Laporkan Masalah

KAJIAN RABIES DI KOTA AMBON : EVALUASI KINERJA PETUGAS VAKSINASI DAN TINGKAT KEKEBALAN ANJING

Astri Dwyanti Tagueha, drh. Heru Susetya, MP., Ph.D.

2011 | Tesis | S2 Sain Veteriner

Kota Ambon merupakan daerah endemis rabies sejak tahun 2003. Vaksinasi massal dengan metode kunjungan rumah ke rumah dan melibatkan para petugas vaksinasi merupakan program pengendalian utama. Program vaksinasi belum efektif karena kasus gigitan dan kejadian rabies pada anjing tetap tinggi setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kinerja petugas vaksinasi dan faktor-faktor yang memengaruhinya, tingkat kekebalan anjing dan faktor-faktor yang memengaruhinya, serta hubungan antara kedua hal tersebut. Sebanyak 21 orang petugas vaksinasi diwawancarai dengan menggunakan kuesioner dan telah diuji dua kali untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas yang diinginkan. Kinerja petugas dikategorikan baik dan kurang berdasarkan mean jumlah pertanyaan. Penentuan sampel anjing didasarkan pada tingkat konfidensi 95%, galat 0,05, dan asumsi prevalensi 74% diperoleh 308 ekor. Sejumlah 418 sampel darah anjing yang berasal dari lima kecamatan dan 14 desa diambil dengan metode tahapan berganda dan klaster rumah tangga. Titer antibodi dinyatakan protektif terhadap rabies jika hasil pengujian ELISA ≥ 0,5 IU/ml. Hasil penelitian menunjukkan cakupan vaksinasi sangat rendah yaitu 36,84% dan prevalensi titer antibodi protektif 3,35%. Analisis linear regression menunjukkan faktor yang memengaruhi kinerja petugas vaksinasi yakni pengetahuan dan ketersediaan sarana penunjang vaksinasi sedangkan Kecamatan Nusaniwe, Kecamatan Baguala, pendidikan pemilik anjing, periode pascavaksinasi 0 - 6 bulan, jenis kelamin, dan anjing yang dipelihara sebagai penjaga rumah secara signifikan memengaruhi titer antibodi protektif. Analisis unweighted logistic regression menunjukkan faktor yang berasosiasi dengan tingkat kekebalan anjing yaitu Kecamatan Baguala (OR=0,05), Kecamatan Sirimau (OR=0,09), anjing yang dipelihara sebagai penjaga rumah (OR=3,96), pendidikan pemilik anjing (OR=12,29), dan periode pascavaksinasi 0 - 6 bulan (OR=27,08). Hasil uji t-independent test menunjukkan tidak ada perbedaan mean titer antibodi anjing terhadap rabies (P > 0,05) antara kinerja petugas baik dan kurang sehingga tidak ada hubungan antara keduanya. Jaminan ketersediaan sarana penunjang vaksinasi dan peningkatan pengetahuan petugas menjadi prioritas saat ini. Program vaksinasi perlu ditingkatkan dengan memperhatikan empat faktor yang muncul pada kedua hasil regresi.

Ambon is a rabies endemic area since 2003. Door to door mass vaccination method involving vaccinators is the main control program. Vaccination have not been effective as dog-bite injury and the incidence of rabid dog are increasing every year. The objectives of this study were to identify factors associated with vaccinator performance, factors associated with level of herd immunity againt rabies, and to reveal relation between these two. A total of 21 vaccinators were interviewed using questionnaire which have tested twice to obtain good validity and reliability. Good and mediocre vaccinator performance were categorized based on the mean score of all the questionnaire. Dog samples were determined by 95% confidence level, error 0.05, and prevalence assumption 74% resulting a total of 308 dogs. Four hundred and eighteen blood samples were collected from five subdistricts and 14 villages using stratifed and household cluster methods. The dog titers sample was stated as protective to rabies if its antibody titers in ELISA test is ≥ 0,5 IU/ml. The results showed that vaccination coverage is very low i.e. 36.84% and the prevalence of protective antibody titers is 3.35%. Linear regression analysis reveals factors influencing the vaccinator performance are vaccinator knowledge and availability of facilities supporting vaccination while dog ownership, subdistrict of Nusaniwe, subdistrict of Baguala, dog owner education, post-vaccination period of 0 - 6 months, sex, and dogs kept as a guard house affect protective level of antibody titers. Unweighted logistic regression revealed that subdistrict of Baguala (OR = 0.05), subdistrict of Sirimau (OR = 0.09), dog kept as a guard house (OR = 3.96), dog owner education (OR = 12.29), and post-vaccination period of 0 - 6 months (OR = 27.08) are significantly associated with dog’s immunity. The results of t-independent test showed no mean dog antibody titers againts rabies difference (P > 0.05) between good and mediocre vaccinator performance, therefore, there is no relation between both of them. The availability of facilities to support vaccination and training for vaccinators should be prioritized. Vaccination programs need to be improved by considering the four factors that emerged in these two regression results.

Kata Kunci : rabies, kinerja petugas vaksinasi, tingkat kekebalan anjing, ELISA, Kota Ambon


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.