Evaluasi program Corporate Social Responsibility sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan sertifikasi sustainable palm oil pada PT Argo Indomas
Suriany, SE, DR. Eko Suwardi M.Sc,
2012 | Tesis | S2 Magister ManajemenBisnis yang ada saat ini mendasarkan keputusan strategik manajemen pada peningkatan penjualan, laba dan tanggung jawab sosial perusahaan. Di era globalisasi, bisnis dikaitkan dengan tanggung jawab sosial dari perusahaan atau yang biasa disebut dengan Corporate Sosial Responsibility (CSR). Tanggung jawab sosial ini tidak hanya dilihat sebagai nilai tambah untuk memajukan keadaan sosial di sekitar perusahaan namun lebih jauh tanggung jawab sosial ini dikaitkan dengan strategi perusahaan untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha pada pangsa pasar yang lebih luas yaitu lintas negara dan lintas wilayah. Saat ini industri minyak kelapa sawit sedang menjadi sorotan dunia karena dianggap tidak secara maksimal memiliki konsep berkelanjutan serta kurang meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sekitar perkebunan dan yang utama menyebabkan kerusakan lingkungan. Sertifikasi RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) yang terdiri dari prinsip dan kriteria kemudian berperan untuk menjembatani antara negara produsen dengan negara konsumen terkait pemenuhan isu perkebunan sawit yang berkelanjutan dan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan. Penulis dalam hal ini melakukan penelitian studi kasus dengan metode analitik kuantitatif dengan cara pengambilan data survey. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi atas keberlanjutan CSR dalam perusahaan. Penulis berusaha untuk menganalisa bagaimana peran CSR yang diterapkan PT Agro Indomas mendukung kelayakan sertifikasi sustainable palm oil / CSPO. Tahapan penelitian yang pertama adalah analisis deskriptif pelaksanaan program CSR untuk mengetahui gambaran penilaian pemangku kepentingan terhadap program CSR yang dilakukan dengan acara analisis kategori dimensi CSR dengan menggunakan instrumen kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 53 orang. Dimensi CSR yang dilakukan mengacu pada Nor Hadi (2011) yaitu lingkungan, komunitas, karyawan, energi, produk dan lainnya. Selanjutnya dilakukan analisa GAP pelaksanaan CSR untuk mendapatkan informasi berupa nilai kesenjangan antara pelaksanaan program dengan tingkat kepentingan yang diharapkan oleh para pemangku kepentingan, sehingga dapat dievaluasi aspek-aspek apa saja yang harus segera diperbaiki dalam pelaksanaan program CSR. Analisis ini meliputi 2 tahapan yaitu mengetahui adanya perbedaan penilaian antara tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan yang dirasakan para pemangku kepentingan, juga menetapkan nilai tengah atau nilai standar dari sudut kepuasan maupun kepentingan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif kuadran important performance analysis (IPA), melakukan evaluasi aspek yang berada pada kuadran keempat dari tahap analisis GAP pertama, yang memiliki interprestasi bahwa aspek-aspek ini merupakan aspek yang dinilai penting oleh para pemangku kepentingan akan tetapi mereka tidak puas dengan kinerja manajemen. Selanjutnya dilakukan analisis SWOT untuk menilai beberapa aspek internal maupun eksternal perusahaan yang kemudian secara teoritik dikategorikan oleh penulis ke dalam peta kekuatan dan kelemahan perusahaan. Analisis ini menggunakan data primer yang didapat melalui hasil analisis terhadap hasil focus group discussion pada harapan pemangku kepentingan, observasi sistem perusahaan di lapangan dan data sekunder berupa kajian literatur. Hasil dari ketiga tahapan tersebut dijadikan data untuk formulasi faktor-faktor CSR dan SWOT perusahaan agar perusahaan dapat menentukan prioritas dalam perbaikan manajemen program maupun manajemen perusahaan guna mendapatkan kelayakan sertifikasi RSPO. Sebuah kuosioner dibuat berdasarkan hasil FGD dan dilengkapi oleh 53 orang responden. Analisa faktor-faktor dominan ini menggunakan analisa statistik inferensial multivariat analisa faktor konfirmatori. Dari rangkaian hasil analisa didapatkan hasil bahwa secara umum program CSR PT Argo Indomas sudah dilakukan dengan baik ini terbukti dari skor pengkategorian seluruh dimensi CSR yang berada pada kategori tinggi. Dari enam dimensi CSR yang dijabarkan dalam 63 indikator, terdapat 39 indikator dianggap penting oleh para pemangku kepentingan. Dari 39 indikator ini ada 21 indikator yang dinilai dinilai belum optimal pelaksanaanya disebabkan aktivitasnya belum sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan. Untuk dimensi CSR dari 6 dimensi yang ada hanya 5 dimensi yang merupakan faktor yang signifikan dalam membentuk variabel CSR. Dimensi karyawan merupakan faktor yang paling dominan dalam program CSR. Selanjutnya dari hasil analisa SWOT terdapat 10 aspek yang menjadi hambatan dan kelemahan perusahaan yang harus ditingkatkan dalam rangka upaya mendapatkan CSPO. Dari 3 dimensi SWOT (lingkungan, ekonomi dan sosial) yang menurut para pemangku kepentingan merupakan kelemahan dan hambatan perusahaan saat ini, ternyata seluruhnya merupakan faktor yang signifikan dalam membentuk variabel SWOT dan dimensi sosial merupakan faktor yang paling dominan yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki indikatornya. Sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan CSPO, penulis menyarankan perlunya disusun langkah-langkah strategis memperbaiki indikatorindikator yang dinilai penting oleh para pemangku kepentingan. Indikator yang perlu diperbaiki tersebut pengelolaan dan pengolahan limbah, riset terkait dengan lingkungan, rehabilitas dan reklamasi lingkungan, sistem manajemen dan tata lingkungan, kepatuhan terhadap peraturan, bantuan perbaikan penerangan jalan dan lingkungan, pengentasan pengangguran masyarakat sekitar perusahaan, peningkatan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat sekitar, bantuan kesehatan, bantuan air bersih, bantuan seni dan budaya, bantuan olahraga, bantuan bencana alam, bantuan sarana ibadah dan publik, kemitraan dan keharmonisan dengan masyarakat sekitar, toleransi antar anggota masyarakat dan antar pemeluk agama, kerjasama lembaga nasional dan internasional dalam pengingkatan kualitas masyarakat, program pemberantasan HIV dan narkoba, jaminan kesehatan, peningkatan keterampilan, pendidikan dan pelatihan, bantuan perumahan dan pendidikan untuk anak dan keluarga karyawan, pelaksanaan corporate code of conduct yang baik, pemberian program cuti dan bias gender.
Businesses today base their strategic management decision in the increase of sales, profit, and social responsibility of companies. In the globalization era, businesses are related to the social responsibility of companies or what is called as Corporate Social Responsibility (CSR). This social responsibility is not only viewed as an added value to improve the social condition in the proximity of companies, but also as a strategy to improve and develop their business on a wider market segment, namely across countries and regions. Currently, palm oil industry is being closely watched by the world because it is not utilizing sustainability concept optimally, not improving the welfare of people living in the proximity of the plantation adequately, and more importantly, is causing damage to the environment. RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) Certification, which consists of principles and criteria, has a role to bridge producer and consumer countries with regards to the fulfillment of sustainable palm oil plantations and Corporate Social Responsibility towards the environment. The author in this case conducts case study research by using quantitative analysis method through survey data collection. The objective of this research is to provide recommendation on the sustainability of CSR in a company. The author attempts to analyze how CSR that is being implemented by PT. Agro Indomas supports the feasibility of Sustainable Palm Oil Certification / CSPO. The first stage of the research is descriptive analysis of the implementation of CSR program to know the assessment of stakeholders on CSR Program, which is done through CSR dimension category analysis using questionnaire with total respondents of 53 people. The CSR dimensions analyzed refer to Nor Hadi (2011), namely environment, community, staff, energy, product, etc. Next, gap analysis is performed on CSR implementation to obtain information in the form of gap value between program implementation and interest level expected by stakeholders, so that aspects that should be improved in CSR program implementation can be evaluated. This analysis includes 2 stages, the first stage is to know the difference between interest level and satisfaction level experienced by stakeholders, and to establish medium or standard value from both satisfaction and interest side using quadrant descriptive statistics analysis, Important Performance Analysis (IPA), which is an evaluation on the fourth quadrant from the first gap analysis stage, in which it is interpreted that these aspects are importantly valued by stakeholders, but they are not satisfied by the performance of management. Next, SWOT analysis is performed to assess some internal and external aspects of the company, which will theoritically categorized by the author into the strengths and weaknesses of the company. This analysis uses primary data obtained through analysis result of focus group discussion on the expectation of stakeholders, observation of company sistem on the field and secondary data of literature research. The result of these three stages is compiled into data to formulate CSR factors and company SWOT so that the company can establish its priority in improving program management and company management in order to achieve feasibility for RSPO certification. A questionnaire is made based on FGD result and is filled by 53 respondents. The analysis of these dominant factors uses multivariant inferrential statistics analysis, Confirmatory Factor Analysis (CFA). From the series of analysis results, in general CSR program of PT. Argo Indomas has been well performed, which is proven by high categorization score of all CSR dimensions. From six CSR dimensions elaborated in 63 indicators, there are 39 indicators which are considered important by stakeholders. Out of these 39 indicators, there are 21 indicators deemed not to have been implemented optimally due to the activities have not fulfilled the expectation of the stakeholders. From 6 CSR dimensions, 5 of them are significant factors in forming CSR variable. Staff dimension is the most dominant factor in CSR program. Furthermore, from SWOT analysis, there are 10 aspects that are the threats and weaknesses of the company that need to be improved to obtain CSPO. From 3 SWOT dimensions, (environment, economy, and social), which according to stakeholders are the weaknesses and threats of the company, all of them are significant factors in forming SWOT variable, and social dimension is the most dominant factor that needs to be developed and its indicators improved. As one of the efforts to obtain CSPO, the author recommends establishing strategic steps to improve indicators that are importantly valued by stakeholders. Such indicators include waste management and processing, research related to environment, environmental rehabilitation and reclamation, environmental planning and management system, compliance to rules and regulations, help repairing road and neighborhood lighting, managing unemployment in the proximity of the company, improving the welfare and economy of the surrounding people, help in health care, clean water, help in art and culture, help in sports, help in relieving natural disaster, praying and public facilities, partnership and harmony with surrounding people, tolerance among members of the community and religious communities, cooperation with national and international institutions to improve people’s quality of life, program to eradicate HIV and drug abuse, health insurance, improving skills, education, and training, help in providing housing and education for the staff’s children and families, implementation of good corporate code of conduct, leave programs and gender bias issues.
Kata Kunci : tanggung jawab sosial, minyak kelapa sawit, sertifikasi RSPO, prinsip dan kriteria, analisis faktor konfirmasi