HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DAN PERILAKU MAKAN DENGAN KOMPONEN SINDROMA METABOLIK PADA TOKOH AGAMA DI KOTA MANADO
Yohanis A Tomastola, Prof. dr. Ahmad Husain Asdie, Sp.PD-KEMD
2012 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar belakang : Di Indonesia penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab utama kematian dengan faktor risiko hipertensi, hiperglikemia, obesitas dan hiperlipidemia terkait dengan pola makan yang tidak sehat, fisik yang tidak aktif, dan kebiasaan merokok. Hampir sepertiga (33,1%) orang dewasa di Sulawesi Utara mengalami overweight dan obes melebihi tiga kali prevalensi nasional 10,3%. Informasi ini semakin menguatkan Sulawesi Utara menghadapi masalah gizi ganda (double burden). Obesitas sentral sebagai faktor risiko sindroma metabolik di Provinsi Sulawesi Utara sudah mencapai satu di antara tiga penduduk dewasa yang berumur ≥15 tahun. Tujuan: Mengetahui prevalensi sindroma metabolik, hubungan asupan makanan berisiko, aktivitas fisik dengan terjadinya sindroma metabolik pada tokoh agama di Kota Manado. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan rancangan cross sectional yang dilaksanakan selama bulan Desember 2010 s/d Pebruari 2011 di Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara dengan populasi tokoh agama berjumlah 6770 orang. Besar sampel berjumlah 147 orang, diambil dengan sistematik random sampling. Screening untuk menentukan sindroma metabolik menggunakan indikator obesitas sentral (lingkar perut laki-laki>90 cm dan perempuan >80 cm), hipertensi tekanan darah sistolik dan diastolik (≥130/≥85 mmHg), hiperglikemia (GDP >110 mg/dl), aktivitas fisik menggunakan international physical activity (IPAQ) dan asupan makanan berisiko menggunakan semi quantitatif food frequency questionery (semi FFQ). Analisis data diawali dengan univariat dilanjutkan dengan analisis bivariat dan multivariat Hasil : Terdapat 42,17% prevalensi sindroma metabolik pada tokoh agama di Kota Manado. Sindroma metabolik lebih banyak ditemukan pada subjek dengan faktor risiko rendahnya asupan kalium <3500 mg/hari yaitu 52,25 kali lebih besar selanjutnya 13,7 kali pada asupan protein >20% angka kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG), 10,12 kali pada asupan karbohidrat sederhana >10% AKG, 9,71 kali pada asupan natrium >2400 mg/hari. Sindroma metabolik ditemukan 6 kali lebih besar pada subjek dengan aktivitas fisik ringan (<600 METs-min/minggu). Dari kedua faktor risiko utama, rendahnya asupan kalium lebih besar pengaruhnya terhadap terjadinya sindroma metabolik dibandingkan aktivitas fisik walaupun secara statistik keduanya mempunyai hubungan dan kekuatan hubungan yang sangat bermakna. Kesimpulan : Terdapat hubungan yang sangat bermakna antara asupan makanan berisiko dan aktivitas fisik dengan komponen sindroma metabolik pada tokoh agama di Kota Manado
Background: In Indonesia cardiovascular disease is the main cause of mortality with risk factors of hypertension, hyperglicemia, obesity and hyperlipidemia related to unhealthy eating pattern, less physical activities, and smoking habit. Nearly one third (33.1%) of adults in Sulawesi Utara are overweight and obese three times greater than the national prevalence of 10.3%. This figure indicates that Sulawesi Utara is facing double burden. Central obesity as risk factor of metabolik syndrome at the Province of Sulawesi Utara has reached one of three people of ≥15 years old. Objective: To identify the prevalence of metabolik syndrome, association between intake of food at risk, physical activities and the prevalence of metabolik syndrome in religious leaders at Manado Municipality. Method: The study was observational with cross sectional design undertaken from December 2010 to Fabruary 2011 at Manado Municipality Province of Sulawesi Utara with the population as many as 6770 religious leaders and sample size 147 people taken using systematic random sampling technique. Screening to identify metabolik syndrome used indicator of central obesity (waist circumference for men > 90 cm and for women > 80 cm), hypertension of systolic and dyastolic (≥130/≥85 mmHg), hyperglicemia (GDP >110 mg/dl), physical activities with international physical activity (IPAQ) and intake of food at risk with semi quantitative food frequency questionnaire. Data analysis used univariate, bivariate and multivariate methods. Result: The prevalence of metabolik syndrome in religious leaders at Manado Municipality was 42.17%. Metabolik syndrome was more often found in the subject with risk factor of food at risk particularly low of potasium intake <3500 mg/day (52.25 times), intake of high protein (13.7 times), low intake of simple carbohydrate >10% nutritional adequacy of the recommended (AKG), high intake of sodium (9.71 times), high intake of protein >20% (AKG) (10.12 times). Metabolik syndrome was found 6 times greater in the subject with less physical activities (<600 METs-min/week). Out of two major risk factors, intake of food at risk (low of potasium intake <3500 mg/day) had greater effect for the prevalence of metabolik syndrome than physical activities though statistically both were associated and the strength of association was very significant. Conclusion: There was very significant association between intake of food at risk, physical activities and the prevalence of metabolik syndrome in religious leaders at Manado Municipality.
Kata Kunci : Asupan Makanan Berisiko, Aktivitas Fisik, Sindroma Metabolik.