INTERTEKSTUALITAS SULUK SYEKH WALI LANANG DENGAN TERJEMAHAN CENTHINI TAMBANGRARASAMONGRAGA JILID I
PIPIT MUGI HANDAYANI, Prof. Dr. Rachmat Djoko Pradopo
2011 | Tesis | S2 SastraPenelitian ini didasarkan pada masalah mengenai adanya pengaruh karya sastra klasik terhadap karya sastra masa kini. Objek formal dalam penelitian ini adalah intertekstualitas Suluk Syekh Wali Lanang, sebagai teks transformasi, dengan Centhini Tambangraras-Amongraga Jilid I, sebagai teks hipogramnya, sedangkan objek material penelitian ini adalah Suluk Syekh Wali Lanang karya Gamal Komandoko dan Mas Kusumo serta Centhini Tambangraras-Amongraga Jilid I yang merupakan saduran Serat Centhini oleh tim Penyadur Teks Serat Suluk Tambangraras atau Centhini. Secara teoretis, penelitian ini bertujuan untuk memaknai Suluk Syekh Wali Lanang sebagai karya sastra masa kini dalam kaitannya dengan karya sastra klasik, yakni Serat Centhini. Untuk dapat memaknai Suluk Syekh Wali Lanang tersebut maka digunakan metode semiotika Riffaterre yang memandang karya sastra sebagai sesuatu yang bermakna utuh apabila disejajarkan dengan karya sastra sebelumnya. Secara praktis, penelitian ini memberikan informasi kepada pembaca mengenai teks transformasi sebagai karya baru dari teks sebelumnya yang masih berupa karya klasik berbentuk serat Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya makna yang disampaikan Suluk Syekh Wali Lanang sebagai penerus tradisi Centhini Tambangraras- Amongraga Jilid melalui perbandingan struktur pembangun kedua teks tersebut, yakni tema, tokoh, latar dan alur. Pemaknaan terhadap Suluk Syekh Wali Lanang dilakukan dengan tahap-tahap sesuai dengan metode Riffaterre, yakni (1) pembacaan heuristik , (2) pembacaan hermeneutik,(3) penemuan matriks, model, dan varian, (4) menentukan hipogram sebagai cara menemukan intertekstualitas. Hubungan intertekstual antara Suluk Syekh Wali Lanang dengan Centhini Tambangraras-Amongraga Jilid I pada dasarnya adalah pemberian makna supaya cerita lebih terang, jelas dan melanjutkan teks hipogram. Pada hubungan kedua teks tersebut terdapat hubungan timbal-balik antar keduanya, yang terdapat pada unsur-unsur membentuk sastra seperti tema, tokoh, latar, dan alurnya. Suluk Syekh Wali Lanang meneruskan ide Centhini Tambangraras-Amongraga Jilid I dengan menunjukkan persamaan sekaligus pertentangan yang menjadikan cerita menjadi lebih menarik.
The study was based on concerns about the influence of classical literature to contemporary literature. Formal objects in this study is intertextuality of Suluk Sheikh Wali Lanang as text transformation, with Centhini Tambangraras- Amongraga Volume I as a the text hipogram. While the material object of this research is Suluk Sheikh Wali Lanang, the work of Gamal Komandoko and Mas Kusumo and Centhini Tambangraras-Amongraga Volume I, which is an adaptation Serat Centhini by adapter team to the Text of Serat Suluk Tambangraras or Centhini. Theoretically, this study aims to interpret the Suluk Sheikh Wali Lanang as contemporary literary works in relation to the classic works of literature, namely Serat Centhini. To be able to interpret Suluk Sheikh Wali Lanang is then used semiotic methods of Riffaterre who view literature as something meaningful whole when juxtaposed with the previous literature. The results of this study was the discovery of the meaning conveyed Suluk Sheikh Wali Lanang as the successor of Centhini Tambangraras-Amongraga Volume I by comparing the structure of the building the two texts, the themes, characters, setting, and plot. To give meaning Suluk Sheikh Wali Lanang id done by stages in accordance with the method of Riffaterre, namely (1) reading heuristic, (2) reading of hermeneutics, (3) the discovery of the matrix, models and variants, (4) determine hipogram as a way to find intertextuality. Intertextual relationship between Suluk Sheikh Wali Lanang with Centhini Tambangraras- Amongraga Volume I is essentially giving meaning to the story brighter, clearer and continue hipogram text. On the relations between the two texts, there is a reciprocal relationship between the two, found in such literary elements of theme, character, setting, and plot. Suluk Sheikh Wali Lanang forward ideas Centhini Tambangraras-Amongraga Volume I by showing the similarities as well as contradictions that make the story more interesting to readers.
Kata Kunci : Suluk Syekh Wali Lanang, intertekstualitas, hipogram, Riffaterre.