Laporkan Masalah

STUDI TENTANG KEMUNCULAN MODAL SOSIAL (Studi Kasus Masyarakat RW 13 Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi)

RETNO WIDAYANI, Dr. Erwan Agus Purwanto

2011 | Tesis | S2 Magister Adm. Publik

Kemunculan modal sosial di tengah masyarakat yang mulai surut semangatnya seperti rasa kebersamaan, kegotong-royongan, toleransi, mapun rasa saling percaya merupakan fenomena yang menarik untuk diteliti. Bertahannya semangat modal sosial seperti yang terjadi di wilayah RW 13 Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi membuat peneliti tertarik untuk mendeskripsikan kemunculan modal sosial di masyarakat RW 13 Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi, mendeskripsikan penyebabnya dan mendeskripsikan bagaimana modal sosial bisa berfungsi dalam mengatasi persoalan masyarakat yang tidak dapat dipecahkan sepenuhnya oleh pemerintah. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dapat disimpulkan bahwa masyarakat RW 13 Kelurahan Subangjaya Kota Sukabumi telah memiliki semangat modal sosial yang cukup kuat dan telah ada secara alamiah sejak dulu dan telah turun temurun, sehingga sangat mudah untuk digerakkan. Kekuatan modal sosial di RW 13 lebih dipengaruhi oleh tingkat homogenitas masyarakat RW 13 yang masih kental. Selain itu kepemimpinan juga berkorelasi positif terhadap kemunculan modal sosial di RW 13. Konsep keteladanan dalam eksistensi modal sosial hanya efektif jika diterapkan pada masyarakat dengan relasi primer di unit sosial yang kecil dan terbatas (primary social relation) seperti di tingkat RW dan RT dan akan menemui kesulitan jika diterapkan pada komunitas yang lebih besar. Di sisi lain, kepemimpinan yang baik membawa efek negatif, dimana kualitas modal sosial masyarakat menjadi tergantung terhadap kualitas pemimpin dalam aksi kolektifnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada pemerintah kelurahan, kecamatan dan kota/kabupaten dalam menjalankan programnya di wilayah transisi dari rural ke urban dilakukan melalui pendekatan terhadap para tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat, harus transparan dalam pertanggungjawaban kepada masyarakat, dan melibatkan secara langsung masyarakat dalam program atau kegiatan tersebut. Kepada tokoh masyarakat bersama-sama masyarakat membangun karakter yang kuat setiap individu masyarakat RW 13 mulai dari keluarga masing-masing untuk saling peduli, tolong menolong dalam kebaikan, musyawarah dalam mengambil keputusan, bertindak jujur dalam setiap perkataan dan perbuatan, altruism, dan rasa tanggungjawab terhadap setiap hasil yang dicapai secara akuntabel dalam kehidupan sehari-harinya demi eksistensi modal sosial dan tidak tergantung pada keberadaan seorang pemimpin.

The emergence of social capital in a society that began to decline as a sense of community spirit, cooperativeness, tolerance, and mutual trust is an interesting phenomenon to study. The persistence of the spirit of social capital as happened in the community of RW 13 Kelurahan Subangjaya Kecamatan Cikole Kota Sukabumi make interested researcher to describe the emergence of social capital in society of RW 13. In addition, it is also describes why and how social capital can serve the community in addressing issues that cannot be solved solely by government. The result of this research indicates that people of RW 13 Kelurahan Subangjaya, Sukabumi have already possessed a spirit of social capital that is strong enough and has existed naturally since then and have been hereditary, so it is easy to be generated. The power of social capital in RW 13 is influence by the degree of homogeneity of neighborhood, which is still strong. The concept of exemplary existence of social capital is only effective if applied to people with primary relations in small social units and restricted as in the RW and RT and will have difficulty if applied to the larger community. In addition, leadership also positively correlated to the emergence of social capital in RW 13. On the other hand, good leadership brings negative effects, where the quality of community’s social capital is becoming dependent to the leader‘s quality in collective action. Based on these results, it is recommended to the government of Kelurahan, Kecamatan and city/county in carrying out its program in the area of transition from rural to urban should be done through an approach to community leaders and local religious leaders, should be transparent in their accountability to the community, and involving public directly in the program or activity. Community leaders together with the community jointly build strong individuals’ characters starting from each family for mutual care, mutual help in goodness, deliberation in making decisions, to act honestly in every word and deed, altruism, and sense of responsibility towards each accountable result achieved in their daily life for the existence of social capital and not dependent to the presence of a leader.

Kata Kunci : modal sosial, masyarakat, rukun warga


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.