Laporkan Masalah

TRANSFORMASI HABITUS PADA KOMUNITAS PENERIMA ZAKAT

DEWI CAHYANI PUSPITASARI,S.SOS, Drs.Purwanto,M.Phil

2012 | Tesis | S2 Sosiologi

Pengelolaan zakat yang dilakukan oleh organisasi pengelola zakat (OPZ) mengalami transformasi signifikan sejak pengelolaan zakat tahun 1990-an. Kondisi ini berupa pola distribusi zakat beralih dari ranah amal sosial keagamaan menuju ranah pemberdayaan pengembangan ekonomi. Dengan kata lain, zakat mengalami peralihan dari pola distribusi zakat bersifat karitatif (santunan) menjadi produktif atau dikenal dengan zakat produktif. Hal inilah kemudian berimplikasi pada implementasi program atau kegiatan yang dilakukan oleh OPZ pada komunitas penerima zakat mulai mengadopsi konsep pemberdayaan masyarakat. Meskipun dengan kondisi berbeda, peran serta program yang diintervensikan oleh OPZ pada komunitas penerima zakat mampu memberikan perubahan termasuk adanya proses transformasi habitus. Penelitian ini bermaksud melihat dan memetakan kecenderungan 2 (dua) OPZ yaitu DPU-DT dan BMD dalam mengimplementasikan program pendampingan zakat produktif. Setelah memetakan posisi kedua OPZ tersebut dapat diperoleh deskripsi pola pendampingan yang mengacu pada interpretasi lembaga mengenai zakat produktif. Karena penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses atau mekanisme transformasi habitus pada komunitas penerima zakat (dhuafa) yang dilakukan DPU-DT dan BMD, maka pendekatan analisis teori habitus (Bourdieu) menjadi relevan. Selain itu, teori habitus tersebut dipadukan dengan teori perubahan sikap, teori transformasi sosial dan teori pemberdayaan masyarakat untuk menghasilkan analisis transformasi habitus yang komprehensif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi, FGD dan studi dokumen pada para pihak yaitu individu penerima zakat (dhuafa), pengurus lembaga OPZ, Forum Organisasi Zakat (FOZ) serta ahli yang kompeten pada analisis zakat dan teorisasi habitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme transformasi habitus diperoleh dari kegiatan pendampingan yang dilakukan OPZ pada komunitas penerima zakat (dhuafa). Dari pola pendampingan inilah yang kemudian dhuafa melakukan reproduksi pengetahuan dan reproduksi habitus untuk memunculkan praktik sosial berupa ‘habitus baru’. Bentuk habitus baru ini ada pada 2 (dua) aspek yaitu habitus zakat dan habitus produktif. Implikasi transformasi habitus ini masih dominan pada level individu belum pada level kelompok (komunitas). Hal ini dikarenakan keragaman karakteristik demografi dan sosial budaya dari komunitas serta pola pendampingan yang dilakukan oleh OPZ. Kondisi ini berimplikasi pada kemandirian komunitas OPZ. Kondisi kemandirian komunitas DPU-DT sama halnya dengan komunitas BMD masih pada level individu belum kelompok. Hanya saja untuk komunitas DPUDT, penjagaan kondisi kemandirian komunitas masih dilakukan 1 (satu) bulan sekali sekaligus monitoring sehingga intensitas informasi mengenai perkembangan komunitas dapat terpantau secara kontinyu. Sementara untuk komunitas BMD masih belum intensif pasca kemandirian program sehingga tanggung jawab monitoring oleh pengelola BMD dilakukan bila ada permasalahan saja bukan pada mekanisme pendampingan yang kontinyu. Hal ini menunjukkan bahwa implikasi dari adanya transformasi habitus komunitas dhuafa belum direspon oleh OPZ sebagai sarana untuk menjaga kemandirian yang berkelanjutan.

Zakat management conducted by management organization of zakat (OPZ) experienced a significant transformation since management of zakat in the 1990. This condition is in the form of zakat distribution pattern shifted from charity toward economic development empowerment or known as zakat productive. This has implications for the implementation of program or activity conducted by OPZ in the community began to adopt community empowerment concept. Despite, different conditions of participation program intervention by OPZ in community (dhuafa) is able to provide a change includes habitus transformation process. This study intended to see and map out trend of 2 (two) OPZ, DPU-DT and BMD in implementing assistance of zakat productive program. After mapping both of OPZ positions, can be obtained OPZ assistance pattern description which refers to the interpretation of OPZ about zakat productive. Because this study aims to identify process or mechanism of habitus transformation in the community (dhuafa) by DPU-DT and BMD, analytical approach habitus (Bourdieu) becomes relevant. In addition, theory of habitus is combined with the theory of attitude change, theory of social transformation and community empowerment theory to produce a comprehensive analysis of habitus transformation. The research data obtained through interviews, observation, focus group discussion (FGD) and documents to the individual recipient of zakat (dhuafa), management OPZ, Zakat Organization Forum (FOZ) as well as expert in the analysis and theorization of habitus. The results showed that mechanism of habitus transformation derived from OPZ assistance activities carried out in the community (dhuafa). From the pattern of assistance, knowledge reproduction and habitus reproduction of dhuafa became social practices that 'new habitus'. This new form of habitus are in 2 (two) aspects of habitus zakat and productive. Implications of this transformation is still habitus individual level not yet group level (community). That condition because of demographic and socio-cultural characteristics of communities and pattern of assistance made by OPZ. This condition has implications for self-reliance of OPZ community. Conditions self-reliance community of DPU-DT as well as BMD community is still individual level not group. Only for community DPU-DT, guarding self-reliance condition of community still do at one month so intensity of monitoring information on community development can be monitored continuously. As for BMD community still has not been intensive post program so monitoring responsibility by BMD manager only performed when there are problems rather than mechanism of continuous assistance. This suggests that implications of habitus transformation on the dhuafa community has not responded by OPZ as a means to maintain sustainable self-reliance.

Kata Kunci : Organisasi Pengelola Zakat (OPZ), Transformasi Habitus dan Pendampingan Komunitas


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.