Laporkan Masalah

TRANSFORMASI BAHASA DAN BUDAYA SERTA TINJAUAN UNSUR SASTRA: KAJIAN RESEPSI TERHADAP KARYA SASTRA JEPANG DOOBUTSUKAI DAN PERTEMUAN BINATANG

WIASTININGSIH, Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno

2011 | Tesis | S2 Sastra

Penerjemahan karya sastra asing merupakan salah satu cara mengenali kebudayaan asing karena karya sastra merupakan representasi dari kebudayaan penghasil karya sastra tersebut. Dalam dunia karya sastra Jepang, banyak karya sastra asing yang diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Sebaliknya, banyak pula karya sastra Jepang yang diterjemahkan dalam bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia. Karya sastra erat hubungannya dengan konvensi bahasa, konvensi budaya, dan konvensi sastra maka dalam penerjemahan karya sastra pun timbul persoalan, yaitu adanya perbedaan konvensi bahasa, konvensi budaya, dan konvensi sastra dari karya sastra bahasa sumber dan hasil terjemahan dalam bahasa sasarannya. Penelitian ini dilakukan berlandaskan kajian resepsi berupa penerjemahan karya sastra untuk menguraikan adanya transformasi konvensi bahasa, konvensi budaya, dan konvensi sastra dalam karya sastra bahasa Jepang Doobutsukai yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Pertemuan Binatang. Perbedaan konvensi ini berpotensi menjadi faktor yang menyulitkan pembaca untuk memahami makna sebuah cerita. Dari hasil analisis data diperoleh simpulan bahwa bahasa Jepang dan bahasa Indonesia sama-sama tipe aglutinatif, tetapi karena kedua bahasa tersebut memiliki sistem yang berbeda, yaitu tipe urutan kata bahasa Indonesia termasuk VO dan bahasa Jepang termasuk OV, perbedaan sistem bunyi, sistem huruf, dan sistem penulisan kalimat. Hal tersebut menyebabkan terjadi transformasi bahasa berupa serapan bahasa Jepang, serapan bahasa China, penerjemahan idiom melalui modulasi dan ekuivalensi, pergeseran kata menjadi idiom, transposisi gramatikal berupa pergeseran tataran, pergeseran kategori, pergeseran satuan, perubahan kata benda menjadi kata kerja, frase menjadi kata, padanan nil dan padanan zero, serta terjemahan yang berkaitan dengan sistem kala. Dari aspek budaya, penerjemahan dilakukan melalui penyerapan kata-kata kultural yang tidak ada dalam budaya Indonesia, penambahan kata depan pada nama tokoh binatang sesuai dengan budaya Indonesia, pemadanan nama binatang menggunakan namanama yang lazim digunakan di Indonesia (bukan makna sesuai kamus), variasi pemadanan kata yang berarti Tuhan sesuai cara orang Indonesia, dan kata kerja untuk menunjukkan akitivitas binatang juga disesuaikan dengan budaya Indonesia. Dari analisis tinjauan unsur sastra diperoleh simpulan bahwa unsurunsur sastra dalam karya bahasa sumber juga terungkap dalam karya terjemahannya, tetapi ada beberapa kata yang perlu diberikan keterangan penerjemah agar makna cerita lebih mudah dipahami pembaca.

Translation of literary works is one way to recognize a foreign culture because a literary work is a representation of the culture. In the Japanese literature, many works of foreign literature translated into Japanese and many works of Japanese literature translated into foreign languages, including Indonesian. Literary works closely with conventions of language, cultural conventions, and literary conventions so in the translation of literary works it also arises the problem of differences in conventions of language, cultural conventions, and literary conventions of the literary in source language and the translation in the target language. The research was conducted based on literary reception study that is the translation of literary works to describe the transformation of the conventions of language, cultural conventions, and literary conventions in the work of Japanese literature Doobutsukai translated into Indonesian language Pertemuan Binatang. The difference of convention has the potential factors that complicate the reader to understand the meaning of a story. Analysis of data obtained the conclusion that although the Japanese and Indonesian language is both agglutinative type, but because both languages have different systems, namely difference of words order of Indonesian language (type VO) and the Japanese language (type OV), the difference in sound system, the system letters, and writing system resulted some language transformation. That are borrowing the Japanese and Chinese language, idiom translation through modulation and equivalent, shift the terms to be idioms, grammatical transposition like a shifting level, category shift, a shift unit, changing nouns into verbs, phrases into words, equivalent to nil and the equivalent of zero as well as the translation associated with the tense. From aspect of culture, the translation is done through using cultural words that are not exist in Indonesian culture, the addition of the preposition in the name of the character in accordance with naming animals in the culture of Indonesia, matching the name of an animal using the names commonly used in Indonesia (not according to the dictionary meaning), variations of matching words that mean God in the way Indonesian people call God, and the verb to indicate animals activity are also adapted to the culture of Indonesia. From the analysis of literary elements review obtained the conclusion that the elements of literature in the work of the source language translation is also revealed in the works but there are some words that need to be given a description from translators so that the meaning of the story easier to understand by the reader.

Kata Kunci : kajian resepsi, terjemahan karya sastra, transformasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.