EVALUASI KETERSEDIAAN OBAT MALARIA DI KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT
Fitrah Logita B, Dr. Sri Suryawati
2011 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Sulawesi Barat merupakan salah satu daerah rawan penyebaran penyakit malaria. Berdasarkan laporan hasil riset kesehatan dasar Sulawesi Barat, dari lima kabupaten yang ada terdapat dua kabupaten yang mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional (0,2% – 2,9%), yaitu Kabupaten Mamuju dan Mamuju Utara. Pada tahun 2009, jumlah penderita penyakit malaria yang positif tertinggi di Kabupaten Mamuju dengan jumlah kasus sekitar 563 jiwa. Terkait dengan masalah malaria, yang dilakukan selama ini hanya sebatas pengobatan di RSUD, poliklinik puskesmas, puskesmas pembantu atau pada saat pelaksanaan posyandu. Salah satu penunjang lain terlaksananya program penanganan malaria adalah ketersediaan obat antimalaria. Oleh karena itu diperlukan kajian yang mendalam tentang evaluasi tingkat ketersediaan obat malaria yang ada di Kabupaten Mamuju. Tujuan Penelitian : Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui ketersediaan obat malaria yang ada di Kabupaten Mamuju. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan case study jenis deskriptif analitik, dengan menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Cara pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam untuk data kualitatif, dan untuk data kuantitaif diperoleh melalui observasi dokumen yang berkaitan dengan ketersediaan obat malaria. Hasil Penelitian : Tingkat ketersediaan obat beragam antara kurang (<18 bulan) dan tingkat aman (18-21 bulan). Untuk ketersediaan obat malaria di Kabupaten Mamuju sudah 100% sesuai dengan DOEN. Obat yang kadaluarsa dan rusak sebagian besar terdapat di semua sarana pelayanan kesehatan berkisar antara 12,50% hingga 25%. Ketersediaan obat malaria non-program di sektor swasta sudah cukup tersedia dengan keterjangkauan obat-obat malaria di apotek dan toko obat hanya pada obat klorokuin dan primakuin generik yang mana menghabiskan Upah Minimum Harian Kabupaten (UMHK) selama sehari untuk pembiayaan pengobatan malaria sebulan. Kegiatan program malaria di Kabupaten Mamuju masih sangat bergantung pada bantuan pihak luar baik itu dari APBN maupun dari Global fund ATM. Kesimpulan :. Ketersediaan obat-obat malaria di Kabupaten Mamuju dari tahun 2008-2010 belum terpenuhi secara optimal, karena masih ada beberapa sarana pelayanan kesehatan yang memiliki ketersediaan obatobat malaria dalam kategori kurang hingga berlebih. Ketersediaan obat malaria non-program di sektor swasta sudah cukup tersedia dengan keterjangkauan obat-obat malaria di apotek dan toko obat.
Background : West Sulawesi is one of the areas prone to the spread of malaria. The report of basic health research in West Sulawesi, of which there are five counties indicated that there were two districts having prevalence of clinical malaria which exceeded the national level (0.2% – 2.9%), which were Mamuju and North Mamuju district. In 2009, the number of malaria positive patients in Mamuju highest number of cases about 563 inhabitants. Concerning the problem of malaria, what currently had been done was limited to currative measures in hospitals, policlinics/public health centers, supporting public health centers (pustu) or during the program of integrated health service post (posyandu). One of the other supporting the implementation of malaria treatment program is the availability of antimalarial medicines. This studi was conducted to evaluated the availability of antimalaria medicines in Mamuju district. Aim : Evaluating the availability of antimalarial medicines in Mamuju district. Methods: Descriptive case study design was applied, using qualitative and quantitative data. Qualitative data were obtained by in- depth interview while quantitative data were gathered from document observation. Data collected by conducting in-depth interviews for qualitative data, and for quantitative data were gathered from documents observation relating to the availability of malaria medicines. Results: The Level of medicines availability varied from inadequate (<18 months) and adequate (18-21 months). Availability of essensial antimalarial medicines in Mamuju district has met 100%. Expired and impaired medicines were found in most health care service with range of 12.50% to 25%. The availability of non program antimalarial drugs in private sectors (pharmacies and drugstores) were adequate with affordability of antimalarial drugs to UMHK limited only for generic chloroquine and primaquine. The activity of malaria programs in Mamuju districs was still highly dependent on outside helps whether coming from National Revenues and Expenditure Budget (APBN) or global fund ATM. Conclusion : The availability of antimalaria medicines in Mamuju distric from 2008-2010 had not yet fulfilled in an optimal since there were lackings of availability of antimalaria medicines in many health care facilities in the category less to excess. The availability of antimalarial medicines in private sectors were adequate. Generic malarial medicines are affordable in pharmacies and drugstores.
Kata Kunci : Ketersediaan Obat, Malaria, Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat