SURVIVALITAS RAJA DALAM MEMPERTAHANKAN KEKUASAAN (Studi Kasus Pada Tiga Raja di Kabupaten Buru)
Fandy Umasugi, AA GN Ari Dwipayana, S.I.P., M.Si.
2011 | Tesis | S2 Ilmu Politik minat Politik Lokal & Otonomi DaerahTulisan ini membahas mengenai survivelitas tiga raja dalam menyikapi krisis legitimasi dalam petuanan Lisela, Kayeli, dan Tagalisa di Kabupaten Buru. Raja yang dulunya menjadi sebuah kekuatan besar kemudian hilang akibat dari pengaruh rezim yang berkuasan pada masa itu. Setelah itu raja mencoba untuk kembali survive dengan strategi mengkonversi basic kekuasaan berupa modal sosial, modal politik, dan modal ekonomi yang menjadi kekuatan mereka pada masa kejayaannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggambarkan secara rinci tentang keadaan sesungguhnya dari objek penelitian yang didasarkan pada masalah yang dianggap bersifat umum ke khusus. Dalam penelitian ini memperoleh data dari sumber data primer dan data sekunder, dengan teknik pengumpulan data melalui metode wawancara/interview, observasi dan dokumentasi. Hilangnya legitimasi kekuasaan para raja di Kabupaten Buru disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal. Dalam faktor internal krisis yang terjadi berupa perebutan kekuasaan antara anak raja seperti yang terjadi pada raja Lisela, dan juga krisis yang terjadi antara kepala-kepala soa yang ada dalam petuanan Tagalisa. Di petuanan Kayeli krisis yang terjadi lebih disebabkan karena raja yang sudah tidak lagi mengakui keberadaan wakil raja yaitu raja gunung, ini kemudian menyebabkan hilangnya kepercaayan masyarakat adat terhadap kekuaasan para raja. Sedangkan krisis yang disebabkan karena faktor eksternal lebih disebabkan karena kehadiran Negara, krisis yang terjadi di tiga petuanan ini dilihat dari era Orde Lama dan Orde baru. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang di mainkan ketiga raja ternyata berbeda-beda. Ini disebabkan karena penguasaan raja terhadap basic kekuasan juga berbeda. Misalnya raja Lisela yang mempunyai modal sosial yang sangat kuat namun modal ekonomi dan politiknya lemah. Kemudian raja Tagalisa yang mempunyai modal politik sangat kuat namun lemah pada modal sosial dan modal ekonomi. Raja Kayeli yang mempunyai modal ekonomi sangat kuat namun mempunyai modal politik dan sosial yang lemah. Sehingga untuk kembali survive raja mongkonversikan modal-modal yang ada tersebut. Raja Lisela mengkonversikan modal sosialnya untuk mendapat modal ekonominya kembali, raja Tagalisa mengkonversikan modal politik untuk mendapatkan modal sosialnya, dan raja Kayeli mengkonversikan modal ekonomi untuk mendapatkan modal sosialnya kembali. Dari strategi yang dilakukan oleh para raja tersebut dapat dijelaskan bahwa kebangkitan para raja dipengaruhi oleh 2(dua) hal, yang pertama mereka hanya tampil kembali sebagai sebuah simbolik dari sebuah kerajaan yang pernah ada seperti yang dilakukan oleh raja Tagalisa, yang kedua mereka membangkitan kembali simbolik dari sebuah entitas yang pernah diruntuhkan dan dibiarkan hancur pada 1950-an dan 1960-an seperti yang terjadi di petuanan Lisela dan Kayeli.
This thesis is talk about survavilitas from the three kings in facing the legitimacy crisis in Lisela’s , Kayeli’s and Tagalisa’s kingdom in Buru regent . King that ever used to be a great power went out and disappear because of the regime’s influence at that time . After that , king tried to survive again using strategy of conversion the basic authority with the social capital, politic capital , and economic capital , which ever used to be their power at their prosperity time . This research is a qualitative that describe exactly about the real condition of the research object based on the problem considered as a general problem to a specific problem . This research get the data from the prime data , and the secondary data , using collecting data by the interview , observation , and documentation method . The went missing of the kingdom legitimacy in Buru regent caused of the internal and external factors . In the internal factors , the crisis that happened because of the authority alienation between the king sons just like what happened to Lisela’s kingdom and also the crisis that happened between the chieftain , in the Tagalisa’s kingdom . In Kayeli’s kingdom , the crisis happened because the king was no longer believed in the vice king which is called “Raja gunung†, this thing caused the believe of the native people toward the king went out . Whether the external crisis that happened was because of the appreciation of the people about the nation , the crisis is what happen to this three kingdoms in the old period and the new period . From the research result show that the strategy that has been applied by the three kingdoms was different . This is because of the kings authorization to the basic power was also different . For example , Lisela King has a great power on social capital but weak on the economic and politic capital , Tagalisa King has a great power on the politic capital but also weak on the social and economic capital Kayeli King on the other hand has a great power on economic capital but weak on the politic and social capital . So to get back on their power , and survive for one more time they converse the capitals as one . Lisela king conversed his social capital to get his economic capital back , Tagalisa King conversed his politic capital to get his social capital back , and Kayeli King conversed his economic capital to get his social capital back . From the strategy that had been applied by this three kings , it can be described that resurrection of the kings are influenced by two factors , first one they just get return as a symbolic of the kingdom that ever existed like what Tagalisa King did , the second they raised back the symbolic of an entity that ever destroyed on the 1950th and 1960th just like what happened to the Lisela and Kayeli kingdoms .
Kata Kunci : Strategi Tiga Raja, Survive