Laporkan Masalah

PENGEMBANGAN PROTOTIPE SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN KLINIS UNTUK DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN DEMAM BERDARAH DENGUE

SUHARYANTO, dr. Rizka Humardewayanti, SpPD-KPTI

2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/EL

Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan di berbagai belahan dunia khususnya di Indonesia. Kejadian KLB di 12 provinsi dengan jumlah kasus 12.224 orang dan 218 orang meninggal. Penegakan diagnosis dan penanganan DBD memerlukan kecepatan serta ketepatan agar tidak terjadi keparahan penyakit atau kematian. Proses mendiagnosis dan penatalaksanaan DBD oleh klinisi sering terjadi kesalahan karena memiliki kemiripan gejala dengan beberapa penyakit misalnya malaria, typhoid fever, leptospirosis dan penyakit lain. Angka ketidaksesuaian diagnosis dengan Kriteria WHO dalam menangani DBD sekitar 31,1%, salah satu penyebabnya adalah kemampuan klinisi yang kurang sehingga perlu dikembangkan prototipe sistem pendukung pengambilan keputusan klinik dalam mendiagnosis dan penatalaksaan DBD karena SPKK banyak terbukti meningkatkan kecepatan, ketepatan, keakuratan, efisiensi dan efektifitas dalam pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian Mengembangkan prototipe sistem pendukung keputusan klinik dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan DBD yang memiliki validitas atau kinerja sistem yang baik. Metodologi Rancangan penelitian dengan pendekatan action research. Pengembangan sistem dengan prototiping menggunakan rule based dengan format “IF THEN ” untuk mendukung pengambilan keputusan. Hasil Sistem yang dikembangkan diuji dengan membandingkan hasil output dari klinisi dan output dari sistem sesuai 2 guideline (WHO 1997 dan WHO 2009). Pengujian pada klinisi 46 keusioner pada tiap guideline dengan hasil kesesuaian sebesar 22 (47,84%) dan X 2 = 0.087; p= 0.768 pada WHO 1997 dan guideline WHO 2009 sebesar 26 (56,52%) dan X 2 = 0.783; p= 0.376 sedangkan output sistem untuk kedua guidline 100%. Pengujian kedua dengan sampel 108 kasus. Kinerja sistem pada DBD berdasarkan Guideline WHO 1997 adalah 77,78% (X 2 = 2,5; p= 0,114) dan berdasarkan Guidelline WHO 2009 adalah 78,79% (X 2 = 0,831; p= 0,362). Hasil output sistem dan diagnosis dari klinisi tidak terdapat perbedaan yang bermakna dan sistem lebih baik dalam mendiagnosis. Sistem memiliki validitas dan reliabilitas yang baik untuk mendukung pengambilan keputusan klinis mendiagnosis dan penatalaksanaan DBD.

Background Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a health problem in many parts of the world, especially in Indonesia. Outbreaks happens in 12 provinces with a total of 12,224 cases and 218 deaths. Diagnostic and management of DHF are required exactly and accuracy to avoid the severity of illness or death. However clinicians still make misdiagnosis because DHF has similarities with the symptoms of some diseases such as malaria, typhoid fever, leptospirosis, and other diseases. Number discrepancy diagnosis by WHO (Word Health Organization) criteria approximately 31.1% of due to the lack of clinician’s ability in diagnosing. It is a need to develop a prototype of clinical decision support system in diagnosing and management DHF because CDSS (Clinical decision support systems) has been widely shown to increase the exactly, precision, accuracy, efficiency and effectiveness in health care. Aim of the study Developing a prototype of clinical decision support system for DHF diagnosing and managing that have good validity and reliability or good performance system. Methodology This study use action research approach. Development of system with prototyping methods and use rule-based system with the format of \\"IF THEN \\" in support of decision making. Results Clinical decision support systems have been developed and tested by comparing the output of clinician and the output system based on 2 kinds of guidelines (WHO 1997 and WHO 2009). The first test 46 quessionnary data from clinician, the correct result 22 (47,87%), X 2 =0,087, p=0,768 based on WHO 1997 Guideline and 26 (56,52%), X 2 =0,783, p=0,376 based on WHO 2009 Guideline, the output system both guideline are 100%. The second test, 108 cases, the correct result 77.78% (X2 = 2.5, p = 0.114) based on WHO 1997 Guideline and 78.79% (X2 = 0.831, p = 0.362) based on WHO 2009 Guideline. The output system and diagnosis from clinician are not significant difference and the system has higher performance than clinicians. The system has good validity and reliability to support clinical decision making in diagnosis and management of DHF.

Kata Kunci : prototipe, SPKK, diagnosis, penatalaksanaan, DBD, rule based “IF THEN”.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.