Laporkan Masalah

DISKURSUS KEAGAMAAN DALAM RUANG MAYA (Analisis Semiotik terhadap Diskursus Keagamaan dalam Halaman Facebook “Aqidah Ahlussunnah: Allah Ada Tanpa Tempat”)

Nita Hamida Noeris, Prof. Susetyawan

2012 | Tesis | S2 Sosiologi

Penelitian ini berjudul “Diskursus Keagamaan dalam Ruang Maya (Analisis Semiotik terhadap Diskursus Keagamaan dalam Halaman Facebook “AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT”). Tema tersebut dipilih karena keberadaan ruang maya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat dewasa ini. Keberadaan Facebook sebagai sebuah ruang publik dalam kebudayaan masyarakat maya yang cukup fenomenal telah menjadikan Facebook sebagai sebuah media alternatif untuk melakukan beragam diskursus keagamaan. Satu hal yang kemudian menjadi pertanyaan mendasar adalah sejauh mana Facebook mampu berperan sebagai ruang yang representatif untuk melakukan dialog keagamaan yang demokratis dan egaliter terhadap berbagai pandangan ataupun keyakinan yang berbeda. Pertanyaan tersebut kemudian dicoba untuk dijawab dengan menggunakan metode analisis semiotika sebagai sebuah cara untuk memahami dan menggambarkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat. Peran semiotika sebagai tool of analysis menjadi penting untuk membongkar makna tanda yang mengemuka dalam teks-teks yang terdapat pada ruang maya, dalam hal ini yaitu Facebook sebagai sebuah media untuk melakukan diskursus keagamaan. Oleh karena itu, sasaran penelitian dalam kajian ini adalah status dan catatan pada page Facebook “AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT”. Penelitian dilakukan dalam dua tahapan, yaitu penelitian historis melalui studi pustaka dan penelusuran internet untuk memahami konteks dari subyek kajian, dan berikutnya adalah interpretasi, yaitu sebuah proses pemaknaan terhadap tanda. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga cara, yaitu dokumentasi, observasi dan wawancara. Selanjutnya analisis semiotika dilakukan untuk membaca tanda pada status yang diunggah dalam page tersebut dengan menggunakan perspektif Barthesian mengenai dua tatanan pertandaan, yaitu denotasi serta konotasi dan mitos. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Facebook ternyata tidak cukup representatif untuk melakukan dialog atau diskursus keagamaan dan cenderung untuk semakin mempertajam konflik sektarian yang ada. Hal ini berkaitan dengan situasi ruang maya Facebook dimana komunikasi yang berlangsung adalah komunikasi yang termediasi, yaitu dengan menggunakan komputer sebagai medianya. Dengan bentuk komunikasi yang demikian, maka peluang untuk terjadinya komunikasi yang terdistorsi menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, ketika kondisi yang demikian dimanfaatkan untuk berbicara mengenai agama dan segala yang terkait dengannya, maka peluang untuk terjadinya konflik menjadi semakin tajam karena persoalan agama adalah persoalan keyakinan yang hanya mengenal benar atau salah, hitam atau putih.

The tittle of this study is “Religious Discourse in the Cyberspace (Semiotic Analysis of Religious Discourse in the Facebook page “AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT”). The theme was chosen because of existence of virtual space has become an integral part of the culture of today's society. The existence of Facebook as a public space in the virtual society's culture which is quite phenomenal has made Facebook as an alternative medium to perform various religious discourse. One thing that became the fundamental question is how far Facebook able to play a role as a representative space for religious dialogue that is democratic and egalitarian to various different views or beliefs. The question is then attempted to answer by using the method of semiotic analysis as a way to understand and describe the social realities that exist in society. The rool of semiotic as a tool of analysis is important to breaking the meaning of the sign that emerged in texts contained in the virtual space, in this case that is Facebook as a medium for religious discourse. Therefore, the research objectives of this study is the status and notes on a Facebook page “AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT”. The study was conducted in two stages, that is historical research through the study of literature and internet search to understand the context of the study subjects, and the next is the interpretation, a process of interpretation of signs. The data was collected in three ways, that is documentation, observation and interviews. Further analysis of semiotic made to read the signs on the status which is uploaded in the page by using the perspective of Barthesian, that is through two order of signification, denotation, connotation and myth. The results of this study indicate that Facebook was not sufficiently representative to have a dialogue or discourse of religion and tend to progressively sharpen sectarian conflict there. This relates to Facebook's cyberspace situations where the communication that goes up is a mediated communication, that is by using the computer as a medium. With such a form of communication, the opportunity for the occurrence of distorted communication that is becoming increasingly high. Therefore, when the conditions are so used to talking about religion and everything associated with it, the better the chance for conflict becomes increasingly sharp as the question of religion is a matter of faith that knows only right or wrong, black or white.

Kata Kunci : Facebook, Masyarakat Maya, Diskursus Keagamaan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.