EVALUASI HASIL PELAKSANAAN PELATIHAN PROGRAM KIA DALAM MENINGKATKAN KINERJA KARYAWAN DAN PELAYANAN KESEHATAN DI RSUD JAYAPURA
Levina Krey, dr. Mubasyasyir Hasanbasri, MA.
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/MMPKLatar Belakang: Sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu dari layanan fasilitas pemerintah, Kementerian Kesehatan pada tahun 2005 mengambil strategi PMK sebagai bentuk pelatihan standar bagi tenaga perawat dan bidan. Metode ini memiliki keunggulan karena ia berbasis situasi setempat dan menggunakan metode workshop berkelanjutan. Efektivitas pelatihan terhadap layanan kesehatan kerap dipertanyakan meskipun pelatihan merupakan kebijakan penting dan dilaksanakan dalam peningkatan mutu tenaga di fasilitas kesehatan pemerintah. Antara kebijakan dan pengelolaan rumah sakit tidak berjalan efisien dan efektif. Tujuan: Penelitian ini berusaha mengeksplorasi bagaimana mekanisme pelatihan di RSUD Jayapura dan situasi yang membuat berdampak pada mutu layanan sulit dipelajari dan dirasakan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif eksploratif/ kualitatif dengan rancangan studi kasus tentang pengalaman pengelolaan pelatihan manajemen kinerja klinik yang dilaksanakan di RSUD Jayapura. Informan penelitian terdiri dari Direktur RSUD, Kepala bidang Penlat, Kepala bidang keperawatan, kepala instalasi, rawat inap, kepala ruangan kebidanan, bidan dan perawat yang terlibat langsung dalam Pelatihan Program KIA. Hasil: Pelatihan PMK dilaksanakan untuk 7 angkatan sejak 2007-2009. Proses pelatihan ini menghasilkan 164 perawat dan bidan seluruh unit rumah sakit. Meskipun pelatihan manajemen kinerja klinik berorientasi pada arti praktis untuk pelaksanaan di fasilitas setempat, sinkronisasi antara hasil pelatihan dan kebijakan manajemen pelayanan masih memiliki jarak. Hasil-hasil pelatihan belum menjadi keputusan manajemen rumahsakit. Manajemen pelayanan tetap bekerja seperti situasi rutin sehari-hari. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kelemahan dalam sistem monitoring kinerja oleh manajemen membuat perbaikan mutu kehilangan momentum. Akhirnya pelatihan diartikan oleh tenaga kesehatan sebagai kesempatan menghilangkan kejenuhan rutinitas pelayanan. Kesimpulan: Spesifikasi dari kebutuhan manajemen lokal dalam bidang mutu layanan, meski penting, kurang menjadi pijakan pokok dalam pelatihan. Agar efektif, kita harus meninggalkan pelatihan yang memisahkan tenaga kesehatan dari manajemen pelayanan. Sebaliknya pelatihan memerlukan identifikasi kebutuhan manajerial terlebih dulu sebelum tekanan pada aspek teknis tenaga kesehatan dilakukan.
Background: As an effort in improving the quality of government facility service, Health Ministry implemented PMK strategy in 2005 as a standardized training for nurses and midwives. The method is better because it is an on-going workshop and is based on the local situation. The training effectiveness is often put into question although the training is an important policy and implemented in order to improve the quality of work force in the government health facility. Hospital policy and management are not implemented efficiently and effectively. Objective: The research explored the training mechanism of Jayapura District Hospital and any situation which has impact on the service quality. Method: The research was descriptive-explorative/qualitative applying a case-study design which explored the experience in managing the clinical performance management training In Jayapura District Hospital. The research informants were the hospital directors, training and education chairpersons, nursing chairpersons, installation chairpersons, inpatient care, maternity chairpersons and nurses who directly involved in the training program of MGH. Result: PMK Training was held for seven badges in 2007 - 2009. The training graduated 164 nurses and midwives in all hospital units. Although the management training of clinical performance orientated on the practical aspect of the facility service, there was still a gap in the synchronization between the training result and hospital managerial policy. The training results had not yet made into managerial decision. The service management ran as a daily routine. The research also showed that weakness in performance monitoring system by the management resulted in the loss of momentum in quality improvement. Eventually, the health staff considered the training as an opportunity to refresh themselves from service routine. Conclusion: Specification on the local management needs of service quality, although important, had not been emphasized in the training. To make it effective, the training should not separate the health staff from the service management. The training required an identification of managerial needs before the technical aspect of the health staff was emphasized.
Kata Kunci : Evaluasi, Pengelola Program, Program Pelatihan, Materi Pelatihan, dan Kinerja.