Laporkan Masalah

EVALUASI IMPLEMENTASI DAN PENCAPAIAN STANDARPELAYANAN MINIMAL DI INSTALASI GAWAT DARURATRSUD KANJURUHAN KEPANJEN YANGBERSTATUS SEBAGAI BLUD

Syarifah Aini, dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH.; Dr.PH dan Ronin Hidayat, S.Pd., M.Kes

2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/MMR

Latar belakang: Sejak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan Kepanjen berstatus sebagai Badan Layanan Umum Daerah penuh, rumah sakit ini menerapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk masingmasing unit pelayanan. Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebagai unit yang paling padat modal, padat karya serta padat teknologi, juga menerapkan SPM. Akan tetapi, pelaksanaan implementasi SPM khususnya di IGD belum diketahui apakah indikator yang ada benar-benar digunakan oleh unit kerja dan organisasi untuk melakukan monitoring kinerja dan mencari peluang dan celah untuk melakukan perbaikan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pencapaian indikator SPM di IGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen serta mengidentifikasi faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pencapaian indikator SPM tersebut. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Pengumpulan data melalui observasi, kuesioner, penelusuran dokumen / arsip dan wawancara mendalam. Subjek penelitian antara lain pasien yang masuk melalui IGD, tenaga pelaksana IGD serta pejabat struktural yang berwenang. Hasil: Pencapaian indikator SPM di IGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen menunjukkan jam buka pelayanan gawat darurat; ketersediaan tim penanggulangan bencana; waktu tanggap pelayanan dokter di gawat darurat; kepuasan pelanggan pada gawat darurat; dan tidak ada keharusan membayar uang muka sudah memenuhi standar. Sedangkan kemampuan menangani life saving anak dan dewasa; pemberi pelayanan kegawatdaruratan yang bersertifikat ATLS / BTLS / ACLS / PPDG; kematian pasien ? 24 jam di gawat darurat belum memenuhi standar. Faktor yang mempengaruhi tercapainya 5 indikator SPM di atas yaitu struktur organisasi yang dikelola dengan baik, sedangkan faktor yang mempengaruhi belum tercapaiannya 3 indikator SPM di atas antara lain belum adanya budaya organisasi di IGD dan pengelolaan sumber daya yang belum optimal. Kesimpulan: Pencapaian indikator SPM di IGD RSUD Kanjuruhan Kepanjen dari delapan indikator, lima indikator memenuhi standar, sedangkan tiga indikator yaitu kemampuan menangani life saving anak dan dewasa; pemberi pelayanan kegawatdaruratan yang bersertifikat ATLS/BTLS/ACLS/PPDG; kematian pasien ? 24 jam di gawat darurat belum memenuhi standar. Faktor yang mempengaruhi tercapainya 5 indikator SPM di atas yaitu struktur organisasi yang dikelola dengan baik, sedangkan faktor yang mempengaruhi belum tercapaiannya 3 indikator SPM di atas antara lain belum adanya budaya organisasi di IGD dan pengelolaan sumber daya yang belum optimal.

Background: Since public hospital (RSUD) Kanjuruhan Kepanjen have status as public service body (BLUD), this hospital apply the minimal hospital services standard (SPM) to each department. Emergency Department (ED) is an unit that high capital, high burden and high technology also apply SPM. However, implementation of SPM specially at ED not yet been known whether existing indicators really used by department and organization monitoring performance and look for the opportunity to repair. Objective: The aim of this study was to measure the attainment of SPM indicators at ED of RSUD Kanjuruhan Kepanjen and also to identify the factor which can influence the attainment of SPM indicators. Method: The method used in this study was case study. The data was collected by observation, questionnaire, investigate document / archives and deep interview. Samples of this study were patients and their families of ED, staff worked at ED and structural functionary in authorities. Result: The attainment of SPM indicators at ED of RSUD Kanjuruhan Kepanjen show the time of emergency services; availability of disaster overcome team; respond time of the doctor services at ED; patients satisfaction at ED; and no compulsion to give down payment have fulfilled the standard. While the ability to handle the life saving of child and adult; ED’s workers have certificate of ATLS / BTLS / ACLS / PPDG; the death of patients before 24 hours at ED have not yet fulfilled the standard. The factor influencing the attainment of SPM is structural organization were managed better, while the factor influencing three of SPM have not been yet fulfilled the standard are cultural organization has not been yet existed at ED and resource management has niot been yet optimum. Conclusion: The attainment of SPM indicators at ED RSUD Kanjuruhan Kepanjen, five indicators have fulfilled the standard, while three indicators else are the ability to handle the life saving of child and adult; ED’s workers have certificate of ATLS / BTLS / ACLS / PPDG; the death of patients before 24 hours at ED have not yet fulfilled the standard. The factor influencing the attainment of SPM is structural organization, cultural organization and resource management.

Kata Kunci : Evaluasi, IGD, SPM, budaya organisasi, struktur organisasi, sumber daya.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.