Laporkan Masalah

EVALUASI RESPON PENGOBATAN MALARIA DI RSUD SUMBAWA

Tri Widiastuti, Prof. Dr. Mustofa, M.Kes., Apt.

2011 | Tesis | S2 Mag.Farmasi Klinik

Penyakit malaria sudah sejak lama menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di beberapa daerah endemik di wilayah kabupaten Sumbawa. RSUD Sumbawa merupakan RS rujukan untuk pasien malaria yang datang dari berbagai daerah di sekitar Sumbawa. Depkes RI telah menerbitkan Standar Pengobatan Malaria yang dapat digunakan sebagai acuan pengobatan malaria di Puskesmas ataupun RS di Indonesia. Perlu dilakukan pengamatan di RSUD Sumbawa apakah pengobatan yang telah diberikan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan serta hasil pengobatan malaria umumnya belum dilakukan evaluasi secara berkala. Untuk mengetahui respon pengobatan pasien malaria, mengkaji kesesuaian Standar Pengobatan Malaria dari Depkes dengan pengobatan yang dilakukan di RSUD Sumbawa, dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan pengobatan terapi antimalaria. Penelitian observasional yang dilakukan dengan rancangan studi deskriptif evaluatif melalui penelusuran data secara prospektif terhadap rekam medik serta mengikuti perkembangan pasien malaria sampai hari ke-28. Respon pengobatan dari 60 pasien telah sesuai dengan standar Depkes RI. Sebanyak 50 pasien malaria vivax diterapi (klorokuin + primakuin) menghasilkan respon klinis ACPR 47 pasien (94%), ETF 1 pasien (3,33%) dan LPF 2 pasien (4%). Ada 1 pasien malaria vivax diterapi dengan kinin + primakuin menghasilkan respon ACPR. Penderita yang mengalami malaria falciparum sebanyak 7 pasien. Ada 5 pasien malaria falciparum diterapi dengan (sulfadoksin-pirimetamin) + primakuin menghasilkan respon klinik ACPR 4 pasien (80%), LPF 1 pasien (20%). Ada 2 pasien malaria falciparum yang diterapi kina + primakuin menghasilkan respon ACPR. Terdapat 2 pasien malaria mix diterapi dengan ACT (artesunat + amodiakuin) + primakuin menghasilkan respon klinik ACPR. Penggunaan antimalaria di RSUD Sumbawa periode Januari-Maret 2011 sesuai standar dari Depkes. Evaluasi respon pengobatan klorokuin, kina, sulfadoksin-pirimetamin, arsuamoon (artesunat-amodiakuin) kombinasi primakuin menghasilkan ACPR : 93,33%, LPF : 5%, dan ETF : 1,67%

Malaria is a major health problem in some endemic areas in Sumbawa regency. RSUD Sumbawa is a referral hospital for patients with malaria who came from various regions around Sumbawa. Depkes has published the Standard Treatment of Malaria which can be used as a reference treatment of malaria in health centers or hospitals in Indonesia. Sumbawa hospitals need to make observations if the drug is administered in accordance with the standards and then general treatment of malaria has not been conducted regular evaluation. To determine the treatment response of malaria patients, to assess the suitability of the Depkes Malaria Standard Treatment with treatment carried out in RSUD Sumbawa, and find out what factors are influencing the success / failure of antimalarial medication therapy. Observational study conducted by descriptive evaluative study design through data prospectively tracking of medical records and follow up the development of malaria patients to day 28. Observational study conducted by descriptive evaluative study design through data prospectively tracking of medical records and follow up the development of malaria patients to day 28. The treatment of response 60 patients have been in accordance with Depkes standards. A total of 50 patients treated with vivax malaria (chloroquine + primaquine) produces ACPR response 47 patients (94%), ETF 1 patient (3.33%) and LPF 2 patients (4%). There is one vivax malaria patients treated with quinine + primaquine produces ACPR response. Patients with falciparum malaria there are 7 people. There were 5 patients treated with falciparum malaria (sulfadoxinepyrimethamine) + primaquine produce clinical responses ACPR 4 patients (80%), LPF 1 patient (20%). There were two patients with falciparum malaria treated with quinine + primaquine produce ACPR response. There are 2 mixed malaria treated with ACT (artesunate + amodiakuin) + primaquine produce clinical responses ACPR. The use of antimalarials in hospitals Sumbawa period January-Maret 2011 according to the standard of the Depkes. Evaluation of treatment response to chloroquine, quinine, sulfadoxine-pyrimethamine, arsuamoon (artesunateamodiakuin) primaquine combination produces ACPR: 93.33%, LPF: 5%, and ETF: 1.67%.

Kata Kunci : Depkes RI, ACT, ACPR, ETF, LP


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.