KEKERASAN DALAM PACARAN DENGAN KEJADIAN PREMENSTRUAL SYNDROME DIKALANGAN REMAJA PUTERI SISWA SLTA DI KABUPATEN PURWOREJO
Magfirah, Prof. Dr. Mohammad Hakimi, SpOG(K)., PhD,
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar Belakang: Survei epidemiologi memperkirakan bahwa frekuensi gejala premenstrual syndrome (PMS) cukup tinggi sekitar 80-90%, dan sekitar 5% wanita mengalami gejala yang sangat parah sehingga gejala tersebut sangat berat dan mengganggu kegiatan sehari-hari. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kekerasan dalam pacaran dengan kejadian premenstrual syndrome di kalangan remaja. Metode: Jenis rancangan penelitian cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian siswi SMAN 3 dan SMK Penabur di Kabupaten Purworejo. Pengambilan sampel menggunakan metode three stage sampling dipadukan purposive sampling dan simple random sampling. Subjek penelitian ini berjumlah 141 orang. Hasil: Prevalensi kejadian premenstrual syndrome pada remaja di Kabupaten Purworejo 45,4%. Gejala yang paling sering dirasakan oleh remaja adalah perut kembung, depresi dan nyeri otot/kaku sendi. Terdapat hubungan yang bermakna antara kekerasan dalam pacaran dengan premenstrual syndrome. Premenstrual syndrome ditemukan 2 kali lebih tinggi pada remaja yang mengalami kekerasan dalam pacaran yang berat dibandingkan dengan remaja yang mengalami kekerasan dalam pacaran yang ringan. Peristiwa stres, pengetahuan premenstrual syndrome dan lama haid berhubungan secara signifikan baik secara praktis maupun statistik terhadap premenstrual syndrome. Terdapat hubungan yang bermakna secara konsisten antara kekerasan dalam pacaran yang berat (OR=3,6 dan 95%CI=1,29-10,05) dengan kejadian premenstrual syndrome setelah mengikutsertakan variabel peristiwa stres(OR=2,2 dan 95%CI=1,07-4,64) dan lama haid (OR=2,1 95%CI=1,03-4,43). Kesimpulan: Prevalensi premenstrual syndrome lebih tinggi terjadi pada remaja yang mengalami kekerasan dalam pacaran yang berat dibandingkan remaja yang mengalami kekerasan dalam pacaran yang ringan.
Background: Epidemiologic survey has estimated that the frequency of premenstrual syndrome or PMS is relatively high which is around 80-90%, and around 5% of women experience severe symptoms which disturb their daily activities. Objective: To find out the relationship between dating violence and premenstrual syndrome among adolescents. Method: This was a cross-sectional study with a quantitative approach. The subjects were female students of SMAN 3 and SMK Penabur in Purworejo District as many as 141 students. Sample taking used a method of three stage sampling combined with purposive sampling and simple random sampling. Result: The prevalence of PMS among adolescent girls in Purworejo District was 45.5%. The symptoms which were frequently perceived by the adolescents were abdominal cramping, depression, and aches and pain in the joints. There was a significant relationship between dating violence and PMS. PMS was two times greater found in adolescents that experienced severe dating violence than those that experienced mild violence. Stressful events, knowledge about PMS and menstrual duration were significantly related to PMS both practically and statistically. In addition, there was a consistently significant relationship between severe dating violence (OR=3.6 and 95%CI=1.29-10.05) and PMS after involving variables of stressful events (OR=2.2 and 95%CI=1.07-4.64) and menstrual duration (OR=2.1 and 95%CI=1.03-4.43). Conclusion: The prevalence of PMS was greater in adolescent girls that received severe dating violence than those that received mild violence.
Kata Kunci : Kekerasan dalam pacaran, Premenstrual syndrome, Remaja.