IBDá¾¹L DALAM BAHASA ARAB Tinjauan Morfofonemik
Jaya Putra Irawan, Prof. Dr. Syamsul Hadi, S.U., M.A
2011 | Tesis | S2 Ilmu Perbandingan Agama/Kajian Timur TengahTesis ini membahas mengenai sistem substitusi fonetis atau ibdÄl dalam bahasa Arab dengan perspektif linguistik modern. IbdÄl ialah proses pergantian satu konsonan atau semivokal dari konstruksi sebuah kata dan meletakkan konsonan atau semivokal lain pada tempat radikal yang diganti tersebut, seperti kata qawala ( Ù‚ÙŽÙˆÙŽ Ù„ )‘berkata’ berubah menjadi qÄla قَالَ ‘berkata’ atau samÄwun ( سَمَاوٌ )‘langit’ berubah menjadi samÄun ( ( سَمَا Ø¡ ‘langit’. Terlihat jelas bahwa dari proses ibdÄl yang terjadi pada sebuah kata, tidak merubah makna leksikal dari kata tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori linguistik struktural yang menganalisis bahasa berdasarkan struktur internal bahasa itu sendiri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan morfofonemik yang digunakan untuk mengkaji perubahan-perubahan dalam fonem pada proses morfologi. Dari penelitian ini dihasilkan beberapa poin penting yaitu; Pertama, bahasa Arab merupakan bahasa inflektif dengan tipologi akar disilabis, Bahasa Arab memiliki karakter morfologi yang kuat berdasarkan pada interdigitasi radikal konsonan dan pola. Proses interdigitasi keduanya diterapkan dalam model ortografi dua baris alfabet. Baris pertama berupa struktur radikal konsonan dan baris kedua berupa struktur pola yang berwujud penanda-penanda vokal. Setiap radikal konsonan mempunyai bawaan makna leksikal dan dari akar ini dapat dibentuk cakupan makna yang sangat luas melalui pola-pola berlaku. Namun, yang perlu diperhatikan bahwa verba dalam bahasa Arab terdiri dari unsur konsonan dan unsur semivokal. Kata yang terkonstruksi dari unsur radikal semua proses pembentukan kata melalui pola-pola yang berlaku akan menghasilkan bentuk kata yang sama dengan pola yang berlaku. Namun pada kata yang unsur radikal pembentuknya berupa semivokal, maka akan pasti mengalami perubahan bentuk dengan pola yang berlaku. Kedua, IbdÄl adalah secara leksikal bermakna penggantian, yaitu pergantian bunyi pada radikal pembentuk kata dalam bahasa Arab. Semua proses pergantian bunyi dalam bahasa Arab secara umum disebut ibdÄl. IbdÄl dalam linguistik Arab dibagi menjadi dua bagian besar yaitu: pertama, IbdÄl TashrÄ«f (substitusi morfologis) dan kedua, IbdÄl lughawÄ« (substitusi dialektologis), IbdÄl TashrÄ«f adalah proses pergantian bunyi dalam bahasa Arab yang menggunakan aturan yang berlaku dalam linguistik Arab. IbdÄl jenis ini dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan bunyi yang mengalami pergantian dan pola yang dilalui pada proses pergantian tersebut, yaitu: Muta’Äqabah, I’lÄl dan Qalb. Muta’Äqabah dalam pengertian ini adalah proses pergantian ت menjadi konsonan ( ØŒ د،ط،ظ ذ) pada pola اÙÙْتَعَ Ù„ . I’lÄl adalah proses pergantian dan saling menggantikan antara semivokal ( ي،و، ا ) dan hamzah ( Ø¡) dalam bahasa Arab pada verba trilateral atau pada nomina dari verba tersebut. Qalb adalah proses semivokal ( ي،و، ا ) dalam bahasa Arab menjadi konsonan ( ت) dalam pola 26 اÙÙْتَعَلَ . Dengan syarat semivokal menjadi radikal pertama dari verba simple trilateral tersebut atau verba asimilatif. IbdÄl lughawi (substitusi dialektologis) ialah proses pergantian konsonan dalam bahasa Arab yang terjadi pada kata yang disebabkan oleh artikkulasi bunyi yang dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: Artikulasi at- TaqÄrub ( ال تَّ قَار٠ب٠) ‘yang saling berdekatan’, Artikulasi al-MutajÄwirah الم٠تَ جاو٠رَ Ø©Ù) ) yang saling berdampingan, dan Artikulasi at-TajÄnus ( (ال تَّ جان س ‘yang sejenis’. Dari dua pembagian substitusi ini (substitusi morfologis dan dialektologis) terdapat dua perbedaan yanga sangat mendasar, yaitu: substitusi morfologis telah memiliki sistem dan aturan yang beralaku, jadi terkesan lebih mudah dalam pembentukan pergantian bunyi pada kata tersebut, sedangkan substitusi dialektologis tidak memiliki aturan yang berlaku hanya menggunakan faktor artikulasi bunyi yang tidak dapat diterapkan pada semua bunyi. Kedua, pada substitusi morfologis, kata yang umum digunakan hanyalah kata-kata yang merupakan hasil dari proses substitusi dan tidak menggunakan struktur kata sebelum terjadi substitusi. Kebalikkannya pada substitusi dialektologis, dapat digunakan struktur kata sebelum dan setelah mengalami proses substitusi, jadi keduanya layak untuk digunakan. Demikianlah kesimpulan yang dapat diambil oleh penulis dari penelitian ini. Penulis mengakui bahwa pembahasan ini masih jauh dari kesempuranaan. Untuk itu penulis berharap kepada peneliti selanjutnya untuk mengkaji masalah ini dengan lebih mendalam.
This thesis discusses the system of phonetic substitution or ibdÄl in Arabic with the perspective of modern linguistics. IbdÄl is the process of changing a single consonant or semi-vowels of a word construction and put another consonant or semi-vowels in place of the substituted radical, such as word qawala قول) ) 'say' turned into QÄla قال 'say' and samÄwun ( سماو ) 'sky' is changing be samÄun ( سماء ) 'sky'. It is clear that from ibdÄl process that occurs in a word, do not change the lexical meaning of the word. The theory used in this study is the theory of structural linguistics that analyzes language based on the internal structure of language itself. The approach used in this study is morphophonemic approach used to assess phonemes’ changes in the morphology process. From this research produced some important points, namely: First: Arabic is an inflectional language with disyllabic roots typology, Arabic has a strong morphological character based on radical interdigitation consonants and patterns. Interdigitation process is applied in both two-row model alphabet orthography. The first line of the structure is the consonants radical and the second row of the pattern structure formed by markers vocals. Each consonants radical has a own lexical meaning, using these roots can be established verities meaning through patterns apply. However, to note that the verb in Arabic language consists of consonants and semi-vowels elements. The word is constructed from consonant radical at all, will produce the same form of words on the pattern. But the word which constructed by semi-vowel will produce the new form, it is different from the pattern form. Second, IbdÄl lexically means replacement, i.e. forming a radical change in the Arabic word. All the process of changing the sound in Arabic is generally called ibdÄl. IbdÄl in Arabic linguistics is divided into two major parts: first, IbdÄl TashrÄ«f (morphological substitution) and the second, IbdÄl lughawÄ« (substitution dialectologies), IbdÄl TashrÄ«f is the process of changing sounds in Arabic that use rules which apply in Arabic linguistics. IbdÄl in this type is divided into three sections based on sound experience through which changes and patterns in the process of change, namely: Muta'Äqabah, I'lÄl and Qalb. Muta'Äqabah is the process of changing ت be consonant ( د, Ø·, ظ, ذ ) on Ø§ÙØªØ¹Ù„ pattern. I'lÄl is the process of change and replace each other between the semi-vowels ( ÙŠ, Ùˆ, ا ) and glottal ( (Ø¡ in Arabic. Qalb is the process of semi-vowels ( ÙŠ, Ùˆ, ا ) in Arabic to be consonant ت) ) in Ø§ÙØªØ¹Ù„ pattern. Provided semi-vowels become the first radical of the simple verb or verb trilateral assimilative. IbdÄl lughawi (dialectology substitution) is the process of change of consonants in Arabic which occurs in words that are caused by sounds articulator effects. This is divided into three types, namely: Adjacent articulation ( ,'' (التقارب side by side articulation ( المتجاورة ), and similar articulation ( .'' (التجانس From these two divisions of this substitution (morphological and dialectology substitution) there are two very fundamental differences, namely: 28 first, substitution morphological already has a system and rules, so it seemed easier in the substitution format. While the dialectology substitution has no rules, but it only apply a specific sounds articulation that cannot be applied to all sounds. Second, especially for morphological substitution, the common word in use is only the result after the substitution process. But for the dialectology substitution can use both words, the word before and after undergoing a substitution process. Those are several points discussed by the writer in this thesis. However, the writer aware fully that within his research is still far from being perfect. Therefore, the writer recommends for other writers who study this chapter have to research this problem deeply.
Kata Kunci : IBDá¾¹L