Laporkan Masalah

Dampak Sosial Program Integrated Community Based Risk Reduction (ICBRR) terhadap Masyarakat Korban Gempa & Tsunami (Studi Program ICBRR-PMI di Gampong Lambaro Skep Kecamatan Syiah Kuala)

Akmal Saputra, S.Sos I, Prof. Dr. Heru Nugroho

2011 | Tesis | S2 Sosiologi minat Kebijakan dan Kesejahteraan Sosial

Pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, Provinsi Aceh dilanda musibah yang mengakibatkan masyarakat tidak berdaya untuk bangkit, karena kelumpuhan dari segi fisik dan non fisik. Sehingga mengundang para pekerja kemanusiaan dari berbagai negara ikut berpartisipasi dalam memulihkan kembali Provinsi Aceh. Tidak hanya sektor formal (pemerintah) tapi juga nonformal (non pemerintah) ikut ambil bagian dalam membangun kehidupan baru. Strategi yang digunakan dalam pemulihan itu adalah strategi pemberdayaan, yang mengupayakan masyarakatnya agar tumbuh menuju kemandirian. Terkait dengan penelitian ini, penulis melihat bagaimana dampak sosial program ICBRR terhadap masyarakat korban gempa dan tsunami di Gampong Lambaro Skep dan bagaimana partisipasi masyarakat pada program ICBRR. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik purpossive yang sekaligus juga menggunakan teknik snowball, Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi, observasi dan wawancara (interview). Dalam menganalisis, peneliti menggunakan analisis kontekstual dan interpretatif, dimana yang terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu pengklasifikasian data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak sosial program ICBRR, salah satunya adalah telah menguatnya institusi lokal di Gampong Lambaro Skep, dalam konteks penelitian ini adalah PMI-ICBRR telah menggunakan atau memanfaatkan lembaga adat (tuha peut) untuk program pemberdayaan (program pengurangan risiko terpadu berbasis masyarakat), selain itu meningkatnya budaya gotong royong di Gampong Lambaro Skep, kegiatan-kegiatan pengurangan risiko terpadu yang selama ini mereka laksanakan memberikan dampak positif dalam peningkatan rasa kebersamaan dan rasa memiliki, hal ini dinilai selama beberapa tahun yang lalu, masyarakat sering berkumpul bersama ketika ada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh PMI-ICBRR, dan ini menjadikan mereka semakin dekat dan akrab, sebelumnya masyarakat di Gampong tidak semuanya saling mengenal, kerena masyarakat Gampong Lambaro Skep sangat heterogen, banyak pendatang dari berbagai kabupaten bahkan pendatang dari luar provinsi Aceh sendiri Partisipasi masyarakat Gampong dapat dikatakan cukup baik, tingkat partisipasi masyarakat pada program ICBRR paling tinggi baru dicapai sampai pada tahap keenam yaitu kemitraan Pada tahap ini masyarakat sudah memiliki kekuasaan atas pelaksanaan kegiatan, dimana pada tahap ini baru dirasakan dalam kegiatan: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya, resiko/bencana, pembentukan CDMC, Pembentukan TIM CBAT, Sistem Peringatan Dini. pengelolaan dana kontigensi, dimana masyarakat telah mendapat tempat dalam suatu program pembangunan.Selanjutnya dalam kegiatan koordinasi dengan pemerintah dan lembaga-lembaga pemberi bantuan tingkatan partisipasi baru mencapai pada tahap penentraman (palcation), dimana masyarakat telah diberi ruang partisipasi untuk menyampaikan pendapat, saran, dan masukan. Namun proses pelaksanaan kegiatan masih dikendalikan oleh pihak PMI-ICBRR, masyarakat hanya sebatas pelaksana kegiatan.

In December 26, 2004 Aceh Province suffered from disaster that resulted in powerless society due to physical and non physical paralysis. It encouraged humanitarian workers from various countries to participate in recovering Aceh Province. Formal sector (government) and non formal (non government) sector contributed to develop new life. Strategy used in the recovery process was empowerment that builds community to be independent. Related to this research, author considered social impact of ICBRR Program conducted for earthquake and tsunami victims in Gampong Lambaro Skep and people participation in the ICBRR program. It used qualitative method, with purposive sampling technique and snowball technique. Data was collected with documentation, observation and interview. The author used contextual and interpretative analysis that consisted of three activities done simultaneously, namely, data classification, data interpretation and drawing conclusion. The results indicated that one of social impacts of ICBRR program is stronger local institution in Gampong Lambaro Skep. In this research context, PMI-ICBRR has used adat institution (tuha peut) for empowerment program (integrated community based risk reduction). In addition, gotong royong culture in Gampong Lambaro Skep has increased. Activities in integrated risk reduction have given positive impact in increasing togetherness and belonging. It was indicated with community gathering in activities held by PMI-ICBRR and this made them closer and chummier. Previously, they did not know each other, because Gampong Lambaro Skep community was heterogeneous with many comers from various regencies even from outside Aceh. Gampong people participation was good; people participation in ICBRR program achieved the sixth step, namely, partnership. In this step, the community had power on activity implementation. This step was implemented in such activities as increasing community awareness on disaster rick, CDMC establishment, CBAT team establishment, early warning system, contingence fund management. In these activities, local community have got place in development program. Then, in activity of coordination with government and funding institution, the participation just achieved placation step, where community has been place for participation to present opinion, suggestion and recommendation. However, its activity implementation was still controlled by PMI-ICBRR; the local community was just as activity executor.

Kata Kunci : Dampak Sosial, Partisipasi, Manajemen Bencana, Pemberdayaan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.