Laporkan Masalah

SENI TENUN IKAT DAN ARTIKULASI PEREMPUAN SIKKA FLORES TENGAH, 1960-2008 KAJIAN SEJARAH BUDAYA

Yosef Dentis, Prof. Dr. Suhartono,

2011 | Tesis | S2 Sejarah

Penelitian ini membahas tentang Seni Tenun dan Artikulasi Perempuan Sikka Flores Tengah pada kurun waktu 1960 – 2008 dalam kajian sejarah Budaya. Pengambilan topik ini dilatarbelakangi oleh langkah kajian ilmiah mengenai seni, tenun dan perempuan dalam masyarakat Sikka. Kajian ini menggunakan metode sejarah dalam rangka menjawab semua permasalahan utama dalam penelitian. Masalah pokok Tesis ini adalah meneliti tentang aktualisasi pertumbuhan dan perubahan aktivitas kegiatan Seni Tenun Ikat Sikka, yang telah memberi kontribusi terhadap kaum perempuan dalam menemukan perubahan sosial dalam masyarakatnya. Seni bertenun awalnya hanya digunakan sebagai simbol kehidupan yang berwatak sosial memiliki identitas kultural yang boleh dikatakan Tri Tunggal ( Tiga Tapi Satu ) dimana antara Seni, Tenun dan Perempuan telah memperkaya perspektif dalam mengangkat kembali eksistensi seni bertenun ikat Sikka. Demikian sebaliknya perempuan Sikka dijadikan sebagai simbol yang memiliki rasa seni senantiasa berartikulasi dalam kegiatan bertenun bisa menampakan dan menghasilkan sesuatu unsur baru yang tercermin dalam kesenian yaitu bagaimana aktualisasi yang selalu menyentuh dan melekat dengan jiwa seorang perempuan. Seni tenun yang dijadikan sebagai sumbangan seniwati sebagai ekspresi yang patut di junjung tinggi. Karena Perempuan Sikka Flores Tengah telah membangun sistem partner yang membawa kebenaran suku Flores sebagai integral bangsa Indonesia terarah pada partner dan rekan kerja serta teman hidup. Jelas pula bahwa motif dan ragam hias tenunan yang ditampilkan dijadikan sebagai simbol kepribadian atau identitas budaya lokal. Faktor penyebab terjadinya perubahan meliputi faktor intern dan faktor eksteren. Faktor interen disebabkan karena kondisi politik yang berkembang pada awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Faktor penyebab terjadinya perubahan dalam seni tenun dan artikulasi perempuan Sikka Flores Tengah meliputi faktor inntern dalam bidang politik yang membawa pengaruh pada faktor Ekonomi, sosial, budaya,religi dan kesenian pada masyarakat pendukungnya. Faktor ekstern disebabkan karena adanya kontak budaya luar, dua atau lebih yang menghasilkan budaya baru tanpa harus meninggalkan budaya aslinya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam Seni Tenun dan Artikulasi Perempuan Sikka Flores Tengah perlu dikaji sebagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya yang bersikap dan pola berpikir global namun tetap bertindak lokal.

The study discussed about the tie-dying weafing art and the articulation of Sikka women of Central Flores in 1960-2008 in a historical cultural study. The background of the study was the lack of scientific study of the tie-dying weaving art and Sikka women. It used historical method in answering main study problems. The main subject of the thesis was the actualization of the development and the change in the tie-dying weaving art of Sikka that have contributed to the effort of the local women in making social changes. At the beginning the tie-dying weaving art served as the symbol of the local cultural identity of three-in-one (Tri Tunggal) in which the tiedying weaving art and the local women have enriched the perspective of the tie-dying weaving art of Sikka. Sikka women had their own artistic sense that was articulated in the tie-dying weaving art with its new artistic elements as the actualization of the artistic sense of the local women. The local tie-dying weaving art has been considered as the integral part of national arts as clearly observed in the decoration styles reflected in the local cultural identity. The causal factors of the change consisted of internal and external ones. The first resulted from the policital condition at the beginning of Indonesian independence era that subsequently caused economic, social, cultural, religious and artistic life of the members of the local culture. The second resulted in the new culture without any ignorance of the original local culture. The change in the tie-dying weaving art and the articulation of Sikka women of Central Flores was studied in the effort to preserve and to develop the attitude of global thinking, but local action.

Kata Kunci : Seni, Tenun, Artikulasi Perempuan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.