EVALUASI EFISIENSI DISTRIBUSI OBAT RAWAT INAP DI INSTALASI FARMASI RSUD TARAKAN JAKARTA PUSAT
Ika Purwidyaningrum, Prof. Dr. Lukman Hakim, M.Sc., Apt
2011 | Tesis | S2 Mag.Manaj.FarmasiPengelolaan obat di Rumah Sakit terdiri dari tahap selection, procurement, distribution, dan use. Dari hasil observasi pendahuluan yang dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan ditemukan beberapa masalah ketidakefisienan pada tahap distribution diantaranya yaitu sistem inventory obat yang kurang baik misalnya kontrol terhadap obat rusak dan atau kadaluarsa, kecocokan antara obat dengan kartu stok dan lain-lain. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi sejauh mana tingkat efisiensi pengelolaan distribusi obat rawat inap. Penelitian menggunakan rancangan deskripsi bersifat retrospective dan concurrent, dengan melakukan evaluasi terhadap dokumen yang berhubungan dengan proses distribusi obat rawat inap. Penelitian menggunakan sampel obat yang termasuk kriteria obat kelas A. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif dari pengamatan dokumen serta wawancara dengan petugas terkait. Penyajian data dalam bentuk tabel dan uraian tekstual, evaluasi secara deskriptif menggunakan program SPSS. Pengukuran tingkat efisiensi distribusi obat dilakukan dengan menggunakan indikator efisiensi Depkes, Pudjaningsih (1996) dan WHO (1993), kemudian dibandingkan dengan standar atau hasil penelitian untuk mengetahui adanya ketidakefisienan. Hasil penelitian menunjukkan, menurut beberapa indikator distribusi obat rawat inap sebagian belum dan sudah efisien. Ketidakefisienan indikator pengelolaan obat pada tahap distribusi terjadi pada kecocokan antara jumlah fisik dengan kartu stok yaitu 93,27% hal ini dikarenakan kurangnya ketelitian petugas gudang, obat kadaluwarsa dan/ atau rusak tahun 2008 adalah 0,23% tahun 2009 adalah 0,48%, hal ini dikarenakan obat tersebut kurang diperlukan pasien, resep tidak terlayani tahun 2008 adalah 1,52%, tahun 2009 adalah 2,28% dikarenakan permintaan pasien untuk tidak menebus obat terlebih dahulu, persediaan farmasi dan gudang sedang kosong, dokter menulis resep dengan komposisi diluar formularium, TOR tahun 2008 adalah 6 kali dan tahun 2009 adalah 6,9 kali dikarenakan masih banyak persediaan yang belum terjual/ terpakai. Distribusi obat sudah efisien pada lama waktu pelayanan resep dan tingkat ketersediaan obat.
Drug management in Hospital which consist of stages are selection, procurement, distribution and use. Result of preliminary observation done in Pharmacy Installation of Tarakan Hospital found some inefficiency problem in distribution steps such as expired and damage control, conformity of record to physical checks on drug management, etc. Therefore, it necessary to evaluation the efficiency rate of inpatient ward drug management distribution. Research using a design description is retrospective and concurrent with the evaluation of documents relating to inpatient drug distribution process. The study used a sample of drugs including medicines criteria Class A. Data collected in the form of qualitative and quantitative data from observations of documents and interviews with relevant officers. Presentation of data in tabular and textual descriptions, evaluations descriptively using SPSS. Measurement of the efficiency of drug distribution is done by using indicators of the efficiency of Depkes, Pudjaningsih (1996) and WHO (1993), then compared with the standard or the results of a study to determine the existence of inefficiency. The results showed, according to several indicators of drug distribution and hospitalization have not been efficient. Inefficiency drug management indicators at this stage of the distribution occurs on a match between the physical card stock is 93.27% this is due to a lack of thoroughness warehouse clerk, or damaged and expired drugs in 2008 was 0.23% in 2009 was 0.48%, it This is because the drug is less necessary the patient. prescriptions are not served in 2008 was 1.52%, 2.28% in 2009 was due to patient demand for drugs does not make up for in advance, pharmacy inventory and warehouse is being empty, the doctor writes a prescription with a composition outside the formulary, TOR in 2008 was 6 times and in 2008 was 6.9 times because there are still many unsold inventory/ availability of drugs used. Efficient distribution of drugs already on the length of service time and the availability of prescription drugs
Kata Kunci : distribusi obat, rawat inap, efisiensi, Instalasi Farmasi RSUD Tarakan