Laporkan Masalah

Mebel ukir serenan :: Kontinuitas dan perubahannya

SUNARTO, Prof.Dr. T. Ibrahim Alfian, MA

2000 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Satu hal yang ditekankan dalam memahami wilayah penelitian kali ini adalah bersikap bijaksana. Indikasi dan fakta yang diamati dapat saja menyisakan beragam kesimpulan-kesimpulan yang interpenetrasi. Serenan, seperti halnya desa-desa yang lain di sekitamya, memulai sejarah panjangnya sebagai desa agraris. Mata pencaharian penduduknya banyak yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penopang kehidupan sehari-hari. Dahulu, ketika Bengawan Solo masih menjadi urat nadi transpotasi, sumber penghidupan sebagian warganya berasal dari ramahya arus lalu lintas sungai. Bengawan Solo telah memberikan suatu landasan penting dalam membentuk karakter masyarakat sekitar, terutama warga desa Serenan. Perahu-perahu yang singgah di Serenan adakalanya memerlukan perbaikan - perbaikan terhadap bagian perahunya yang rusak. Kebutuhan jasa akan hal tersebut sedikit banyak menarik minat warga Serenan untuk menyediakan jasanya. Sedikit demi sedikit ketrampilan sebagai tukang kayu menjadi terasah. Berbekal ketrampilannya sebagai tukang kayu, kemudian dicobanya media baru dalam mengekspresikan kemampuannya. Salah satunya adalah membuat perabotan rumah tangga. Setelah keraton kasunanan Surakarta mengetahui akan hal ini, potensi mereka dipakai dalam pembuatan benda-benda perkakas kebutuhan keraton dan menghiasinya dengan ukir-ukiran. Pola hubungan ini kemudian menjadi patronage. Keraton berperan semacam pengayom bagi kelangsungan kerajinan warga Serenan. Adanya pengakuan resmi dari keraton semakin memperdalam keyakinan warga Serenan untuk menggeluti bidang kerajinan ukir-ukiran. Setelah berlalunya peran utama keraton, ukiran Serenan seakan memasuki situasi baru. Sebuah situasi dimana keterlibatan berbagai kepentingan menyatu dalam wacana seni, khususnya seni ukir. Serenan telah menjadi entitas yang memiliki potensi untuk digali dan dikembangkan. Para perajin Serenan telah menyerahkan pada publik untuk menilai, berpartisipasi maupun yang menolak terhadap hasil karya-karya mereka. Kepentingan untuk berpihak kepada seni ataukah kepada pasar. Interpenetrasi ini temyata disikapi secara arif oleh para perajin, bahwa kesediaan untuk bersikap kompromi adalah menghindarkan konflik di antara berbagai kepentingan-kepentingan yang ada di dalamnya

Kata Kunci : Seni Ukir,Mebel Serenan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.