevan. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampel bertujuan dengan jumlah sampel sebanyak 60, terdiri dari 30 sampel yang tetap tinggal di rumah dan 30 sampel yang tinggal di huntara. Untuk menganalisis data digunakan uji beda rata-rata. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa tanpa memasukkan unsur bantuan yang diterima, banjir lahar dingin berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga yang tetap tinggal di rumah dan tinggal di huntara. Apabila memasukkan unsur bantuan, banjir lahar dingin berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga yang tinggal di rumah dan tidak berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga yang tinggal di huntara. Kemudian, dari sisi pengeluaran konsumsi rumah tangga, banjir lahar dingin tidak berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga baik yang tetap tinggal di rumah maupun di huntara. Tanpa memasukkan unsur bantuan, rata-rata pendapatan rumah tangga yang tetap tinggal di rumah sesudah banjir lahar dingin sebesar Rp1.594.642, lebih rendah 21,59 persen dibandingkan sebelum banjir lahar dingin sebesar Rp2.033.727. Dengan memasukkan unsur bantuan, rata-rata pendapatan rumah tangga yang tetap tinggal di rumah sesudah banjir lahar dingin sebesar Rp1.666.716, lebih rendah 18,05 persen dibandingkan sebelum banjir lahar dingin yaitu Rp2.033.727. Rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tetap tinggal di rumah sesudah banjir lahar dingin sebesar Rp1.137.791, lebih tinggi 1,72 persen dibandingkan sebelum banjir lahar dingin yaitu Rp1.118.605. Tanpa memasukkan unsur bantuan, ratarata pendapatan rumah tangga yang tinggal di huntara sesudah banjir lahar dingin sebesar Rp1.162.354, lebih rendah 24,78 persen dibandingkan sebelum banjir lahar dingin sebesar Rp1.545.189. Dengan memasukkan unsur bantuan, pendapatan rumah tangga yang tinggal tinggal di huntara sesudah banjir lahar dingin sebesar Rp1.566.777, lebih tinggi 1,40 persen dibandingkan sebelum banjir lahar dingin yaitu Rp1.545.189. Rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tinggal di huntara sesudah banjir lahar dingin sebesar Rp1.188.438, lebih rendah 0,58 persen dibandingkan sebelum banjir lahar dingin sebesar Rp1.195.322.

This study aims to determine whether the flood of cold lava of Merapi Volcano eruption in 2010 affects they income and consumption expenditure of households victims or affected, either stay at home or living in shelters. The data used are primary data and secondary data: primary data obtained through interviews with respondents, while the secondary data obtained from the relevant agencies and other sources. The sampling technique is purposive sampling, using 60 households: consisting of 30 remained living in the house and 30 samples of living in shelters. To analyze the data used different test average. The calculation result shows that without both elements of the assistance received, cold lava flood effect on household incomes remain at home and living in shelters. If the include element of relief, cold lava flood effect on household income who live in the house and had no effect on household income who live in shelters. Then, in terms of household consumption expenditure, cold lava flood had no effect on household consumption expenditure either stay at home or in shelters. Without incorporating elements of aid, the average monthly income of households who remained at home after a flood of cold lava is Rp1.594.642, or 21,59 percent lower than before the cold lava flood. By incorporating elements of aid, the average monthly income of households who remained at home after a flood of cold lava is Rp1.666.716, or 18,05 percent lower than before the cold lava flood. The average consumption expenditure of households who remained at home after a flood of cold lava is Rp1.137.791, or 1,72 percent higher than before the cold lava flood. Without incorporating elements of aid, the average monthly income of households living in shelters after the cold lava flood is Rp1.162.354, or 24,78 percent lower than before the cold lava flood. By incorporating elements of aid, income households who live in shelters after the cold lava flood is Rp1.566.777, or 1,40 percent higher than before the cold lava flood. The average consumption expenditure of households living in shelters after the cold lava flood is Rp1.188.438, or 0,58 percent lower than before the cold lava flood.

Kata Kunci : banjir lahar dingin, korban atau terdampak, tinggal di rumah, tinggal di huntara, pendapatan rumah tangga, pengeluaran konsumsi rumah tangga, bantuan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.