PENERIMAAN DIRI SEBAGAI MEDIATOR HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN PADA PENYANDANG DIABETES MELLITUS TIPE 2
MARIYANA WIDIASTUTI, Kwartarini W. Yuniarti, M.Med, Sc, Ph.D. Psi.
2011 | Tesis | S2 Magister Profesi PsikologiDiabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang bersifat kronis dan penyandangnya tidak dapat sembuh secara sempurna. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pasien diabetes rentan mengalami kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara religiusitas dengan kecemasan melalui penerimaan diri sebagai mediator pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini melibatkan 78 orang penyandang diabetes mellitus tipe 2 yang berusia 40-70 tahun. Pengumpulan data menggunakan 3 alat ukur yaitu Skala Religiusitas, Skala Penerimaan Diri dan Skala Kecemasan. Data dianalisis menggunakan analisis mediasi Sobel test. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ada 3, yaitu: (1) ada hubungan negatif antara tingkat religiusitas dengan kecemasan pada penyandang diabetes mellitus tipe 2, (2) ada hubungan positif antara tingkat religiusitas dengan penerimaan diri pada penyandang diabetes mellitus tipe 2, (3) ada hubungan negatif antara tingkat religiusitas melalui penerimaan diri dengan kecemasan pada penyandang diabetes mellitus tipe 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara religiusitas dengan kecemasan pada penyandang diabetes tipe 2, dengan (β) sebesar -0,5912; p=0,0263 (p<0,05). Ada hubungan positif yang signifikan antara religiusitas dengan penerimaan diri pada penyandang diabetes tipe 2, dengan (β) sebesar 0,5134; p=0,0006 (p<0,01). Analisis mediasi Sobel Test menunjukkan ada hubungan negatif antara religiusitas melalui penerimaan diri dengan kecemasan pada penyandang diabetes tipe 2 sebesar -0,6961; p=0,0019 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerimaan diri menjadi mediator hubungan antara religiusitas dengan kecemasan pada penyandang diabetes tipe 2.
Diabetes mellitus is one of chronical illnesses. Based on previous studies on this illness, people with diabetes are vulnerable to anxiety. The purpose of this study was to empirically examine the relation between religiousity and anxiety through self acceptance among people with type 2 diabetes mellitus. This study involved 78 people with type 2 diabetes mellitus who were 40-70 years old. The data was collected using 3 tools of measurement which were Religiousity Scale, Self Acceptance Scale, and Anxiety Scale. The data was analyzed using Sobel Test mediation. The hypotheses proposed in this study were as followed: (1) there is negative relation between religiousity level and anxiety among people with type 2 diabetes mellitus, (2) there is positive relation between religiousity level and self acceptance among people with type 2 diabetes mellitus, (3) there is negative relation between religiousity level and anxiety through self acceptance among people with type 2 diabetes mellitus. The result showed that there was significant negative relation between religiousity and anxiety among people with type 2 diabetes mellitus with (β) of -0,5912; p=0,0263 (p<0,05). There was significant positive relation between religiousity and self acceptance among people with type 2 diabetes mellitus with (β) of 0,5134; p=0,0006 (p<0,01). Sobel Test mediation analysis showed that there was negative relation between religiousity and anxiety through self acceptance among people with type 2 diabetes mellitus which was -0,6961; p=0,0019 (p<0,01). It showed that self acceptance may become the mediator of relation between religiousity and anxiety among people with type 2 diabetes mellitus.
Kata Kunci : religiusitas, penerimaan diri, kecemasan, diabetes mellitus tipe 2