Laporkan Masalah

TINGKAT KEBERDAYAAN PEREMPUAN BALI DALAM JABATAN ESELON DI PROVINSI BALI: DITINJAU DARI DIMENSI INTERNAL DAN EKSTERNAL

A A I N MARHAENI, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, MPA,

2011 | Disertasi | S3 Kependudukan

Persentase perempuan yang berhasil memegang jabatan eselon di Provinsi Bali pada tahun 2008 sebanyak 22,3 persen dan sisanya dijabat oleh laki-laki. Kondisi ini mencerminkan masih terjadi ketimpangan gender pada jabatan eselon di wilayah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh faktor internal seperti motivasi berprestasi, human capital, dan hambatan sosial psikologis maupun faktor eksternal yang meliputi budaya, demografi, peluang pengembangan karir, dan hambatan struktural terhadap tingkat keberdayaan perempuan Bali dalam jabatan eselon. Manfaat teoritis yang diperoleh dari penelitian ini adalah untuk memperkuat teori maupun hasil penelitian sejenis yang telah ada sebelumnya, dan manfaat praktisnya adalah diharapkan dapat ditemukan beberapa faktor yang diperkirakan mampu meningkatkan keberdayaan perempuan Bali dalam jabatan eselon. Penelitian ini dilakukan di seluruh pemda kabupaten/kota yang ada di Provinsi Bali termasuk pemda provinsi. Responden dalam penelitian ini adalah perempuan Bali yang memegang jabatan eselon dengan jumlah 310 orang yang tersebar di seluruh pemerintah daerah kabupaten/kota dan provinsi. Informan lain yang juga diwawancarai secara mendalam adalah suami, atasan, bawahan, dan tokoh agama. Metode penentuan sampel untuk pejabat perempuan dengan Proportionate Stratified Random Sampling, sedangkan untuk informan dengan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan indepth interview. Teknik analisis yang digunakan adalah Model Persamaan Struktur/Structural Equations Models (SEM), dan juga statistik deskriptif seperti rata-rata, median, maupun modus. Hasil penelitian menemukan bahwa ada 6 faktor yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat keberdayaan perempuan Bali dalam jabatan eselon yaitu faktor motivasi berprestasi, human capital, hambatan sosial psikologis sebagai faktor internal, dan faktor demografi, budaya, serta hambatan struktural sebagai faktor eksternal. Faktor hambatan sosial psikologis, budaya, dan hambatan struktural berpengaruh negatif, sedangkan faktor motivasi berprestasi, human capital, dan faktor demografi, berpengaruh positif. Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor yang berpengaruh negatif memiliki kekuatan yang lebih tinggi daripada faktor yang berpengaruh positif. Faktor hambatan sosial psikologis sebagai faktor internal ditemukan berpengaruh paling kuat yang diikuti oleh faktor eksternal yaitu budaya, dan hambatan struktural. Hal ini berarti untuk mempercepat kesetaraan gender di bidang jabatan eselon, maka faktor yang berpengaruh negatif ini yang harus diintervensi lebih dahulu. Kementrian Pemberdayaan Perempuan dapat bekerja sama dengan BKKBN dalam usaha peningkatan kualitas keluarga sehingga diharapkan menurunkan hambatan sosial psikologis perempuan. Kebijakan affirmative Action (diskriminasi positif) untuk sementara waktu guna mempercepat peningkatan keberdayaan perempuan Bali dalam jabatan eselon II dapat dilakukan. Banjar adat maupun desa pekraman dapat berperan dalam meningkatkan keterlibatan perempuan, utamanya dalam rapat-rapat (peparuman) yang diadakan secara berkala oleh lembaga adat tersebut.

The percentage of women who were successful in holding their echelon positions in Bali Province in 2008 amounted 22.3 percent and the rest were held by men. This condition reflected that there was still a gender inequality in echelon positions in the region. This research aimed to examine internal factor influences such as achievement motivation, human capital, and socio psychological obstacles as well as external factors such as culture, demography, career development opportunity, and structural obstacles to Balinese women in the echelon positions. Theoretical advantage obtained from this research was to strengthen theory a well as similar research available previously and its practical advantage was that it expected to find some factors that estimated to develop Balinese women empowerment in echelon positions. The research was performed in the entire regency/ town regional governments that were in Bali Province included provincial regional governments. Respondents were Balinese women who held echelon positions amounted 310 people that spread in the entire regency/ town regional governments and provinces. Other information that also interviewed in depth: husbands, bosses, subordinates, and religious figures. Sample determination method for women executives with Proportionate Stratified Random Sampling, while for informant was by purposive sampling. Data collection performed through observation, interview, and in depth interview. Analysis technique used Structural Equation Model (SEM), and also descriptive statistical such as average, median, and modus. This research found that there were 6 factors that significantly affected towards Balinese women empowerment rate in echelon positions were achievement motivation factor, human capital, socio psychological hindrances as internal factors, and demographic, cultural, and also structural obstacles was negatively affected, while achievement motivation, human capital, and demographic factors were positively affected. This research also found that factors that negatively affected had higher strength than factors that positively affected. Socio psychological obstacles as internal factors were found strongly affected that were followed by external factors were culture, and structural obstacles. This meant to quicken gender equality in the echelon positions so that factors that negatively affected must be intervened first. Women Empowerment Ministry could work together with BKKBN in its efforts to develop family quality so that was expected to decrease women socio psychological obstacles. Affirmative Action (positive discrimination) meanwhile to quicken Balinese women empowerment development in the 2nd echelon positions could be performed. Banjar adat as well as pekraman village could play their roles in developing women role, especially in meeting (peparuman) at is performed routine by custom institutions.

Kata Kunci : tingkat keberdayaan, faktor internal, faktor eksternal


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.