PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM SEKTOR PERTANIAN TANAMAN PANGAN GUNA MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN
Sumarta, Prof. Dr. Ir. Edhi Martono, M.Sc
2011 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalPenelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Kulon Progo, yang berjarak + 30 Km ke arah barat dari kota Yogyakarta. Adapun yang melatar belakangi adalah masih tingginya jumlah Rumah Tangga Miskin yakni dari 120.518 KK yang ada, 34,91 % atau 42.078 KK tergolong Rumah Tangga Miskin, dan adanya daerah rawan pangan yakni sebanyak 7 kecamatan dari 12 kecamatan,meliputi Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Sentolo, Kokap, Panjatan dan Lendah yang tersebar di 34 Desa, padahal ditinjau dari potensi wilayah dan sarana prasarana yang ada cukup mendukung, seperti adanya jaringan irigasi Kalibawang dan Sapon serta adanya Bendungan Sermo di Kecamatan Kokap. Tujuan Penelitian adalah untuk merumuskan model pemberdayaan SDM di bidang pertanian tanaman pangan guna mendukung ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode survei dan bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, sehingga sampel yang terpilih adalah 40 responden yaitu 15 responden yang memahami dan berkecimpung dalam pengembangan SDM petani di Kabupaten Kulon Progo dan 25 responden adalah petani yang menjadi obyek sekaligus subyek dalam usaha pertanian tanaman pangan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, kuesioner, wawancara, serta dokumentasi. Analisis data menggunakan metode SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumusan alternatif model pemberdayaan SDM di bidang pertanian tanaman pangan guna mendukung ketahanan pangan wilayah berdasarkan identifikasi faktor internal dan eksternal yang dilanjutkan dengan analisis Matrik Internal-Eksternal dengan metode SWOT merekomendasikan untuk memilih : (1) Strategi SO : Peningkatan Kapasitas Produksi Usahatani dan Peningkatan Partisipasi Masyarakat, (2) Strategi ST: Perketat Ijin Alih Fungsi Lahan dan Penyesuaian Pola Tanam Terhadap Perubahan Iklim, (3) Strategi WO : Penerapan Teknologi Pertanian dan Peningkatan Sistem Distribusi Pangan, (4) Strategi WT : Pengembangan Sistem Cadangan Pangan,dan Diversifikasi Produksi dan Konsumsi Pangan. Atas dasar rekomendasi tersebut pemberdayaan SDM petani yang relevan yaitu melalui Sekolah Lapang Pertanian Terpadu (SLPTT) dan Farmers Managed Extension Activites (FMA). Kedua Model ini memberikan keleluasaan kepada petani melalui kelompok tani/gabungan kelompok tani untuk menentukan produk unggulan yang akan diusahakan sesuai potensi wilayah, dengan praktek langsung yang didampingi oleh penyuluh pertanian, sehingga peran penyuluh dapat optimal dan mampu meningkatkan produktivitas petani.
The research was conducted in the district of Kulon Progo, within + 30 km west from the city of Yogyakarta. The background to the still high number of Poor Households ie from 120,518 existing households, 34.91 % or 42,078 families belonging to Poor Households, and the presence of food-insecure areas of the 7 districts of 12 districts, including District Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Sentolo , Kokap, Panjatan and Lendah scattered in 34 villages, but in terms of potential areas and that there is enough infrastructure support, such as the existence Kalibawang and Sapon irrigation networks and the presence of Sermo Dam in District Kokap. The research goal is to formulate a model of empowerment of human resources in the field of food crops to support food security in the region Kulon Progo Regency, Yogyakarta Special Region. Research method used is descriptive method with survey and qualitative and quantitative approaches. The sampling technique using a purposive sampling method, namely the determination of samples with a certain consideration, so that the selected sample of respondents was 40 of 15 respondents who understand and are engaged in human resource development in Kulon Progo Regency farmers and 25 respondents were farmers who became the object as well as subjects in the agricultural business food crops. The data was collected through observation, questionnaires, interviews, and documentation. Data analysis using the SWOT method. The results showed that the formulation of alternative models of empowerment of human resources in the field of food crops to support food security based on the identification of internal and external factors, followed by the Internal-External Matrix analysis with SWOT method recommended to choose: (1) SO Strategy: Increase Farm Production Capacity and Increased Community Participation, (2) ST Strategy: Tighten Permit Transfer Function of Land and Planting Pattern Adjustment to Climate Change, (3) WO Strategies: Application of Technology of Agricultural and Food Distribution System Improvement, (4) WT Strategy: Development of the Food Reserve System, and Diversification of Food Production and Consumption. On the basis of these recommendations are relevant to farmers' empowerment of human resources is through the Field Integrated Agricultural (SLPTT) and Farmer Managed Extension Activites (FMA). The second model is to give freedom to farmers through farmer groups / farmer groups combined to determine a superior product to be commercialized in accordance potential areas, with direct practice, accompanied by agricultural extension, so the role of extension can be optimized and able to increase the productivity of farmers.
Kata Kunci : Pemberdayaan SDM, Ketahanan Pangan, Kabupaten Kulon Progo.