Laporkan Masalah

ANALISIS KOORDINASI LINTAS SEKTOR PADA KOMISI LANJUT USIA KOTA YOGYAKARTA DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA

SRI PURNANINGSIH, SIP, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, M.P.A.

2011 | Tesis | S2 Magister Adm. Publik

Jumlah penduduk lanjut usia di Kota Yogyakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun hingga mencapai 10,59 persen dari jumlah penduduk Kota Yogyakarta. Hal ini menimbulkan berbagai permasalahan yang sangat kompleks, baik pada demografi, sosial, ekonomi, maupun politik. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kebijakan yang komprehensif dan terkoordinasi dengan semua sektor agar permasalahan lansia ini dapat ditangani. Komisi Lansia Kota Yogyakarta merupakan wadah koordinasi antarinstansi di Pemerintah Kota Yogyakarta dengan masyarakat yang bersifat nonstruktural dan independen. Komisi ini diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan lansia dan dapat meningkatkan kesejahteraan lansia di Kota Yogyakarta. Sektor-sektor yang terlibat dalam komisi ini memiliki derajat otonomi masingmasing dengan hubungan yang bersifat horizontal dan karakteristik sumber daya yang berbedabeda. Permasalahan lansia dapat tertangani secara komprehensif apabila koordinasi lintas sektor dapat berjalan optimal. Penelitian ini ingin melihat pola relasi antarsektor, pola kerja sama antarsektor, dan mekanisme koordinasi lintas sektor di Komisi Lansia Kota Yogyakarta dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia. Penelitian ini menggunakan teori interorganisasi karena teori organisasi yang rasional (klasik) tidak dapat menjawab fenomena horizontal yang terjadi dalam perkembangan governance. Fenomena horizontal adalah hubungan yang sejajar antarsektor dalam governance. Analisis interorganisasi lebih memfokuskan pada hubungan antarorganisasi, pertukaran sumber daya, dan pengaturan organisasi yang dikembangkan untuk menjamin koordinasi antarorganisasi. Metode kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan fokus pada studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap-tiap sektor yang tergabung dalam Komisi Lansia Kota Yogyakarta menunjukkan relasi horizontal yang menjamin tiap-tiap pihak tetap mempertahankan otonominya. Dengan demikian, hubungan dan kerja sama antarsektor bersifat mitra kerja. Relasi tersebut terjadi karena adanya kedekatan emosional antarindividu yang terlibat dalam Komisi lansia Kota Yogyakarta, adanya tingkat ketergantungan antarsektor, dan pertukaran sumber daya antarsektor. Sedangkan mekanisme koordinasi yang digunakan di dalam komisi tersebut adalah penyesuaian bersama (mutual adjustment) serta aliansi dengan metode mediated coordination dan unmediated coordination. Tiap-tiap sektor yang terlibat melakukan komunikasi dan kerja sama untuk penyesuaian (sinkronisasi) dengan koordinasi horizontal demi mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan, yaitu meningkatkan kesejahteraan lanjut usia di Kota Yogyakarta. Komisi bertindak sebagai mediator dan inisiator koordinasi lintas sektor dalam upaya peningkatan kesejahteraan lanjut usia di Kota Yogyakarta. Untuk memperlancar koordinasi dengan masyarakat, Komisi Lanjut Usia Kota Yogyakarta membentuk dan melembagakan Forum Komunikasi Lansia di tingkat kecamatan, Paguyuban Lansia di tingkat kelurahan, dan Kelompok Lansia di tingkat RW. Namun setelah tiga tahun berjalan, koordinasi lintas sektor di Komisi Lanjut Usia Kota Yogyakarta mengalami penurunan karena berbagai kendala dan hambatan. Akibatnya adalah upaya Komisi Lanjut Usia Kota Yogyakarta dalam meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia di Kota Yogyakarta menjadi tidak maksimal. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan agar Komisi Lansia Kota Yogyakarta lebih aktif melakukan sosialisasi, komunikasi, kerja sama, dan koordinasi lintas sektor yang lebih intensif, serta mengembangkan jaringan dengan berbagai lembaga yang bergerak di bidang kesejahteraan lanjut usia. Hal ini dimaksudkan agar upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia di Kota Yogyakarta dapat berjalan dengan optimal.

The number of elderly people in Yogyakarta have increased more each year up to 10,59% from the total population in Yogyakarta. This increasing had caused some complex problems, such as in demography, social, economy and politic. There is a need of comprehensive policy and coordination in all sectors to handle problems related to elderly people. The Commission of Yogyakarta Elderly People is a coordination commission among Yogyakarta Government and community which is a non-structural and independent board. The commission is hoped to be able to cope elderly people’s problems to increase their social welfare. Sectors which involved in the commission had different degree of autonomy and horizontally related with different characteristic. The problems of elderly people could be handled comprehensively if the intersector coordination could perform optimally. This study intends to know the relation system between sectors, inter-sectors cooperation and mechanism of inter-sectors coordination in the Commission of Yogyakarta Elderly People to increase social welfare of elderly people. Rational organization theory (classic) could not answer the horizontal phenomena in the government improvement. The horizontal phenomena is an equal relation among sectors in terms of governance. So this study will be using inter-organization theory. The inter-organization analysis focuses more on the relationship between organization, resources exchange and management of the organization which developed to assure the coordination between organizations. Descriptive qualitative method is used in this study focusing on the case study. The result shows each sector which attached in the Commission of Yogyakarta Elderly People have performed the horizontal relation while maintained their own autonomy. Each sectors served as partner in the relation and cooperation. From the emotional closeness between individual involved in the Commission of Yogyakarta Elderly People, the dependence degree between sectors and the exchanged of resources between the sectors, the relation has occur. Meanwhile the coordination mechanism used in the commission is mutual adjustment and alliance by mediated coordination and unmediated coordination. All related sectors communicated and in cooperation to reach the mutual established purposes to increase the social welfare of elderly people in Yogyakarta. The type of coordination in the Commission of Yogyakarta Elderly People is a horizontal coordination. This Commission acts for mediator and coordinator initiator between sectors in order to increase social welfare of elderly people in Yogyakarta. To smooth the coordination with community, the Commission of Yogyakarta Elderly People has formed the Elderly Communication Forum in the district, village and elderly groups in the neighborhood. However, after 3 years of running, coordination between sectors in the Commission of Yogyakarta Elderly People began to decrease because of some constraints. The consequences were an effort of the commission was beyond maximal to improve social welfare of elderly people in Yogyakarta. Therefore the researcher recommended The Commission of Yogyakarta Elderly People to be more active and intensive in socializing, communicating, cooperative and coordination between sectors and developing network with other institutions related to elderly welfare. This meant that efforts to improve social welfare of elderly people in Yogyakarta can run optimally.

Kata Kunci : Lanjut usia, kesejahteraan, Kota Yogyakarta


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.