WAYANG DURANGPO: KRITIK SOSIAL DALAM KARYA SUJIWO TEJO DI HARIAN JAWA POS
Indhar Wahyu Wira Harjo, Prof. Dr. Heru Nugroho
2011 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini dilakukan dengan pemicu perubahan sosial yang terjadi pada kebebasan pers di Indonesia. Hal ini memberikan ruang bagi media massa melakukan kritik terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Kritik yang penting dan menarik untuk dikaji di penelitian ini adalah Kolom Wayang Durangpo. Kolom yang ditulis Sujiwo Tejo di harian Jawa Pos ini melakukan kritik sosial menggunakan tokoh dan peristiwa tertentu dari epos Mahabarata dan Ramayana. Kajian terhadap kritik sosial ini dilakukan dalam tiga bagian yang terwujud dalam rumusan masalah penelitian, yaitu: (1)Bagaimana kritik sosial yang dilakukan Sujiwo Tejo di Kolom Wayang Durangpo dalam harian Jawa Pos? (2)Bagaimana kritik yang dilakukan Sujiwo Tejo di Kolom Wayang Durangpo terhadap pemerintahan SBY-Boediono? (3)Bagaimana representasi tokoh-tokoh pewayangan yang digunakan untuk mengkritik pemerintahan SBY-Boediono di kolom Wayang Durangpo? Penelitian ini menggunakan kerangka teori kritik sosial, hiburan dan sistem penandaan tingkat dua (mitos). Pendekatan yang dipilih untuk mensistematiskan analisis adalah semiotika model Roland Barthes. Sumber data penelitian yaitu lima episode teks Kolom Wayang Durangpo dan tiga orang costumer culture. Pengumpulan data berupa teks dilakukan dengan teknik arsip, sedangkan wawancara digunakan untuk memperoleh data dari costumer culture. Hasil penelitian menujukkan kritik sosial dalam kolom Wayang Durangpo, baik secara ekplisit maupun implisit, ditujukan kepada pemerintah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), maupun masyarakat. Kritik tersebut sebagian besar berdasarkan pada prinsip-prinsip moral yang berlaku di masyarakat atau kritik sosial dengan kategori principled social criticism. Namun kritik sosial ini oleh pembaca kemudian diibaratkan sebagai hiburan. Artinya pembaca memperoleh hiburan dari epos Mahabarata atau Ramayana sekaligus dari kritik sosial dalam kolom tersebut. Dengan demikian kolom Wayang Durangpo, paralel dengan gagasan Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselves To Death, lebih diperlakukan sebagai teks hiburan daripada ‘manuskrip’ yang memuat kritik sosial. Temuan kedua dalam penelitian ini adalah terjadi domestikasi sikap kritis kolom Wayang Durangpo ketika mengulas institusi pemerintah yang bernama Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal ini terjadi sebagai imbas pimpinan tertinggi Jawa Pos, Dahlan Iskan, juga menduduki posisi sederajat di PLN. Di sisi lain, kritik sosial yang sering dialamatkan pada SBY-Boediono juga dipicu afiliasi politik Sujiwo Tejo yang berada di bawah naungan Yusuf Kalla. Ketiga, terjadi perubahan representasi terhadap tokoh-tokoh pewayangan dalam kolom Wayang Durangpo ketika melakukan kritik sosial. Tokoh-tokoh ini tidak selalu merujuk pada tokoh dari epos Mahabarata atau Ramayana, namun juga dapat merepresentasikan tokoh tertentu yang dikritik dalam kolom tersebut.
Social change towards press independency in Indonesia becomes a trigger to conduct this research. The press independency allows a space for mass media to criticize government policies. The research concerned on notable and captivating criticisms in Wayang Durangpo column in Jawa Pos daily newspaper. The column written by Sujiwo Tejo performs social criticism by utilizing certain characters and events of wayang in Mahabarata and Ramayana epics. The research aims at investigating some problems, which are: (1) how the social criticisms are performed by Sujiwo Tejo in Wayang Durangpo column in Jawa Pos daily newspaper, (2) how the criticisms are addressed to SBY-Boediono government, and (3) how the representations of characters in wayang are utilized to criticize SBY-Boediono government in Wayang Durangpo column. The research was conducted based on theory framework of social criticism, entertainment and the second order semiological system (myth). Roland Barthes’ model of semiotics was used as an approach to make the analysis systematic. The sources of the data in this research were the five episodes of the text Wayang Durangpo and three culture customers. The data in the form of texts were collected by archiving technique, while the interview was conducted to gain the data from culture customers. The result revealed that social criticisms performed by Sujiwo Tejo in Wayang Durangpo column, explicitly or implicitly were addressed to government, board of Indonesian House of Representatives, and people. Most of them are based on morality principles or social criticism in principled social criticism type. However, the readers regard this social criticism as an entertainment. This are mean readers obtain entertainment by this epoch of Mahabarata or Ramayana and social criticism all at once. Then in that condition Wayang Durangpo coloumn parallel with Neil Postman’s concept in Amusing Ourselves To Death, being regarded as text of entertainment than social criticism manuscript. The second result shows domestication towards Wayang Durangpo’s column when comment on governmental institution named Perusahaan Listrik Negara/PLN (State Electricity Company). This condition occur as impact of the duality of chief person, Dahlan Iskan, in the institutions named Jawa Pos and PLN In the other side social critics toward SBY-Boediono also influenced by Sujiwo Tejo’s political affiliation, which is, in the opponent side of them, Yusuf Kalla. Third of all, representation changes occur towards figures in Wayang Durangpo column when undertaking social criticism. These figures not only refer to figures in Mahabarata or Ramayana epoch, but also can be refer to certain figures as target of social critic in this column.
Kata Kunci : Kritik sosial, hiburan, representasi