EFEK KONSUMSI COOKIES GARUT ( Maranta arundinaceae L.) TERHADAP PROFIL BAKTERI DAN SIFAT KIMIA FECES BALITA
FITRI ELECTRIKA DEWI SURAWAN, STP, Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc.
2011 | Tesis | S2 Ilmu dan Teknologi PanganProduk-produk prebiotik selama ini telah terbukti dan diyakini dapat menurunkan risiko terjadinya diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang sering diderita oleh balita. Pengembangan cookies prebiotik penting selain untuk membantu mencukupi kebutuhan energi, dan gizi balita juga mendapatkan efek kesehatan saluran cernanya. Potensi prebiotik garut (Maranta arundinaceae L.) dan tepungnya secara in vitro dan in vivo telah diteliti, namun sebatas efeknya pada hewan coba. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek konsumsi cookies garut terhadap profil bakteri, dan sifat kimia feces balita khususnya short chain fatty acid (SCFA), pH dan kadar air feces. Analisis dilakukan terhadap komponen-komponen cookies yang berpotensi sebagai prebiotik yakni rafinose dan FOS, serta kadar resistant starch dan dietary fibre. Pemberian cookies setiap hari sejumlah 5 keping (hingga 30g/hari) dilakukan terhadap 20 balita sehat berusia 2-5 tahun, dengan kriteria eksklusi meliputi penggunaan antibiotik, serta asupan prebiotik dan probiotik. Intervensi selama 10 hari menggunakan rancangan nonrandomized control group pretestposttest design, dan cookies terigu sebagai kontrol. Analisis dilakukan terhadap profil bakteri, SCFA, pH dan kadar air feces sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen prebiotik cookies garut, yakni resistant starch, soluble dan insoluble dietary fibre, serta rafinosa dan FOS, lebih tinggi daripada cookies terigu, yang nilainya berturut-turut 38,52; 2,61; 11,37; 0,0062; dan 0,52% pada cookies garut, dan 32,74; 2,08; 1,17; 0,0096; dan 0,48% pada cookies terigu. Intervensi cookies garut meningkatkan populasi Bifidobacteria dari 6,81 menjadi 8,23 log10 CFU/g feces pada konsumsi 10- 20g/hari; dan dari 6,99 menjadi 8,72 log10 CFU/g feces pada konsumsi 20- 30g/hari. Intervensi cookies garut juga meningkatkan populasi BAL dari 7,59 menjadi 8,48 log10 CFU/g feces pada konsumsi 10-20g/hari; dan dari 7,77 menjadi 9,65 log10 CFU/g feces pada konsumsi 20-30g/hari, namun tidak berpengaruh terhadap populasi E.coli. Intervensi cookies garut 20-30g/hari meningkatkan konsentrasi asetat, dari 56,47 menjadi 185,07µmol/g feces (db); propionat dari 12,59 menjadi 43,81µmol/g feces (db); dan total SCFA dari 83,85 menjadi 269,61µmol/g feces (db), namun tidak berpengaruh signifikan pada konsentrasi butirat. Jika dibandingkan cookies terigu, intervensi cookies garut 20- 30g/hari pada balita terbukti menyebabkan kadar air feces signifikan lebih tinggi (P<0,05), namun tidak menyebabkan perbedaan pH feces pada jumlah konsumsi yang sama. Perbandingan komponen prebiotik dan sifat prebiotik antara kedua jenis cookies menunjukkan bahwa, cookies garut memiliki komponen prebiotik yang lebih tinggi, dan sifat prebiotik yang lebih baik dibandingkan cookies terigu.
This study aims to determine the effect of arrowroot cookies consumption on fecal bacteria in children under five years old. Prebiotic components such as raffinose, FOS, resistant starch and dietary fiber of cookies were analyzed. The effect of daily administration of 5 pieces arrowroot cookies (30 g/day) on 2-5 years old healthy children fecal bacteria, SCFA, pH and water content, was assessed in placebo control trial during 10 days, with wheat cookies as a control. The exclusion criteria included use of antibiotics, as well as the intake of prebiotics and probiotics. The results showed that the prebiotic component arrowroot cookies was higher than wheat cookies. Resistant starch, soluble and insoluble dietary fiber, as well as raffinose and FOS value were 38.52; 2.61; 11.37; 0.0062 ; and 0.52% respectively on arrowroot cookies, and 32.74; 2.08; 1.17; 0.0096, and 0.48% respectively on wheat cookies. The fecal Bifidobacteria population with 10g/day arrowroot cookies consumption was significantly higher (P<0.05) than wheat cookies consumption in the same amount of consumption. The Bifidobacteria population with arrowroot cookies consumption more than 10g/day was significantly higher (P<0.05) than wheat cookies consumption in the same amount of consumption. Fecal BAL population was significantly higher (P<0.05) than wheat cookies consumption only with 20- 30g/day. Comparison of prebiotic component and prebiotic properties between the two types of cookies showed that, arrowroot cookies have a higher prebiotic components, and its prebiotic properties is better than wheat cookies.
Kata Kunci : prebiotik, cookies garut, bakteri feces, SCFA