Laporkan Masalah

BANJIR BANDANG DI DAS GARANG JAWA TENGAH (PENYEBAB, DAN IMPLIKASI)

Purwadi Suhandini, Drs.,SU., Prof. Dr. Sutikno

2012 | Disertasi | S3 Geografi

Penelitian banjir bandang ini dilaksanakan di DAS Garang, Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji karakteristik banjir bandang di DAS Garang; (2) mengkaji faktor-faktor penyebab dan peningkatan intensitas banjir bandang sejak tahun 1990-an di DAS Garang; (3) menganalisis implikasi banjir bandang DAS Garang, khususnya terhadap implikasi fisik dan implikasi sosial; Banjir bandang dikaji dari bidang ilmu Geografi dengan menggunakan pendekatan keruangan, sedang penelitian tentang lokasi, persebaran dan kedalaman banjir bandang dilakukan dengan pendekatan geomorfologi, dengan menekankan pada satuan bentuklahan sebagai satuan analisis. Dalam penelitian ini suatu banjir di DAS Garang dikategorikan sebagai banjir bandang didasarkan atas: (1) debit puncak banjir melampaui kapasitas alur; (2) kecepatan aliran banjir, dan (3) rasio kenaikan muka air banjir bandang atau rasio flash. Berdasarkan kriteria tersebut kejadian banjir Sungai Garang tahun 1987-2008 yang termasuk banjir bandang sebanyak 40 kejadian, seluruhnya dijadikan sampel penelitian (total sampling). Sampel penduduk untuk memperoleh data sosial ditentukan secara area purposive sampling, dengan mempertimbangkan fungsi bagian DAS sebagai daerah resapan dan daerah yang terlanda banjir bandang. Pengumpulan data kondisi fisik DAS dan penggunaan lahan diperoleh melalui interpretasi Peta Topografi, Peta RBI dan Citra SPOT. Data banjir dan hujan pasangannya diperoleh dari Kimpraswil Provinsi Jawa Tengah. Analisis penyebab dan persebaran banjir bandang dilakukan secara spasial dan temporal dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), sedang analisis data sosial dilakukan secara deskriptif. Pengujian hipotesis tentang pengaruh curah hujan, kondisi lingkungan, perubahan penggunaan lahan, dan indeks kelembaban dilakukan dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) berdasarkan indeks banjir bandang, sebagian besar (62,5%) banjir bandang di DAS Garang berupa bandang kecil, 27,5% berupa banjir bandang sedang, dan 10% berupa banjir bandang besar dan banjir bandang sangat besar; banjir bandang di DAS Garang cenderung makin berbahaya karena debit puncak cenderung meningkat dan waktu mencapai flash cenderung semakin pendek, dengan kecepatan aliran banjir rata-rata 3 m/dtk; (2) hujan badai yang terjadi secara merata pada wilayah DAS bagian hulu dan tengah dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan berpengaruh secara signifikan terhadap banjir bandang besar atau sangat besar; perubahan penggunaan lahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian banjir bandang; (3) banjir bandang menimbulkan implikasi fisik dan sosial ketika banjir bandang melampaui kapasitas tanggul buatan, seperti banjir bandang tahun 1990, 2000 dan 2002; (4) kedalaman, persebaran, dan tingkat bahaya banjir bandang berkaitan dengan persebaran dan susunan keruangan (morfo-arrangement) satuan bentuklahan bagian hilir DAS; lembah sempit yang diapit oleh punggung perbukitan antiklinal pada bagian hilir DAS Garang merupakan lokasi rawan banjir bandang yang berbahaya, yaitu pada satuan bentuklahan dataran banjir, rawa belakang, dataran aluvial, seperti yang terjadi pada banjir bandang tahun 1990. Saran yang diajukan dari hasil penelitian ini adalah pemerintah perlu membuat waduk pengendali banjir di Sungai Kreo dan Sungai Kripik, meningkatkan kapasitas alur Sungai Garang bagian Hilir, dan penduduk di daerah rawan bencana banjir bandang perlu dilatih cara-cara penyelamatan diri untuk menghindari banjir bandang.

The study of flash flood was conducted in Garang River Basin, Semarang, Central Java, Indonesia. The aim of this research are: 1) to study the characteristics of the flash flood in the Garang River Basin; 2) to evaluate the causal factors of and the increase in the flash flood intensity since 1990s in Garang River Basin; and 3) to analysis the physical and social implications of the flash flood at Garang River Basin. The flash flood was studied from the geographic point of view using spatial approach, while the study of the location, the distribution and the depth of the flash flood was conducted using geomorphologic approach and emphasize on the detailed landform unit as analysis unit. The flash flood of the river basin was categorized based on: 1) the peak debit beyond channel capacity; 2) the flash flood flow velocity; and 3) the ratio flash flood water level. Based on the criteria all of the floods taking place at Garang in 1987-2008 categorized as flash flood are drawn as samples. The samples of the population for social data collection were drawn using area purposive sampling technique by considering the function of the parts of the river basin as the recharge areas and the flash flood affected areas, while the respondents are head households were determined purposively. The collection of the physical condition of the river basin and land use was conducted through interpretation of the topographic map / RBI map and SPOT image. The flood and rain data were obtained from Kimpraswil (Public Work) of Central Java Province. The analysis of the causal factors and distribution of the flash flood was made spatially and temporally using geographic information system, while the analysis of the social data were carried out descriptively. The hypothesis of the impact of rainfall, environmental condition and the change in the land use were tested using multiple regression analysis. The result of the study showed that: 1) the stormy rain taking place in the same and almost same period had a significant impact on the big flash flood or very big flash flood; 2) the change in land use did not have any significant impact on the flash flood; 3) the depth, the distribution, and the hazard level of the flood were related to the distribution and the morpho-arrangement of the detailed landform unit. The narrow valley between anticlinal hill in the down stream of the Garang River Basin become the hazardous flash flood susceptible location when a flash flood taking place in Garang River. Followings are the recommendation made in the study: it is necessary for the government to construct flood controlling reservoir in Kreo River and Kripik River to contain the flash flood water of the two rivers, to increase the capacity of the lower stream of Garang River, and the people in the the hazardous flash flood susceptible location must be trained in self rescue and avoiding the flash flood.

Kata Kunci : banjir, banjir bandang, indeks banjir bandang, penyebab banjir bandang, rasio flash.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.