ANALISIS KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT BERSERTIFIKASI
ARIS PURWOWIDI YANTO, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc.
2011 | Tesis | S2 Ilmu KehutananHutan rakyat merupakan primadona baru bagi dunia industri perkayuan ditengahtengah menurunnya potensi produksi dari hutan Negara. Di Kabupaten Lumajang Kecamatan Gucialit telah ada sebuah Unit Manajemen Hutan Rakyat bersertifikasi, yaitu UMHR Wana Lestari. Guna mengkaji aspek kelembagaan pengelola hutan rakyat bersertifikat lestari maka penelitian ini bertujuan untuk : 1) Memperoleh data dan menjelaskan kinerja lembaga pengelola hutan rakyat bersertifikat di Kabupaten Lumajang. 2) Memperoleh data dan menjelaskan keadaan akhir lembaga - kelembagaan pengelola hutan rakyat bersertifikat lestari di Kabupaten Lumajang. Metoda dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda kualitatif deskriptif. Pilihan terhadap metoda kualitatif deskriptif didasarkan pada sifat-sifat data yang diperoleh adalah data kualitatif. Pembahasan dilakukan dengan memperhatikan proporsisi pengetahuan kelembagaan yang dikembangkan oleh Lusthaus, et.al. (1995), Esman (1986) dan Uphoff (1986). Responden dalam penelitian ini adalah orang-orang dan lembaga yang memiliki keterkaitan dengan tumbuhkembangnya UMHR Wana Lestari yaitu : Pengurus dan anggota UMHR, Dinas Kehutanan Kabupaten Lumajang, perangkat desa, industri perkayuan, pedagang kayu. Berdasarkan analisis kelembagaan maka dapat dijelaskan bahwa UMHR Wana Lestari sebagai lembaga pengelola hutan rakyat bersertifikat lestari memiliki kapasitas lembaga yang lemah sehingga kinerjanya dalam mereduksi kelemahan karakteristik pengelolaan hutan rakyat guna menjamin kelestarian hutan rakyat belum efektif, tidak efisien dan tidak memiliki kelayakan keuangan, sedangkan dari sisi relevansi, kerangka pengelolaan hutan rakyat sertifikasi belum cukup sederhana untuk diaktualisasikan oleh pemilik lahan dan produknya belum memiliki keunggulan komparatif dalam menunjang kelestarian hutan rakyat.UMHR Wana Lestari sebagai lembaga pengelola hutan rakyat bersertifikat lestari belum melembaga dilingkungannya karena tidak menunjukan adanya peningkatan kemampuan teknis yang memadai, tidak terbentuk komitmen normatif, tidak adanya dorongan inovatif yang memadai, citra lingkungan yang dipandang belum berharga dan tidak terwujudnya efek sebaran.
Privately owned forest is the new belle of the world timber industry in the midst of declining production potential of the State forest. In Lumajang District Sub- District Gucialit there has been a certified Privately Owned Forest Management Unit (POFMU), which is Forest Management Unit Wana Lestari. In order to assess the institutional aspects of certified privately owned forest this study aims to ; 1) Obtain the data and describes performance of certified privately owned forest in Lumajang, 2) Obtain the data and describes the final state institutions - institutional certified privately owned forests in Lumajang. Basic methods used in this study is a descriptive qualitative method. The choice of descriptive qualitative methods are based on the properties of the data obtained are qualitative data. The discussion carried out with due regard proporsisi institutional knowledge developed by Lusthaus, et.al. (1995), Esman (1986) and Uphoff (1986). Respondents in this study are people and institutions that have relevance to the development of Forest Management Unit Wana Lestari that is: Managers and members of FMU, Forestry Service, village officials, timber industry, timber merchants. Based on institutional analysis it was explained that FMU Wana Lestari has a weak institutional capacity so that its performance in reducing the characteristic weaknesses of the management of privately owned forests in order to ensure the preservation of forests has not been effective, inefficient and lacks the financial feasibility, while in terms of relevance, the framework of forest management certification yet simple enough to be actualized by the owner of the land and its products do not yet have a comparative advantage in supporting the sustainability of forests. FMU Wana Lestari as an institution certified privately owned forest management has not been institutionalized in their environment because it does not show the existence of sufficient technical capacity building, normative commitment is not formed, the absence of adequate encouragement of innovative, environmentally-image which is deemed not valuable and not the realization of the distribution effect.
Kata Kunci : Kelembagaan, Hutan rakyat, Unit Manajemen Hutan Rakyat, Sertifikasi