REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM PERKAWINAN ( STUDI ATAS TEKS NOVEL-NOVEL ISLAMI )
Hany Amaria, Dr. Partini
2011 | Tesis | S2 SosiologiNovel Perempuan Berkalung Sorban merupakan sebuah novel Islami yang mengungkapkan adanya bentuk-bentuk perjuangan perempuan terhadap dominasi tradisi pesantren. Perempuan bangkit untuk melakukan pembelaan terhadap harga dirinya di mata masyarakat. Novel Perempuan Berkalung Sorban mengungkapkan adanya ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan. Adanya ketidakadilan tersebut disebabkan oleh adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan, yang menganggap bahwa laki-laki memiliki kekuasaan superior. Ayah mempunyai hak ijbar dalam proses perkawinan anak perempuannya. Novel Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-Ayat Cinta dihadirkan untuk mengkomparasikan dengan novel Perempuan Berkalung Sorban, novel ini cenderung bersifat demokratis dan lebih menghargai perempuan. Peran sosial dijalankan secara seimbang tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun, semua keputusan mengenai perkawinan diserahkan semuanya oleh anak perempuan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah discourse analisisnya van Dijk yang terkenal dengan model analisis kognisi sosial. Wacana akan dianalisis dengan tiga dimensi yaitu dimensi teks, kognisi sosial dan konteks sosial kemudian menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Alasan pemilihan ketiga novel tersebut adalah sama-sama mengangkat hak-hak perempuan dari ketimpangan gender. Abidah dan Habiburrahman samasama pernah hidup di dunia pesantren tetapi mempunyai pengalaman dan pola pikir yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apa yang direpresentasikan dalam novel Perempuan Berkalung Sorban tidak sesuai dengan realitas yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Dalam novel direpresentasikan bahwa seorang ayah mempunyai hak ijbar (memaksa) untuk menikahkan anak perempuan dengan lakilaki pilihannya tanpa persetujuannya, sehingga perempuan tidak memiliki hak untuk menentukan dengan siapa dia akan menikah. Anggapan bahwa kehidupan dunia pesantren yang identik dengan dominasi budaya patriarki tidak selamanya benar. Novelis ingin mengungkapkan bahwa tradisi yang melekat dalam dunia pesantren tersebut tidak pantas diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Pesantren sebagai tempat menimba ilmu agama tentunya tahu bahwa posisi dan peran antara laki-laki dan perempuan dalam perkawinan adalah saling melengkapi. Sedangkan dalam teks novel Ketika Cinta Bertasbih dan Ayat-Ayat Cinta merepresentasikan bahwa walaupun dalam lingkup kehidupan pesantren, posisi perempuan dalam perkawinan tetap diperhatikan, perempuan diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri.
The novel Perempuan Berkalung Sorban is an Islamic novel which reveals the existence of forms of struggle against domination female pesantren tradition. Women rose to the defense of self-esteem in the eyes of society. The novel Perempuan Berkalung Sorban revealed the existence of inequities between men and women. The injustice caused by the dominance of men over women, who assume that men have superior power. Father has the right ijbar daughter in marriage process. Ketika Cinta Bertasbih and Ayat-Ayat Cinta novels presented to compare with the novel Perempuan Berkalung Sorban, the novel tends to be democratic and more respectful of women. Run in a balanced social role without any coercion and pressure from any party, all decisions regarding marriage are all delivered by the girls. The method of analysis used in this study is discourse analysis of van Dijk's famous model of social cognition analysis. Discourse will be analyzed with three-dimensional dimensions of the text, social cognition and social context then combines the three dimensions into a single unit of analysis. The third reason for the selection of the novel are equally raised from the rights of women and inequality gender. Abidah and Habiburrahman both lived in the boarding school but have experience and a different mindset. The results show that what is represented in the novel Perempuan Berkalung Sorban does not correspond to reality in the life of the community. In the novel represented that a father has the right ijbar (forced) to marry off daughters to men chosen without his consent, so that women do not have the right to determine with whom she will marry. The notion that the life of the pesantren world that is identical with the dominant culture of patriarchy is not always true. Novelist wanted to express that the tradition inherent in the world of the pesantren are incompatible in public life. Pesantren as a place to gain knowledge of religion would know that the positions and roles between men and women in marriage are complementary. While the text of the novel Ketika Cinta Bertasbih and Ayat-Ayat Cinta represent that although the scope of the life of the pesantren, the position of women within marriage remains concerned, women are given the freedom to determine his own choice.
Kata Kunci : representasi, analisis wacana van Dijk, peran perempuan