MODAL SOSIAL SEBAGAI STRATEGI KELANGSUNGAN HIDUP PEREMPUAN NELAYAN Di Pulau Maitara Tidore Kepulauan
Abdullah Ismail.S.Sos, Prof. Dr. Sunyoto Usman
2011 | Tesis | S2 SosiologiPotensi kelautan Indonesia sangat besar, namun potensi tersebut belum dikelola secara serius oleh pemerintah sehingga belum dapat meningkatkan kesejahteraan, terutama masyarakat nelayan. Demikian juga dengan masyarakat nelayan di pulau Maitara, di tengah-tengah sumber daya laut yang melimpah ternyata kondisi masyarakatnya masih hidup dalam serba kekurangan. Kondisi seperti ini, yang paling mengalami tekanan-tekanan sosial ekonomi adalah istri/perempuan nelayan buruh. Oleh karena itu penelitian ini bemaksud untuk mengetahui bagaimana peran perempuan nelayan, baik yang bukan dibo-dibo maupun yang beraktivitas sebagai dibo-dibo memanfaatkan potensi sumber daya ekonomi dalam komunitas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan bagaimana mereka menggunakan modal sosial sebagai salah satu strategi kelangsungan hidup dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Adapun instrumen utama dalam pengumpulan data di lapangan dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan untuk mendapatkan data tambahan ditelusuri pula laporan-laporan tertulis dari kontor desa yang berkaitan dengan fokus penelitian. Berdasarkan temuan lapangan menunjukkan bahwa: pertama, dalam menghadapi kesulitan hidup, perempuan nelayan di pulau Maitara memanfaatkan potensi sumber daya ekonomi yang tersedia di lingkungannya dengan membentuk jaringan sosial melalui kegiatan jojobo/arisan dan dibo-dibo (mengambil dan menjual ikan) sebagai media untuk mengakses kebutuhan ekonomi rumah tangga. Kedua, kegiatan jojobo/arisan dan dibo-dibo bila dilihat dari elemen modal sosial seperti kepercayaan, norma resiprositas dan jaringan sosial memeliki implikasi secara sosial maupun ekonomi. Secara sosial, hubungan-hubungan individu dalam kegiatan jojobo/arisan dan dibo-dibo menjadi semakin kuat karena didukung dengan adanya rasa kebersamaan, kejujuran, keadilan, kebenaran, dan saling percaya antara sesama. Sedangkan secara ekonomi, pendapatan yang diperoleh dari kegiatan jojobo/arisan dan dibo-dibo tersebut dapat memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga seharihari. Namun, implikasi ekonomi dari modal sosial ini masih bersifat karitatif dan hanya berfungsi sebagai strategi menjaga kelangsungan hidup rumah tangga perempuan nelayan. Dengan kata lain, penggunaan modal sosial oleh perempuan nelayan yang bukan dibo-dibo maupun yang dibo-dibo masih dalam taraf mempertahankan hidup subsistensi, tetapi ada kecenderungan sebagian perempuan nelayan yang beraktivitas sebagai dibo-dibo dari pendapatan yang mereka peroleh dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan sosial.
Potential of Indonesia maritime is great, but the potential have not been managed seriously by government so have not been able to increase welfare, particularly fishermen. Fishermen in Maitara Island with abundant maritime resource live with limited conditions. In the condition, fisherman’s wife or fisherwomen get social and economic pressure. This research was intended to identify role of fisherwomen either not as dibodibo or doing activity as dibo-dibo, in using economic resource potential within community to meet household needs and way they use capital to meet daily need. It used qualitative descriptive method with phenomenological approach. Data was collected using in-depth interview and participative observation, while to get addition data it use written reports of village contour related to research focus. Field findings indicated that first, in facing life difficulty, fisherwomen in Maitara island used available economic resource by forming social network through activity of jojobo/arisan and dibo-dibo (take and sale fish) as media to access household economic need. Second, jojobo/arisan and dibo-dibo when is viewed from social capital elements such as trust, reciprocity norm and social network, has social and economic implication. In social side, individual relationship in jojobo/arisan and dibo-dibo is stronger because supported with togetherness, honesty, fairness, truth, and trust to each other. In economic side, income from jojobo/arisan and dibo-dibo activities can meet daily household need. However, economic implication of the social capital is still charitable and only functions as strategy to keep the fisherwomen’s household continuity. In other words, use of social capital by fisherwomen that are dibo-dibo or not dibo-dibo is still in keeping subsistence life. There was tendency that a part of fisherwomen active as dibo-dibo can increase their life quality and social welfare with income they obtained.
Kata Kunci : modal sosial, strategi kelangsungan hidup, perempuan nelayan