Laporkan Masalah

POLA KERUSAKAN PERMUKIMAN LERENG MERAPI PASCA ERUPSI MERAPI 5 NOPEMBER 2010 DI KECAMATAN CANGKRINGAN

SYAFRUDIN, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D.

2011 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Letusan Merapi tanggal 5 Nopember 2010 merupakan salah satu letusan terbesar yang tercatat sepanjang sejarah Merapi. Salah satu wilayah yang terkena dampak adalah Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman. Pertanyaan penelitian ini adalah “seperti apa sebaran dan pola kerusakan permukiman pasca erupsi Merapi”, “seperti apa kondisi permukiman sebelum dan sesudah erupsi”, dan “seperti apa hubungan antara pola kerusakan permukiman dengan pola bencana erupsi“. Penelitian ini menggunakan metode deduktif- kualitatif. Metode deduktif digunakan sebagai pijakan dan bimbingan di lapangan, metode kualitatif digunakan dalam analisis dan pembahasan. Pola kerusakan permukiman pasca erupsi Merapi 5 Nopember 2010 di Kecamatan Cangkringan, cenderung berbentuk basic silcular dan geometrik linear. Pola basic sircular terjadi secara merata pada radius ± 8 Km dari puncak Merapi, sedangkan pola geometrik linear terjadi pada daerah aliran sungai-sungai besar. Kerusakan yang terjadi mencapai ± 30% dari seluruh wilayah Kecamatan Cangkringan. Pasca erupsi, kondisi Kecamatan Cangkringan mengalami perubahan. Pada radius ± 8 Km dari puncak Merapi, permukiman hancur dan hilang. Terjadi perubahan ketinggian lahan akibat tumpukan lahar di daerah aliran sungai Gendol, hal ini menjadi ancaman bahaya sekunder erupsi Merapi, yaitu aliran lahar dingin pada saat hujan lebat. Sementara itu, masyarakat lereng Merapi yang kehilangan tempat tinggal, tetap tinggal di lokasi sekitar bencana, bahkan sebagian menempati kembali dusun mereka. Pola bencana erupsi membentuk pola kerusakan permukiman di lereng Merapi. Pola bencana ditentukan oleh pola sebaran awan panas dan lahar. Sebaran kedua marterial vulkanik tersebut cenderung mengarah ke semua arah pada radius ± 8 Km dari puncak Merapi, dan meluncur jauh ke aliran sungai-sungai dan lembah. Sehubungan dengan hal tersebut, dan oleh karena erupsi Merapi yang terjadi secara periodik, maka aliran sungai Gendol perlu dibentuk kembali untuk mempercepat terbentuknya alur sungai secara alami, aliran ini perlu sebagai alur luncuran material vulkanik agar tidak menyebar ke permukiman. Areal pada radius ± 8 Km, lembah-lembah yang menghadap langsung ke puncak Merapi, serta daerah aliran sungai-sungai besar, disarankan untuk tidak dijadikan sebagai tempat bermukim tetap oleh masyarakat lereng Merapi.

Merapi eruption on 5 November 2010 is one of the largest eruptions recorded in the history of Merapi. One of the affected areas is the sub-district of Cangkringan, Sleman regency. This research has some questions such as \" as to whether the patterns of settlements damage after the eruption of Merapi, the settlements condition before and after the eruption, and the relationship between pattern of settlements damage to the pattern of eruption disaster\". This study uses deductive-qualitative method. Deductive method is used as a foundation and guidance in the field, qualitative methods is used in the analysis and discussion. The pattern of damage after the eruption of Merapi settlements November 5, 2010 in sub-district of Cangkringan, tends to form basic cilcular and geometric linear. Basic circular patterns occurs uniformly on a radius of ± 8 km from the summit of Merapi, while the geometric linear patterns occurs in the flow of great rivers. The damage reaches ± 30% of all areas of Cangkringan. After the eruption, the sub-district of Cangkringan changed. At radius of ±8 km from the summit of Merapi, settlements were destroyed and gone. There were changes in land elevation due to lava piles in the Gendol River watershed, this is a secondary danger Merapi eruption, that is a cold lava flow during heavy rains. Meanwhile, the people who lost their homes at slopes of Merapi, remain stay in locations around the disaster, even a partial re-occupy their village.. The pattern of eruption disaster gives shape to pattern of damage to settlement on the slopes of Merapi. The pattern of eruption disaster is determined by the distribution pattern of hot clouds and lava. The distribution of these two volcanic marterial likely to lead to all directions at a radius of ± 8 km from the summit of Merapi, and slid away into the flow of rivers and valleys. In connection with this, and because the Merapi eruption occurred periodically, the flow of Gendol river needs to be re-formed to accelerate the formation of the natural river flow, this flow is necessary as the glide path of volcanic material so not spread to settlements. The area in a radius of ± 8 km from the summit of Merapi, the valleys which are facing directly to the top of Merapi, and the watershed of major rivers, not made as a permanent settlements by people of slopes Merapi.

Kata Kunci : Merapi, erupsi, kerusakan, permukiman.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.