PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU BEKERJA DI KOTA LANGSA
Elmida AS, Prof. dr. Djauhar I., SpA(K)., MPH., Ph.D.
2011 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/KIALatar belakang: Sekitar 4 juta bayi meninggal setiap tahun disebabkan penyakit infeksi. Tingginya penyakit infeksi terkait perilaku tidak memberikan kolostrum dan ASI eksklusif pada bayi. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan di Indonesia tahun 2006 sebesar 32,3%, Provinsi NAD tahun 2008 10,39% dan di Kota Langsa 22,93%. Dukungan keluarga, dukungan tempat bekerja ,pengetahuan,dan social ekonomi mempengaruhi keputusan ibu dalam pemberian ASI kepada bayinya. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh dukungan keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif pada ibu bekerja di Kota Langsa, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Metode penelitian: Penelitian ini penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional yang mengambil wilayah penelitian di Kota Langsa. Populasi adalah ibu yang masih aktif bekerja di instansi pemerintah yang memiliki bayi berusia 6 bulan s/d ?? 11 tahun dan bertempat tinggal di wilayah Kota langsa. Pengambilan sampel dengan sistematic random sampling dengan besaran sampel 176 subjek. Analisis data dilakukan dengan uji chi square dan regresi logistik. Hasil: Proporsi ibu yang memberikan ASI eksklusif 21,02% sedangkan yang tidak memberikan ASI eksklusif 78,98%. Mendapat dukungan keluarga 30,11% sedangkan tidak mendapat dukungan keluarga 69,89%. Mendapat dukungan tempat bekerja 39,77% sedangkan tidak mendapat dukungan tempat bekerja 60,23%. Pengetahuan tentang menyusui tinggi 36,36% sedangkan pengetahuan rendah 63,64%, dan status sosial ekonomi cukup 82,38% sedangkan status sosial ekonomi rendah 17,61%. Analisis bivariabel menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga (RP=3,4: 95% CI=1,92-6,02), dukungan tempat kerja (RP=1,78: 95% CI=1,00-3,15), pengetahuan (RP=2,29: 95% CI=1,29- 4,07) dengan pemberian ASI eksklusif. Tidak terdapat hubungan signifikan antara status sosial ekonomi dengan pemberian ASI eksklusif (RP=0,66: 95% CI=0,34-1.26). Analisis multivariabel menunjukkan variabel paling dominan berkontribusi terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan keluarga (RP=3,27; 95% CI=1,87-5,74), kemudian dukungan tempat bekerja (RP=1,83 95% CI=1,07-3,14). Variabel dukungan keluarga, dukungan tempat bekerja dan pengetahuan dapat memprediksi pemberian ASI eksklusif sebesar 11,4%. Kesimpulan: Proporsi pemberian ASI eksklusif pada wanita bekerja lebih tinggi pada ibu yang mendapat dukungan keluarga dibanding ibu yang tidak mendapat dukungan keluarga di Kota Langsa. Faktor dukungan keluarga lebih dominant dibanding dukungan tempat bekerja dan pengetahuan menyusui dalam mempengaruhi perilaku pemberian ASI eksklusif pada wanita bekerja di Kota Langsa. Status sosial ekonomi cukup tidak merubah perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif terhadap bayinya di Kota Langsa.
Background: Estimated 4 million babies die each year due to infectious diseases, related to behaviors in which colostrums and exclusive breastfeeding are not practiced. Exclusive breastfeeding practice given to a baby for six months after birth in Indonesia (2006), in NAD Province (2008) and in Langsa Municipality was 32.3%, 10.39%, and 22.93%, respectively. Family support, workplace support, knowledge, and social economy affect a woman’s decision on breastfeeding her infant. Objective: To find out effects of family support on exclusive breastfeeding practice among working women in Langsa Municipality, Nanggroe Aceh Darussalam Province. Method: This was a quantitative study with a cross-sectional design located in Langsa Municipality. Population was working women in public institutions having a baby 6 months to < 11 years of age, living in Langsa Municipality. Sample taking used systematic random sampling with a sample size of 176 subjects. Data analysis used chi-square test and logistic regression. Result: The proportion of women who gave exclusive breastfeeding and who did not was 21.02% and 78.98%, respectively. The proportion of women who received family support and who did not was 30.11% and 69.89%, respectively. The proportion of women who received workplace support and who did not was 39.77% and 60.23%, respectively. The proportion of women who had higher and lower knowledge about breastfeeding was 36.36% and 63.64%, respectively. The proportion of women who had moderate and low social economic status was 82.38% and 17.61%, respectively. Bivariable analysis showed that there was a significant relationship between family support (PR=3.4: 95% CI=1.92-6.02), workplace support (PR=1.78: 95% CI=1.00-3.15), and knowledge (PR=2,29: 95% CI=1,29-4,07) and exclusive breastfeeding practice. However, there was no significant relationship between socio-economic status and exclusive breastfeeding practice (PR=0.66: 95% CI=0.34-1.26). In addition, multivariable analysis showed that the most dominant variables contributing to exclusive breastfeeding practice were family support (PR= 3.27; 95% CI; 1.87-5.74) and workplace support (PR=1.83 95% CI=1.07-3.14). Family support, workplace support and knowledge could predict exclusive breastfeeding as much as 11.4%. Conclusion: In Langsa Municipality, the proportion of exclusive breastfeeding practice in working women with family support was higher than that in working women without family support. Family support was more dominant than workplace support and knowledge about breastfeeding in affecting exclusive breastfeeding behavior. Moderate economic status did not change women’s behavior in breastfeeding their babies exclusively.
Kata Kunci : ASI eksklusif, dukungan keluarga, ibu bekerja.