RELASI KUASA PADA RUMAH TANGGA DALAM PRODUKSI KESEHATAN REPRODUKSI DI DESA BURAT - KECAMATAN KEPIL KABUPATEN WONOSOBO PROPINSI JAWA TENGAH
Budi Wahyuni, Dra.,MM.,MA., Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG(K)., Ph.D.
2011 | Disertasi | S3 Kedokteran UmumLatar belakang: Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih cukup tinggi. Berbagai terobosan telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menurunkan AKI termasuk upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Namun demikian pendekatan pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat khususnya perempuan. Tidak sedikit daerah yang justru mengurangi fasilitas dan dukungan, misalnya pada program KB, yang notabene menjadi bagian pemenuhan hak kesehatan reproduksi. Penyumbangan angka kesakitan terhadap perempuan adalah akibat relasi kuasa yang tidak setara diantara anggota rumah tangga, masyarakat dan negara. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah. Unit analisis dari penelitian ini adalah rumah tangga dengan sampling informan sebanyak 21 perempuan menikah dan 19 lakilaki menikah di Desa Burat, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah. Hasil: Berbagai aktivitas perempuan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dalam rumah tangga seperti ASI, imunisasi, gizi, kontrasepsi dan hubungan seks merupakan bentuk pelayanan dan pengabdian yang termanifestasi dalam struktur resistensi yang berlangsung dalam kehidupan berumah tangga. Ketidakmampuan perempuan untuk berperilaku sehat merupakan hasil dari nilai, sumberdaya dan praktek yang berlangsung dalam rumah tangga mereka dan masyarakat yang diperkuat oleh berbagai fasilitas dan kebijakan negara. Kesimpulan: Perempuan desa Burat mengungkapkan bahwa mereka memberdayakan dirinya melalui berbagai aktivitas yang dilakukan. Program P2WKSS dianggap mampu meningkatkan partisipasi perempuan dan menjadi bagian untuk meningkatkan kualitas hidup anggota keluarganya. Meskipun demikian, keberdayaan perempuan yang ada selama ini belum mampu meningkatkan produksi kesehatan reproduksi dalam rumah tangga, karena dihadang oleh berbagai nilai, praktek dan pengetahuan dari masyarakat dan negara.
Background: The Indonesian maternal mortality rate (MMR) is considered high. Based on the high incidence of MMR, the Indonesian government conducted many efforts to reduce the case included developing the quality of health services. However, sexual and reproductive health services have not been yet received by the community in particularly women. Some regions merely reduced facility and support for family planning program, for instance, which is part of the fulfillment of reproductive health right. Women’s morbidity is the impact of unequal power relation among household members, community and the State. Methodology: The study was carried out with qualitative method. Data collecting was performed by doing participation observation, in-depth interviews and focus group discussion (FGD). Unit analysis of the study was household with total informants were 21 married women and 19 married men from Burat village in the Kepil sub-district, Wonosobo district, Central Java province. Result: Women activities associated with household reproductive health such as exclusive breast feeding, immunization, nutrition, contraception use and sex are the form of serving and obedience which were manifested in the structure of resistance in their marriages. Women inability to live healthy is the consequence of values, resources and practices in their households and communities which were supported by the varied State’s facilities and policies. Conclusion: Women from Burat reveal that they empower themselves in doing multi activities. The local government program of P2WKSS is perceived by women as it enhances women participation and becomes a part to improve the quality of life of their families. Nevertheless, women empowerment has not yet improve household production of reproductive health due to many constraints related to cultural values, practices and knowledge of the community and the State.
Kata Kunci : Relasi Kuasa, Rumah Tangga, Kesehatan Reproduksi