KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH TANGGA DAN UNMET NEED PELAYANAN KELUARGA BERENCANA DI KOTA BANDA ACEH
Putry Santy, Prof. dr. Mohammad Hakimi, Sp.OG(K), Ph.D
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar belakang: Satu dari enam perempuan menikah masih tidak terpenuhi kebutuhan kontrasepsi (unmet need). Di negara berkembang 87 juta wanita dari 211 juta kehamilan pertahun mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dan 46 juta kehamilan diakhiri dengan aborsi, 40% aborsi dilakukan dengan cara yang tidak aman sebagai akibat dari tidak terpenuhi kebutuhan kontrasepsi. Kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga menghambat kemampuan wanita dalam negosiasi dan praktek penggunaan kontrasepsi secara efektif. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kekerasan terhadap istri dan unmet need pelayanan keluarga berencana. Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan crosssectional. Populasi dalam penelitian ini adalah wanita usia reproduksi (15- 49 tahun) bertempat di kota Banda Aceh. Pengambilan sampel menggunakan teknik three stage sampling, dengan memodifikasi teknik purposive sampling dan simple random sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner yang mengacu pada kuesioner SEHATI tahun 2000 dan Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2007. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji chi-square dilanjutkan dengan analisis regresi logistik. Hasil: Ada hubungan yang bermakna secara konsisten antara kekerasan fisik (RP=2,9; 95% CI=1,36-6,52), seksual (RP=3,9; 95% CI=1,73-9,04), psikologis (RP=2,2; 95% CI=1,08-4,67) dan penelantaran ekonomi (RP=3,15; 95% CI=1,46-6,84) dengan unmet need setelah dianalisis secara bersama-sama dengan komunikasi suami istri tentang keluarga berencana dan jumlah anak hidup. Kesimpulan: Perempuan yang diidentifikasi mengalami kekerasan fisik, seksual, psikologis dan penelantaran ekonomi lebih mungkin mengalami unmet need pelayanan keluarga berencana. Perlu dilakukan skrining kekerasan dalam rumah tangga pada perempuan yang berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan keluarga berencana dan mengikutsertakan suami dalam pengambilan keputusan penggunaan alat kontrasepsi.
Background: one of six married women still present unmet need on contraception. Particularly in developing countries, 87 million women from 211 million pregnancies per year experience unwanted pregnancies and 46 million pregnancies are terminated with abortion, Unfortunately 40% abortions are done with unsafe procedures as a result of unmet need to contraception. Domestic violence received by women impedes their ability in negotiation and practice of contraceptive use effectively. Objective: To find out the relationship between domestic violence received by women and unmet need on family planning service. Method: An observational study with a cross-sectional study design. The population in this study was reproductive age women (15-49 years) living in Banda Aceh Municipality. Sample taking used three stage sampling, by modifying purposive sampling technique and simple random sampling technique. Data collection used a questioner referring to SEHATI questioner in 2000 and Indonesian Demography and Health Survey in year 2007. Hypothesis testing was done with chi-square followed with logistic regression analysis. Result: There was a consistent relationship between physical abuse (PR=2.9; 95% CI=1.36-6.52), sexual abuse (PR=3.9; 95% CI=1.73-9.04), physiological abuse (PR=2.2; 95% CI=1.08-4.67) and economic abundance (PR=3.15; 95% CI=1.46-6.84) and unmet need after being analyzed together with husband-wife communication about family planning and number of live children. Conclusion: Women identified to experience physical, sexual, and psychological abuse as well as economic abundance were more likely to experience unmet need on family planning service. Screening on domestic violence received by women who visit health facility to seek for family planning service by involving husband in decision making in contraceptive use is needed.
Kata Kunci : Kekerasan dalam rumah tangga, unmet need pelayanan keluarga berencana