Laporkan Masalah

ANALISA LIKUIDITAS SAHAM DAN ABNORMAL RETURN SAHAM PASCA STOCK SPLIT PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2006-2008

Taufan Martin, Irwan Taufik Ritonga, S.E., M.Bus

2012 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Harga saham yang terlalu tinggi menyebabkan saham menjadi tidak likuid atau kurang diminati. Dengan stock split, saham diharapkan menjadi lebih likuid atau menempatkannya didalam optimal trading range yang akan menarik minat investor untuk membeli saham tersebut pada tingkat harga yang terjangkau. Stock split juga meningkatkan ekspektasi investor untuk menghasilkan tingkat return yang lebih tinggi. Pada dasarnya penelitian mengenai stock split telah sering dilakukan. Tapi, masalahnya pada penelitian ini menghasilkan kesimpulan yang berbeda dari berbagai macam penelitian sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini dilakukan terhadap 31 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang melakukan stock split pada periode 2006 hingga 2008. Penelitian ini menggunakan analisis uji beda dua rata-rata dengan periode pengamatan selama 20 hari yaitu dengan perincian t=-10 (10 hari sebelum stock split) dan t=10 (10 hari setelah stock split). Dan periode estimasi selama 100 hari, yaitu dari t-110 hingga t-10 sebelum tanggal kejadian stock split. Metode untuk menentukan sampel menggunakan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa hipothesis pertama menyatakan bahwasanya terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan pada rata-rata volume perdagangan antara sebelum dan sesudah stock split dimana likuiditas saham setelah stock split menurun, hal tersebut tampak dari volume perdagangan saham yang lebih rendah. Pada hipothesis kedua menyatakan bahwasanya tidak ada pengaruh signifikan dari rata-rata abnormal return antara sebelum dan setelah stock split. Hal tersebut berarti tidak adanya reaksi pasar pada volume perdagangan saham dan abnormal return atas stock split yang telah dilakukan.

Stock prices are too high causes the shares illiquid or less interested. With the stock split, shares are expected to become more liquid or put it in an optimal trading range due to the interest of investors to buy shares at a more affordable price. Stock split also raises expectations of investors to earn higher returns. Basically the research on the stock split is often done. But the problem in this study is the presence of different results from many studies, it would require further research. The research was conducted on 31 companies listed on the Stock Exchange who did a stock split in the year 2006 to 2008. This study used two different test analysis of average with the observation period (event window) is 20 days i.e. t = -10 (10 days before the stock split) and t = 10 (10 days after stock split). And the estimation period (estimation period) is 100 days, i.e. from t-110 to t-10 before the event date. The method of determining sample using purposive sampling. Based on the results of this study that the first hypothesis suggests that there is a significant influence on average trading volume before and after the stock split where the liquidity of the shares after the stock split is decreasing, visible from the stock trading volume is lower. Second hypothesis suggests that there is no significant influence of average abnormal returns before and after the stock split. This means that trading volume and abnormal stock returns do not get a reaction from the market.

Kata Kunci : Stock Split, Liquiditas Saham, Volume Perdagangan, Abnormal Return


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.