Pengaruh Pemoderasian Kecerdasan Emosional Pada Hubungan Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Kesejahteraan
Rikha Muftia Khoirunnisa, SE., Dr. Harsono, M.Sc,
2011 | Tesis | S2 ManajemenDomain utama dalam kehidupan seseorang adalah pekerjaan dan keluarga. Setiap orang memiliki peran dalam masing-masing domain tersebut. Idealnya, setiap orang berusaha menyeimbangkan perannya dalam pekerjaan dan keluarga. Tetapi itu menyebabkan munculnya konflik pekerjaan-keluarga karena ketidaksesuaian tuntutan pekerjaan dan keluarga. Berdasarkan teori peran, konflik pekerjaan-keluarga mempengaruhi kesejahteraan seseorang. Kesejahteraan menunjukkan ketenangan hidup yang dirasakan seseorang, sehingga penting untuk diperhatikan. Konflik pekerjaan-keluarga dalam penelitian ini diidentifikasi dalam dua bentuk konflik, yaitu konflik berdasarkan waktu dan ketegangan. Sedangkan kesejahteraan diukur menggunakan kepuasan kerja dan keluarga. Penelitianpenelitian terdahulu belum menguji peran pemoderasian kecerdasan emosional dalam hubungan konflik pekerjaan-keluarga. Oleh karena itu, penelitian ini menguji peran pemoderasian kecerdasan emosional dalam hubungan tersebut. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode survei dengan kuesioner. Responden penelitian adalah kepala sekolah. Data mengenai konflik pekerjaan-keluarga didapatkan dari persepsi pasangan suami istri. Persepsi pasangan ini ditujukan untuk mendapatkan data mengenai konflik pekerjaankeluarga yang lebih valid, yang belum banyak dilakukan pada penelitianpenelitian sebelumnya. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi berganda dan hierarchical (moderated) regression analysis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata hanya konflik berdasarkan ketegangan saja yang terbukti berpengaruh negatif terhadap kepuasan kerja. Selain itu, ditemukan peran pemoderasian kecerdasan emosional pada hubungan konflik berdasarkan ketegangan dan kepuasan kerja.
The most important domain on someone’s life is work and family. Everyone have specific roles on it, and ideally he/she trying to balance it. But, it will lead work-family conflict as the demand is incompatible each other. Based on role theory, work-family conflict affect someone’s well-being. Well-being indicate someone’s happiness and sobriety, so it’s important to concern on it. In the current research, work-family conflict identified into two form, i.e. time-based and strain-based conflict. While well-being measured by job and family satisfaction. Prior researches didn’t investigate the role of emotional intelligence as a moderator in the relationship of work-family conflict and well-being. Therefore, the current research examine the role of emotional intelligence on it. Data collected using survey method by questionnaire. The respondents in the current research is headmasters. Data of perceived work-family conflict gained from couple’s perceive. It is aimed to get more valid data about perceived workfamily conflict, which rarely done in the prior researches. In the current research, the hypotheses testing used multiple regression and hierarchical (moderated) regression analysis. Results showed that strain-based conflict negatively affect job satisfaction. Emotional intelligence founded as a moderator variable in the relationship of strain-based conflict and job satisfaction.
Kata Kunci : konflik pekerjaan-keluarga, konflik berdasarkan waktu dan ketegangan, kesejahteraan, kepuasan kerja dan keluarga, kecerdasan emosional, pasangan