STUDI ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP PERFORMATIVITAS IDENTITAS PEREMPUAN ISLAM DALAM AKUN PRIBADI PEREMPUAN SALAFI DI FACEBOOK
Nurul Fitri Hapsari, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA.
2011 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaFacebook, sebagai media online yang interaktif, mampu membuat setiap penggunanya mereproduksi makna-makna sesuai tafsirannya. Akibatnya, melalui performativitas tulisantulisan mereka di Facebook, perempuan Salafi pun mampu mendefinisikan dan memaknai identitas mereka sebagai perempuan Islam. Oleh karena itulah, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis performativitas identitas perempuan Islam yang ditampilkan oleh kedelapan perempuan Salafi pada akun pribadi mereka di Facebook guna mengetahui diskursus identitas perempuan Islam yang terkait dengan peran jendernya. Namun, peneliti membatasi perempuan Salafi yang dimaksud, yaitu mereka yang telah menikah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis peran Facebook dalam mengartikulasi diskursus identitas perempuan Islam tersebut. Atas dasar inilah, pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan etnografi, yaitu observasi online dan offline, serta wawancara, baik secara online maupun offline. Data-data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis teks Fairclough. Berdasarkan hasil analisis data-data yang ada, peneliti kemudian menemukan beberapa hal. Pertama, performativitas identitas perempuan Islam yang ditampilkan oleh kedelapan informan di sini sangatlah bersifat ideologis dan politis, serta sarat akan proses dialektika dan negosiasi. Hal ini dikarenakan adanya dialektika yang terjadi antara kedelapan perempuan Salafi tersebut dengan komunitas Salafi mereka dan kondisi sosial budaya Indonesia. Kedua, Facebook berperan sebagai face of dialectics dan face of Islamic Make-Up. Sebagai face of dialectics, Facebook mampu mengartikulasikan proses dialektika yang terjadi, baik antara perempuan Salafi tersebut dengan komunitas Salafinya dan sosial budaya di sekitar mereka, maupun antara komunitas Salafi di Indonesia sendiri dengan pemikiran pendirinya di Timur Tengah, Ibn Abd Al Wahhab, di dalam menampilkan dikursus identitas perempuan Islam melalui performativitas identitas mereka di Facebook. Akibatnya, Facebook akan selalu menjadi wajah yang menggambarkan bagaimana repitisi dan demistifikasi atas diskursus perempuan Islam terbentuk dari proses dialektika dan negosiasi diproduksi terus menerus. Selanjutnya, sebagai face with Islamic Make Up, Facebook mampu menjadi laboratorium atas self creating bagi para penggunanya, sehingga mereka mampu merefleksikan identitas keislaman mereka secara keratif dan simbolis melalui proses code switching, layaknya sebuah riasan. Dengan demikian, Facebook, melalui tulisan-tulisan kedelapan informan di sini, dapat disimpulkan mampu membuat mistifikasi atas diskursus identitas perempuan Islam dapat dieleminasi meskipun tidak sepenuhnya menghilang. Hal ini dikarenakan adanya kenyataan bahwa tidak semua perempuan Islam, dalam hal ini perempuan Salafi, dapat atau ingin mengakses internet (Facebook), sehingga secara tidak langsung terjadi proses seleksi awal atau proses penyaringan atas diskursus perempuan Islam yang ditampilkan melalui performativitas identitas mereka sendiri.
Facebook, as an interactive online media, can make its users reproduce meanings as their own interpretation. Thus, through their writings in Facebook, Salafi women can be able to define and interpret their own identity as Islam women. Therefore, this study is aimed to analyze identity performativity of Islam women performed by eight Salafi women in their personal accounts in Facebook in order to know discourse of Islam women’s identity related with their gender role. However, only married Salafi women would become informants of this study. Moreover, this study is also aimed to analyze the roles of Facebook in articulating the discourse. Thus, data were collected with ethnography approach, namely online and offline observation, as well as online and offline interview. The collected data were then analyzed with Fairclough’s analyzing text method. Based on the analysis results, the researcher found several findings. First, identity performativity of Islam women performed by those eight informants is very ideological and political, as well as full of dialectics and negotiation processes. It is because there is a dialectics between those women with their Salafi community and Indonesian social culture. Second, Facebook plays roles as a face of dialectics and as a face of Islamic Make-Up. As a face of dialectics, Facebook can articulate dialectics process occurred, either between those Salafi women and their Salafi community as well as the social culture around them, or between this Salafi community in Indonesia and the thoughts of its founder in East Asia, Ibn Abd Al Wahhab, in performing the discourse of Islam women’s identity through identity performativity of those informants in Facebook. As a result, Facebook will always be a face reflecting how repitition and demystification of Islamic woman discourse formed through dialectics and negotiation processes are reproduced continually. Next, as a face with Islamic Make Up, Facebook can become a laboratory of self-creating for its users, as a result, those informants can reflect their Islamic identity creatively and symbolically through code switching process, as a make-up. Therefore, Facebook, through all writings produced by those informants, can finally be concluded as a media that can make mystification of the discourse of Islam women’s identity eliminated though not all dismissed. It is because the fact that not all of Islam women, in this case Salafi women, can or will access internet (Facebook), so it can indirectly cause pre-selection or filtering process for the discourse of Islam women performed through their identity performativity in Facebook.
Kata Kunci : Performativitas Identitas, Peran Jender, Salafi