PENGARUH KETIMPANGAN GENDER TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH, 2004 - 2007
Erma Aktaria, Dr. Budiono Sri Handoko, M.A.,
2011 | Tesis | S2 Magister Ek.PembangunanPenelitian ini bertujuan menganalisis ketimpangan gender di 14 (empat belas) kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah dengan menggunakan pengukuran yang diintroduksikan oleh United Nation Development Programme (UNDP) dalam Human Development Report (HDR) 2010 yaitu Gender Inequality Index (GII). Penelitian ini juga menganalisis bagaimana pengaruh ketimpangan gender terhadap pertumbuhan ekonomi di 14 (empat belas) kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah dan juga membandingkan penggunaaan GII dengan indeks pembangunan gender lainnya yang sudah digunakan secara luas yaitu Gender Development Index (GDI) dan Gender Empowerment Measure (GEM) dalam hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini menggunakan data panel dari 14 (empat belas) kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah dengan periode analisis selama 4 (empat) tahun dari tahun 2004 sampai dengan 2007. Metode analisis yang digunakan adalah statistika deskriptif dalam menganalisis ketimpangan gender dan statistika inferensia yaitu regresi menggunakan data panel untuk menjelaskan pengaruh ketimpangan gender terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil analisis deskriptif menunjukkan terdapat ketimpangan gender yang tajam di setiap kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah antara tahun 2004 sampai dengan 2007. Ketimpangan gender yang terjadi berkisar antara 57,8 – 78,4 persen. Wilayah yang mengalami ketimpangan gender tertajam adalah Kabupaten Sukamara, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Katingan dengan nilai GII* di atas 69 persen. Hasil analisis regresi data panel menunjukkan terdapat pengaruh yang negatif dan signifikan antara ketimpangan gender yang diwakili oleh 3 (tiga) jenis indeks ketimpangan yaitu GII, proksi GDI, dan proksi GEM terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah. Secara statistik ketimpangan gender yang diwakili oleh proksi dari GII tidak sekuat dibandingkan proksi dari dua indeks pembangunan gender yang lama namun hal ini diduga karena adanya penyesuaian pada indikator pembentuknya yaitu tingkat fertilitas dan tingkat pendidikan yang ditamatkan serta kurang validnya data jumlah kematian ibu sebagai pembentuk indikator angka kematian ibu. Namun, bila ditinjau dari elastisitasnya maka GII yang diproksi dengan GII* memiliki elastisitas yang lebih baik dalam menjelaskan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kalimantan Tengah.
The objective of this research is to analyze the gender inequality in 14 districta/city in Central Kalimantan Province by using measurements introduced by the United Nations Development Program (UNDP) in the Human Development Report (HDR) 2010 of Gender Inequality Index (GII). This research also studies how the linkages of gender inequality with economic growth in 14 districts/cities in Central Kalimantan Province and compare the use of the GII with the other gender development indexes which are already widely used Gender Development Index (GDI) and Gender Empowerment Measure (GEM) in relation to economic growth. This research uses panel data from 14 districts/city in the Central Kalimantan Province during 4 years from 2004 to 2007. Analytical methods were descriptive statistics in analyzing gender inequality and statistical inference of regression panel data to explain the influence of gender inequality on economic growth. Descriptive analysis results showed that there are sharp gender inequality in every district/city in Central Kalimantan Province between 2004 to 2007. Gender inequality that occurred ranged from 57.8 to 78.4 percent. Areas that experienced the worst gender inequality are Sukamara District, Seruyan District, Lamandau District, Katingan District and Murung Raya District with GII* value above 69 percent. The results of regression analysis of panel data shows that there are negative and significant effect of gender inequality is represented by 3 types of gender inequality that are GII, proxy of GDI and proxy of GEM to economic growth in the districts/city in Central Kalimantan Province. Gender inequality is statistically represented by a proxy of the GII is not as strong compared to a proxy of the two others but this is occured because of the adjustment on fertility level indicator and level of education attained indicator as well as the lack of valid data on the number of maternal deaths as an indicator of maternal mortality ratio. However, when viewed from the elasticity, GII* have a better elasticity in explaining economic growth in Central Kalimantan Province.
Kata Kunci : ketimpangan gender, gender inequality index, pertumbuhan ekonomi.