FAKTOR RISIKO TRANSMISI INTRAFAMILIAL PENDERITA HBsAg POSITIF DI KOTA MATARAM NUSA TENGGARA BARAT
Bai Kusnadi, Prof. dr. Siti Nurdjanah, M. Kes, SpPD, KGEH.,
2011 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Hepatitis B merupakan penyakit dengan prevalensi tinggi, menimbulkan problema pasca akut, kronis, sirroshis, karsinoma hepatoseluler primer, kesakitan, dan kematian. World Health Organization memperkirakan lebih dari 2 milyar orang terinfeksi HBV. Sekitar 400 juta orang di dunia mengidap infeksi HBV kronik, 500.000 diantaranya meninggal. Prevalensinya antar negara bervariasi antara 0,1%-20%. Di Indonesia, prevalensi HBsAg berkisar antara 3- 17%. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), carrier rate hepatitis B berkisar antara 3,9%-20,3% (tahun 1982-1990) dan 1,4%-12,5% (2002-2007). Di Kota Mataram prevalensi HBsAg sekitar 10% (termasuk daerah endemis tinggi). Penularan diantaranya terjadi adanya kontak keluarga (transmisi intrafamilial). Sehingga dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor risiko transmisi intrafamilial Penderita HBsAg (+) agar dapat dilakukan pencegahan penularan HBsAg (+) dalam keluarga. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Subyek penelitian anggota keluarga penderita HBsAg (+). Variabel penelitian yaitu riwayat hubungan seks tidak aman dengan penderita HBsAg (+), riwayat penggunaan alat pribadi (alat makan/minum, alat cukur, sikat gigi, handuk) bersama, riwayat orang tua menderita HBsAg (+) sebagai faktor risiko dan penderita HBsAg (+)(variabel terikat). Besar sampel sebanyak 124 orang, perbandingan kasus dan kontrol 1:1. Pengumpulan data dengan wawancara dan pemeriksaan HBsAg pada anggota keluarga penderita HBsAg (+). Analisis data menggunakan analisis deskriptif, Uji Chi-square (X 2 ), Odds Rasio, dan multiple logistic regression. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan riwayat hubungan seks tidak aman (OR=2,000, 95%CI= 0,641-6,651), penggunaan bersama alat makan/minum (OR=1,069, 95CI%=0,489-2,340), alat cukur (OR=2,230, 95%CI=0,516-11,215), handuk (OR=1,455, 95CI%=0,486-4,519) dan riwayat orang tua HBsAg (+)(OR=2,703, 95%CI=1,227-5,987) sebagai faktor risiko menderita HBsAg(+), dan kedua orang tua (ayah dan ibu) HBsAg(+) (OR=0,254, 95%CI=0,064-0,969) bersifat protektif. Analisis multivariat menunjukkan hubungan seks tidak aman (aOR=4,274, 95%CI=1,294-14,117), riwayat orang tua dengan ibu HBsAg (+)(OR=7,743, 95%CI=2,566-23,363) merupakan faktor risiko menderita HBsAg (+) di dalam keluarga dan kedua orang tua (ayah dan ibu) HBsAg(+) (OR=0,254, 95%CI=0,064-0,969) bersifat protektif . Kesimpulan: Hubungan seks tidak aman (aOR=4,274, 95%CI=1,294-14,117) dan riwayat orang tua dengan HBsAg (+) (OR=7,743, 95%CI=2,566-23,363) berisiko untuk menderita HBsAg positif dalam keluarga serta kedua orang tua (ayah dan ibu) HBsAg(+) bersifat protektif. Sedangkan kontak penggunaan alat makan/minum, alat cukur, alat sikat gigi, dan handuk bersama bukan merupakan faktor risiko untuk menderita HBsAg positif dalam keluarga.
Background: Hepatitis B is a disease with high prevalence, it may cause problems in post-acute, chronic, cyrrhosis , primary hepatocellular carcinoma, morbidity, and mortality. World Health Organization estimates more than 2 billion people are infected by HBV. About 400 million people worldwide suffer from chronic HBV infection, with 500,000 of them dying. Prevalence among countries vary between 0.1% -20%. In Indonesia, the prevalence of HBsAg ranged from 3-17%. In West Nusa Tenggara (NTB), hepatitis B carrier rate ranged between 3.9%-20.3% (1982-1990) and 1.4% -12.5% (2002-2007). In the city of Mataram the prevalence of HBsAg is around 10%. Transmission of hepatitis B occur contact family (intrafamilial transmission), then conducted research to knowing the risk factors intrafamilial transmission of patients with HBsAg (+). So it can be done prevention HBsAg (+) in the family. Methods: A case-control study of the risk factor of family members of patiensts HBsAg (+). Risk factor are a history of unsafe intercourse sex research with people with HBsAg (+), a history of sharing personal equipment (cutlery/drink, razors, toothbrushes, towels) a history of parents with HBsAg (+). Interviewed 124 people of cases and controls (ratio 1:1).Analysid with Chi-square (X 2 ), Odds Ratio, and multiple logistic regression. Results: Bivariate analysis showed a history of unsafe sex (OR=2.000, 95%CI= 0.641-6.651), use of utensils/drinking (OR=1.069, 95CI%=0.489- 2.340), razors (OR=2.230, 95%CI=0.516-11.215), towels (OR = 1.455, 95CI% = 0.486-4.519) the sharing and a history pf parents with HBsAg (+)(OR=2.703, 95%CI=1.227-5.987) was rather a risk factor, and both parents (father and mother) HBsAg(+) (OR=0.254, 95%CI=0.064-0.969) are protective. Multivariate analysis showed unsafe sex (aOR=4.274, 95%CI=1.294-14.117) and a history of parents with mother suffering from HBsAg (+) (OR = 7.743, 95% CI = 2.566-23.363) is a risk factor for patients suffering from HBsAg (+) in the family and both parents (father and mother) HBsAg (+)(OR=0.254, 95%CI=0.064-0.969) are protective. Conclusion: Unsafe sex with HBsAg (+)(aOR=4.274, 95%CI=1.294- 14.117), history of parents with mother suffering from HBsAg (+) (OR = 7.743, 95% CI = 2.566-23.363) was a risk to suffer from HBsAg positive in the family and both parents (father and mother) HBsAg(+) are protective. While the contact use utensils /drinking, sharing the shaver, tools, toothbrushes, towels was not a risk factor for suffering from HBsAg positive in the family.
Kata Kunci : Faktor risiko, Transmisi Intrafamilial, Hepatitis B, HBsAg