Laporkan Masalah

EVALUASI KINERJA PERENCANAAN OBAT DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN KONAWE TAHUN 2008-2010

Fadli Soebangkit, dr. Sumartono, M.Kes.

2011 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Perencanaan obat yang dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe masih belum berjalan secara maksimal. Adapun permasalahannya yaitu (a) tidak adanya tim perencanaan obat terpadu (TPOT), (b) perencanaan obat yang dilakukan hanya berdasarkan jumlah konsumsi obat tahun sebelumnya tanpa melihat perkembangan pola kunjungan dan sisa stok obat yang tersedia dikabupaten (c) anggaran untuk pengadaan obat masih sangat minim sehingga kebutuhan obat sebenarnya tidak terpenuhi, (d) lemahnya koordinasi antara sektor yang terkait dalam penyediaan anggaran dan dalam melakukan perencanaan obat, (d) sumber daya pendukung masih belum optimal dalam membantu Dinas Kesehatan dalam melakukan perencanaan obat. Tujuan Penelitian : Untuk mengevaluasi kinerja perencanaan obat yang dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Konawe pada tahun 2008, 2009, dan 2010 Jenis penelitian : merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitik menggunakan rancangan studi kasus. Pengumpulan data secara kualitatif maupun kuantitatif. Untuk pengamatan secara kualitatif peneliti melakukan wawancara mendalam dan membagikan kuesioner. Sedang data kuantitatif peneliti melakukan pengamatan secara retrospektif terhadap arsip pengelolaan obat. Hasil Penelitian : dengan menggunakan indikator perencanaan obat hasil penelitian menunjukkan bahwa ketepatan perencanaan 5,13-11,43%, kesesuaian item obat yang direncanakan dengan DOEN 71,5-77,1%, tingkat ketersediaan obat aman 9,1-27,3%, kesesuaian dana pengadaan obat 21,3-44%, alokasi dana pengadaan obat 12,14-21,33%, dan biaya obat per penduduk Rp.6621- Rp.8733,7,-. Adanya obat kategori A dan B yang direncanakan berlebih, item obat kategori A yang bukan obat esensial, obat kategori vital dan esensial tidak tersedia secara aman, tidak adanya anggaran untuk membentuk TPOT, belum terimplementasinya sistem farmasi satu pintu, tidak adanya kebijakan yang mengatur mengenai perencanaan obat, anggaran yang sangat minim dan lemahnya advokasi, lemahnya sistem informasi manajemen, serta tenaga yang tidak tersedia dan kurang terampil. Kesimpulan : kinerja perencanaan obat dalam kurun waktu 2008-2010 belum efektif dan efisien.

Background: Drug planning made in the Health Office of Konawe district hadn’t been conducted optimally. The problems arose were (a) absence of integrated drug planning team (TPOT), (b) Drug planning basis that was solely depended on number of drug consumption in the previous year without seeing the development of patient patterns and the stock of drugs available county (c) the minimal budget for drug procurement, make that the actual drug needs are not met, (d) weak coordination between sectors involved in the provision of budget and in planning the drug (d) non optimal resources in assisting the health office in drug planning. Objective : To evaluate the performance of drug planning carried out in health office of Konawe in 2008, 2009, and 2010 Method: observational study with descriptive observation and retrospective data collection, using case study design by collecting both qualitative and quantitative data. Qualitative data were obtained from in-depth interviews and questionnaires. Quantitative data were obtained from retrospective analysis on drug management archives. Results : using indicators of drug planning research results show that planning accuracy was from 5,13 to 11,43%, compliance of drugs planned to DOEN was 71,5 to 71,43%, level of drug availability was 9,1-27,3%, the concordance of drug procurement budget was 21,33 to 44% drug procurement funding allocation from 12,14 to 21,33%, and drug costs per inhabitant was Rp.6.620,98-8.733,72, -. including the excess planning for drugs category A and B. Class A drug items were not essential, while vital and essential drugs were not adequately safe in term of availability. The absence of financing to make TPOT, one door pharmacy system, and policies governing the drug planning were also found. The minimal budget, lack of advocacy, and lack of management information systems, and minimum skillful human resources also consisted drawbacks in drug planning. Conclusion: Performance of drug planning in Konawe District Health Office for the period 2008-2010 was not effective and efficient.

Kata Kunci : Evaluasi, Kinerja, Perencanaan Obat, Kabupaten Konawe


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.