JIWA KEWIRAUSAHAAN DI DALAM KEPEMIMPINAN PUBLIK Studi Kasus Kepemimpinan Walikota Yogyakarta Periode 2001 sampai dengan 2010
Rumsari Hadi Sumarto, SIP, Prof. Dr. Warsito Utomo
2011 | Tesis | S2 Manajemen dan Kebijakan PublikTesis ini mendiskusikan mengenai jiwa kewirausahaan pada kepemimpinan Walikota Yogyakarta. Argumen pokok di dalam tesis ini adalah bahwa jiwa kewirausahaan pada kepemimpinan birokrasi pemerintah merupakan konsep yang memberikan kontribusi penting dalam peningkatan kinerja birokrasi pemerintah. Salah satu Kepala Daerah yang berhasil menerapkan pemerintahan kewirausahaan adalah Walikota Yogyakarta. Rumusan permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana jiwa kewirausahaan diterapkan oleh Walikota Yogyakarta dan apakah jiwa kewirausahaan tersebut mampu melembaga pada Pemerintah Kota Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jiwa kewirausahaan yang diterapkan oleh Walikota dalam mengelola Kota Yogyakarta dan untuk mengetahui jiwa kewirausahaan yang mampu melembaga pada birokrasi Pemerintahaan Kota Yogyakarta Jiwa kewirausahaan yang diterapkan Herry Zudianto sangat kental terasa seperti jiwa kewirausahaan yang kreatif, keberanian mengambil resiko, kemampuan mengorganisir dan kemampuan memotivasi bawahan untuk memiliki jiwa kewirausahaan. Jiwa kewirausahaan yang kreatif diterapkan Walikota untuk membuat kebijakan yang dapat dirasakan lain oleh bawahan dan masyarakat Kota Yogyakarta. Dengan sentuhan kebijakan kreatif, Pemerintah Kota Yogyakarta banyak menjadi percontohan pemerintah daerah lain bahkan banyak meraih penghargaan. Jiwa kewirusahaan yang berani mengambil resiko juga diterapkan Walikota sekalipun mendapat penolakan dari para pegawai dan masyarakat. Namun, Herry Zudianto tetap fokus dan konsisten untuk merealisasikan kebijakan tersebut. Jiwa kewirausahaan yang mampu mengorganisir direalisasikan Herry Zudianto melalui pendelegasian wewenang, pengawasan, dan evaluasi. Jiwa kewirausahaan yang memotivasi direalisasikan Herry Zudianto untuk memotivasi bawahannya agar memiliki jiwa kewirausahaan sehingga jiwa tersebut tercermin pada perilaku keseharian para pegawai. Namun demikian, beberapa pegawai mengeluhkan tindakan yang harus serba cepat dan harus kreatif untuk memecahkan suatu masalah dan merealisasi suatu kebijakan karena mereka harus mengikuti pola kerja Walikota yang cepat dan kreatif tersebut. Jiwa kewirausahaan yang melembaga sebagai dampak dari penerapan jiwa kewirausahaan Walikota tercermin pada jiwa kewirausahaan yang melembaga melalui penguatan mekanisme regulasi formal dan informal. Dengan adanya jiwa yang dilegitimasi ini, otomatis jiwa tersebut menjadi perilaku yang harus direalisasi dengan baik oleh aparat Pemerintah Kota Yogyakarta dan masyarakat secara umum. Kemudian jiwa kewirausahaan juga melembaga menjadi pemerintahan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat melalui penguatan nila-nilai kultural di mana jajaran Pemerintah Kota bertindak cepat dan tanggap dalam merespon kebutuhan masyarakat, pemerintahan kewirausahaan berorientasi ke masa depan melalui insentif bagi aparat yang berjiwa inovatif dan disinsentif bagi aparat yang tidak berjiwa inovatif. Pada realitanya, reward memang diberikan kepada aparat yang memiliki kinerja baik tetapi tidak secara nyata reward tersebut diberikan pada aparat yang memiliki jiwa inovatif. Saran yang dapat direkomendasi adalah Pemerintah Kota seyogyanya memberikan secara khusus reward berupa insentif kepada aparat yang berjiwa inovatif. Kemudian untuk merealisasi jiwa yang cepat dan kreatif, Walikota diharapkan dapat memahami situasi dan kondisi para pegawai dan perlu memotivasi mereka secara bertahap.
This thesis describes the entrepreneurial spirit of the leadership of Yogyakarta’s Mayor. The main argument of the thesis is that the entrepreneurial spirit in the leadership of the government bureaucrary is the concept giving important contribution toward the increase of the performance of the goverment bureaucrary. One of the regional heads successfully applying entrepreneurial spirit is Yogyakarta’s Mayor. The problem of the research is that how the Yogyakarta’s Mayor applies the entrepreneurial spirit and whether it is able to institutionalize in Yogyakarta government. The research aims at describing the entrepreneurial spirit applied by the Mayor in managing Yogyakarta and at finding the entrepreneurial spirit which is able to institutionalize in the bureaucrary of Yogyakarta government. Entrepreneurial spirit applied by Herry Zudianto can intensely be felt. It is reflected in the creative entrepreneurial spirit, bravery to take risk, ability to motivate the subordinates to have entrepreneurial spirit. The creative entrepreneurial spirit is applied in making policies felt by his subordinates ant the people of Yogyakarta. The creative policies make Yogyakarta the model for other regional governments and get awards indeed. Herry Zudianto also applies the entrepreneurial spirit of the bravery of taking a risk although it has been refused by the civil servants and the society. He, however, is still focus and focus and consistent in realizing the policy. He applies the entrepreneurial spirit of organizing through delegating authority, supervision, and evalution. And, he applies entrepreneurial spirit of motivating throught motivating his subordinates to have entrepreneurial spirit so that the spirit is reflected in their daily behavior. Some officials. However, complain the quick and the creative actions to solve the problem and realize the policy because they have to follow the quick and creative work pattern of the mayor Institutionalized entrepreneurial spirit is reflected in the strengthening of formal and informal mechanisme. Legitimated entrepreneurial spirit in the rules and regulations will automatically become the behavior that must be realized well by the the officials of Yogyakarta government and the people in general. Entrepreneurial spirit also institutionalizes to be responsive entrepreneurial governance toward the people’s needs through strengthening the cultural values in which Yogyakarta government reacts and responds quickly to the needs of the society. Entrepreneurial governance has future orientation through the incentive for officials having innovative spirit and disincentive for those having no innovative sprit. However, in reality, the reward is given to officials having good performance but implicitly given to those having innovative spirit. The research recommends that Yogyakarta government should give the reward specifically having innovative spirit so that they are able to create the best and innovative job to provide public services. Then, to realize the quick and the creative spirit, the Mayor should understand the situation and condition of the officials and needs to motivate them gradually
Kata Kunci : Kepemimpinan, Pelembagaan Jiwa Kewirausahaan, Pemerintahan Kewirausahaan